Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 224 – KEKUATAN SEORANG PRIEST



“Tuan Leon, bertahanlah. Aku pasti akan segera mengobati luka-luka Anda.”


Dengan sihir sucinya, Albexus segera menutupi luka-luka yang diderita oleh Leon tersebut.


Namun pandangan Leon seketika menegang begitu menatap apa yang ada di belakang Albexus.


“Tidak, Albexus, la… ri.”


Si kumal menembakkan sihir mematikan ke arah Albexus tanpa disadarinya.


Leon yang tepat berada di depan Albexus bahkan tak bisa berbuat apa-apa karena luka-luka yang dideritanya tersebut.


Alice masih dalam keadaan lemahnya setelah beradu kekuatan dengan si mulus.


Akan tetapi di saat itu,


“Takkan kubiarkan demon menjijikkan seperti kalian melukai penyelamat kami!”


“Aaakkkhhh!”


Delapan orang prajurit maju menghalau serangan si kumal.


Serangan itu bahkan membuat Leon, Alice, dan juga Albexus hampir tak berkutik, terlebih lagi jika yang dikenainya hanyalah seorang prajurit biasa.


Kedelapan prajurit itu pun gugur sebagai ganti nyawa Albexus yang dapat selamat.


Sekali lagi si kumal ingin menyerang, tetapi Alice yang telah kembali ke kesadarannya kali ini yang segera menghalau serangan itu.


“Bertahanlah, aku akan mengobati kalian!”


“Tidak… sang… penyelamat.”


Albexus segera ingin mengobati para prajurit yang terluka berat yang masih bisa diselamatkan, namun salah seorang dari mereka segera menolak tegas bantuan itu.


Leon pun menggapai tangan terulur Albexus yang siap melayangkan sihir sucinya sembari menggelengkan kepalanya.


“Tidak, Albexus.”


“Prajurit itu sudah tahu konsekuensinya.”


“Namun mereka memilih untuk melakukannya karena mereka paling tahu keberadaanmulah yang paling dibutuhkan di medan perang saat ini sejak sihir suci paling efektif dalam mengalahkan makhluk kegelapan.”


Sisa-sisa aliran mana yang tersisa di tubuh Leon kemudian dialirkan keseluruhannya kepada Albexus melalui tangan mereka yang saling bersentuhan itu.


“Aku juga tak dapat berbuat banyak lagi jadi sisanya kuserahkan padamu.”


“Tapi kau tak perlu mengkhawatirkanku karena aku akan segera mengungsi ke tempat aman sembari memulihkan staminaku.”


Hampir saja air mata jatuh membasahi pipi mantan putra mahkota Vlonhard yang pengasih itu, tetapi ditahannya.


Dia lantas mengangguk pelan kepada Leon.


“Akh!”


Tak lama kemudian, Alice segera terhempas oleh kekuatan si kumal sejak staminanya telah terlalu banyak digunakan hanya untuk menghadapi si mulus.


Di medan perang itu kini hanya tersisa Albexus seorang untuk menghadapi si kumal.


***


-Slash, slash, slash.


“Sialan! Keberadaan para demon minion ini sangat mengganggu!”


“Ck.”


-Swoosssh.


-Srash.


Sembari menghadapi para demon minion seorang diri, Albert pun mesti senantiasa waspada oleh serangan dari atas oleh sang heavenly four bertanduk yang terbang dengan sangat cepat.


“Ukh. Sialan para otak udang ini!”


Albert ingin melayangkan pedang besarnya ke arah si tanduk, namun sekali lagi terhalang oleh para demon minion.


Albert benar-benar kesulitan dalam bergerak.


***


“Olbero, sekarang!”


“Baik!”


Sementara itu di medan perang lain, aistensi Olbero benar-benar membantu Dokter Minerva dalam menahan serangan supranatural dari si merah.


Ya, Dokter Minerva melakukan upaya terbaiknya secara mati-matian hanya untuk bertahan.


Badai salju, badai api, tornado, magma, meteor, serta petir datang dari masing-masing lingkaran merah yang berbeda yang tepat berada di belakang si merah, menyerang Dokter Minerva dan para prajurit manusia di belakangnya secara bergantian.


Dokter Minerva tidak bisa menghindarinya sebab menghindarinya sama saja dengan membiarkan serangan amat dahsyat itu mengenai para prajurit manusia di belakangnya.


Di antara mereka sebenarnya juga bercampur para demon minion yang juga sedang bertarung melawan prajurit manusia, tetapi sejak awal si merah sama sekali tidak pernah peduli pada nyawa demon-demon minion seperti mereka.


Itulah sebabnya strategi terbaik yang terpaksa digunakan oleh Dokter Minerva adalah dia menahan tiap serangan overpower si merah dengan gaya dan daya yang sesuai agar tidak terjadi impak yang merugikan bagi para prajurit manusia di belakangnya.


Adapun Olbero bertugas mengincar titik lemah si merah untuk menghabisinya.


Berdasarkan pengamatan Dokter Minerva, si merah sama sekali bukanlah mage, necromancer, maupun swordsman berdasarkan aliran mananya.


Satu-satunya kehebatannya berdasarkan analisis aliran mananya hanya ada pada delapan lingkaran merah kecil yang terdapat di belakangnya yang bisa mensummon berbagai fenomena alam yang berbeda.


-Syaaar.


Tanpa diduga-duga, si merah kembali mengaktifkan lingkaran merah yang mendilatasi waktu di saat Olbero tepat akan mendaratkan serangannya seakan telah memprediksi pergerakan Olbero dengan sangat baik.


Olbero pun salah memperhitungkan jarak dan malah berakhir di hadapan salah satu lingkaran merah si merah yang lain.


Badai salju.


“Olbero!”


Melihat ekspresi putus asa Dokter Minerva, si merah seketika tersenyum dengan menjijikkan.


Itu sangat sulit dibedakan dengan bentuk mulutnya yang asli karena saking berbedanya bentukannya dengan rupa manusia.


Tapi Dokter Minerva bisa tahu bahwa si merah sedang tersenyum untuk mengejeknya.


Namun berbeda dari harapan Dokter Minerva, begitu pula dengan si merah, Olbero sama sekali tidak menahan serangan badai salju tersebut.


Olbero lebih memilih menghancurkan satu lingkaran merah.


Akibatnya dia pun tergeletak tak berdaya karena terkena hipotermia setelah terkena serangan badai salju.


Namun itu sepadan karena satu lingkaran merah telah berhasil disingkirkan yang berarti si merah takkan sanggup lagi mengeluarkan jurus badai salju.


“Manusia sialan!”


Teriak si merah dengan marah.


***


“Apa yang harus kulakukan?”


Albexus tampak ketakutan.


Dia walaupun sejatinya memiliki kelas priest, dulu dia menyembunyikan hal itu dan malah kebanyakan berlatih dengan pedang seolah dia adalah seorang swordsman.


Semua itu dia lakukan demi mempertahankan jabatan putra mahkotanya demi ibunda tercintanya, perihal sang ayah sangatlah tidak menyukai Albexus perihal kelembutan hatinya dan bersiap untuk menjatuhkannya kapan saja begitu mengetahui kelemahannya.


Di Vlonhard, keberadaan yang tidak bisa bertarung di barisan depan seperti priest adalah aib besar bagi keluarga kekaisaran.


Albexus telah terbiasa bertarung di barisan depan, tetapi itu sebagai swordsman.


Itu pun dia selalu dilindungi oleh para bawahannya di sekitarnya.


Namun kini untuk pertama kalinya dia harus bertarung sendiri, itu pun bukan sebagai swordsman, melainkan sebagai priest.


Sejatinya, Albexus adalah seorang priest berbakat yang telah mencapai ke ranah grand priest dan bahkan mewarisi buku kebijaksanaan Liza.


Namun, dia bingung bagaimana bisa dia menggunakan sihir pemulihannya itu untuk mengalahkan sang lawan?


Dia mengambil referensi dari apa yang diinstruksikan oleh Leon sebelumnya bahwa serangan seperti sacred revive yang seharusnya menyembuhkan semua party yang berada di ranah areanya, justru memberikan damage hebat kepada para demon.


Tapi bagaimana cara dia bisa melakukannya kembali?


Ketika dia lengah dan merenggangkan pertahanannya pada saat mengeluarkan jurusnya, pasti itu segera akan dimanfaatkan oleh si kumal untuk menghabisinya.


-Tuak, tuak, tuak.


Yang bisa dilakukannya saat ini yang terbaik adalah bertahan dari tembakan sihir si kumal.


Namun seketika, buku kebijaksanaan Liza mempertunjukkannya ingatan berbagai pahlawan pendahulunya tentang bagaimana bertarung sebagai seorang priest.


“Aku mengerti sekarang. Sihir penyembuhan tidak hanya untuk perlindungan. Itu juga bisa melawan makhluk jahat yang menyakiti rekanmu!”


Barier putih bersih nan setengah bening Albexus yang mulanya berbentuk setengah bola, mulai mengerut lantas itu akhirnya hanya menempel di sekitar kulitnya saja.


Tidak, itu bukan lagi barier, melainkan tameng.


Albexus pun mengambil salah satu pedang yang ditinggalkan oleh prajurit yang telah meninggal yang turut dilapisinya dengan barier sucinya lantas dia pun menyerang langsung si kumal seolah barier suci itu bertindak sebagai perlindungan aura bagi para swords master.


Namun itu jelas berbeda.


Itu tidak memantulkan serangan, tetapi menetralkannya.


Entah apa yang dipikirkan oleh Albexus, tetapi walaupun sihir sucinya itu melidunginya dari benturan, rasa sakitnya akan tetap terasa bagaikan kamu melidungi kepalamu dengan selimut tipis ketika terjatuh.


“Hiyaaat!”


Walau demikian, tidak ada keraguan sedikit pun di mata Albexus dalam melayangkan pedangnya.


Barier suci dan dan barier pelindung sihir si kumal saling berbenturan.


Cahaya seketika melenyapkan kegelapan dan Albexus dengan mudah menembus barier sihir si kumal lantas mengenainya dengan pedangnya.


-Tak.


“Ukh. Manusia sialan ini!”


Tetapi itu tidak melukainya sama sekali.


Lagipula bakat Albexus sedari awal adalah di sihir pemulihan, bukanlah di pedang.


Namun itu telah cukup.


“Kerja bagus, Yang Mulia!”


Perisai Alkasa akhirnya mampu menangkap si kumal mentah-mentah yang selama ini dilindungi oleh barier-nya lantas menelannya hidup-hidup.


Kemenangan buat Alice.