
Ini berawal ketika kombinasi yang tak biasa itu terlihat. Nunu, Olo, dan Adam, masing-masing duduk berdampingan untuk menyantap bekal makan siang mereka.
Adam terlihat sangat bahagia menikmati roti sandwich yang diberikan oleh salah satu pelayan kepadanya. Walau begitu, tetap tak ada satu pun patah kata yang diucapkannya untuk mengungkapkan kebahagiaannya itu.
Hal itu tampak membuat Nunu merasa aneh, terlebih sepengetahuannya, Adam bukanlah orang yang bisu.
Nunu akhirnya jahil mencolek-coleki pipi Adam.
-Tuk, tuk, tuk.
Namun berapa kali pun terlihat Nunu mencolek-coleki pipinya, Adam tetap sama sekali tak mengeluarkan suara, walaupun ekspresinya menunjukkan kekesalan.
“Tuan Adam pendiam sekali ya?”
-Tuk tuk tuk. Tuk tuk tuk. Tuk tuk tuk.
Tapi begitulah Nunu, tak akan pernah menyerah dalam menjahili orang yang dianggapnya pendiam sebagaimana dia dulu sering menggangguku di laboratorium. Akhirnya, Adam yang kesal pun untuk pertama kalinya mengeluarkan suaranya yang bisa didengarkan oleh Nunu.
“Hentikan, geli tahu!”
Walau hanya beberapa patah kata, Nunu terkesima. Rupanya Adam adalah seorang pemilik suara yang sangat karismatik bahkan tak bisa tergambarkan dengan kata-kata.
Aku yang sedari tadi menyaksikan pemandangan itu dari jauh sejak mereka pertama kali mereka berkumpul merasa itu adalah sesuatu yang sangat lucu hingga aku pun tidak bisa lagi menahan tawaku karena tingkah unik mereka.
Tawaku rupanya cukup keras sehingga hal itu bisa didengarkan oleh Nunu dan kawan-kawan.
“Ah, Tuan Helios.”
Namun, ekspresi Nunu yang awalnya ceria itu seketika berubah menjadi muram. Dia hanya menunduk 90 derajat ke arahku lantas meninggalkan tempat itu secepat kilat bahkan tanpa menghabiskan bekal makan siangnya.
“Hei, Nunu.”
Namun Nunu terlanjur lari dan berpura-pura tak mendengarkan panggilanku padanya.
Nunu jelas masih mengingat kejadian penolakan di depan umum itu.
Awalnya, aku berencana untuk mendiamkannya saja sejenak hingga perasaannya kembali baikan. Namun hubungan kami malah kian merenggang dan ini membuat perasaanku mulai menjadi tidak nyaman.
Malam itu pun, tanpa pemberitahuan, aku datang untuk menyergap Nunu di dalam kamarnya.
“Ah, Tuan Helios?!”
Hanya dengan menatap wajahku saja, Nunu mulai terlihat panik.
“Bagaimana kalau main ular tangga sejenak?”
Nunu berusaha sekuat tenaga menghindari kontak mata terhadapku, tetapi aku terus berupaya merubuhkan dinding es yang berusaha dibangun oleh Nunu itu di antara kami. Salah satunya adalah melakukan hal-hal yang Nunu sukai yang dulunya sering kami lakukan bersama ketika sebaliknya Nunu yang sering datang mengacaukan konsentrasiku di laboratorium.
“…”
“Apa sekarang Nunu sudah membenciku? Apa aku bukan mesin pendingin ruangan yang baik lagi buat Nunu?”
“Bukan begitu, Tuan. Kini aku sadar bahwa aku sudah dewasa sehingga tak pantas lagi melakukan tingkah kekanak-kanakan seperti itu.”
Aku berupaya sekuat tenaga meniru ekspresi muka memelas gaya Albert ketika dia tidak ingin dipisahkan jauh bersamaku.
“Sudah kuduga, aku ini lemah dalam berteman sehingga temanku yang sudah sedikit ini saja sekarang malah ingin menjauhiku.”
“Tuan! Itu salah, Tuan! Anu… Aku hanya merasa tak pantas berada di sisi Tuan, terlebih dengan mata merahku ini yang sering dianggap sebagai jelmaan iblis oleh para bangsawan. Terutama setelah kejadian itu… mereka sering mengolok-olokku sebagai bahan candaan.”
“Apa sungguh perkataan orang lain jauh lebih penting dariku? Terlebih, jika berbicara sebagai jelmaan iblis, bukankah aku lebih kasihan dari Nunu? Tahu sendiri kan bahwa aku lebih sering dihujat oleh orang-orang perkara warna mata dan rambutku ini yang segelap abyss.” Aku merasa tampak semakin lihai memainkan ekspresi memelas gaya Albert itu.
“Tentu tidak, Tuan.”
“Begitu? Jadi kita menjadi teman lagi kan?”
“Horee!”
Aku kemudian melakukan beberapa trik lanjutan gaya Albert yang biasa digunakan oleh Albert untuk meluluhkan hatiku ketika aku marah kepada Nunu, lantas aku mulai membuat Nunu terperangkap dalam rasa kenyamanan memainkan permainan bersama kesukaannya, ular tangga, dengan snack kesukaannya pula. Sudah kuduga, tiada jalan yang paling mudah selain menggodanya dengan permainan dan cemilan untuk merebut hati gadis polos ini.
Walau aku tidak bisa mencintai Nunu, aku tidak ingin kehilangannya sebagai sahabat. Bagiku, Nunu adalah segelintir orang yang membuatku merasa nyaman bersamanya karena bebas dari prejudice tentang jati diriku. Dia adalah seorang teman yang berharga.
Aku bisa menyimpulkan bahwa masalah mendasarku terhadap Nunu sudah selesai, walaupun tetap saja takkan mungkin lagi sebaik dulu perihal tak ada luka yang timbul yang bisa dipulihkan seutuhnya.
Aku kembali ke kamar dan rupanya di situ telah menunggu Yasmin yang tampaknya sedari tadi mencari keberadaanku yang menghilang.
“Oh, aku tidak menyadari ada masalah seperti itu terhadap gadis itu rupanya. Pantas saja dari tadi kucari-cari Master, tak kelihatan.”
“Begitulah, kini kami telah baikan.”
Entah mengapa aku bisa merasakan sedikit tatapan rumit dari Yasmin terhadapku.
“Master, anu…”
Aku sebenarnya adalah orang yang peka, walau terkadang aku berpura-pura tidak peka untuk memuluskan suasana. Nunu yang awalnya kekanak-kanakan memang adalah suatu kejutan, tetapi aku paham benar perasaan suka Yasmin padaku bukan lagi sekadar rasa suka seseorang terhadap tuannya. Itu adalah benih-benih cinta.
Malam yang sunyi ditambah hanya ada kami berdua di dalam ruangan dengan suasana yang mendukung. Bukankah itu waktu tertepat untuk menyatakan perasaan?
Aku tidak ingin kejadian seperti Nunu terulang lagi untuk yang kedua kalinya yang akan berakhir merenggangkan hubungan kami berdua lantaran penolakan cinta. Aku pun berusaha sekuat tenaga untuk mencegah Yasmin berbicara topik itu dengan mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain.
“Malam ini sejuk ya, ditambah teh buatan Yasmin, benar-benar perpaduan yang sempurna.”
Biasanya ketika aku telah memuji tehnya, muka Yasmin telah akan merona puas sehingga dia takkan lagi sanggup berkata apa-apa. Namun, tampaknya malam itu tidak demikian. Yasmin telah membulatkan tekadnya.
Aku awalnya sudah merasa pesimis karena berpikir mungkin sudah terlambat untuk mencegahnya. Namun siapa sangka, Yasmin menyatakan perasaannya padaku hanyalah delusiku semata. Bukanlah hal semacam itu yang ingin Yasmin utarakan padaku.
“Bagaimana pendapat Master mengenai witch?”
Tetapi itu adalah pertanyaan absurd yang entah bagaimana caranya terpikirkan oleh Yasmin. Aku berusaha menganalisa beberapa kemungkinan maksud tersembunyi yang terpikirkan oleh Yasmin ketika mengajukan pertanyaan itu.
Hal yang paling mungkin adalah Yasmin takut oleh kegilaan tersembunyi yang ada di dalam diriku yang sempat aku tunjukkan padanya kala itu ketika aku melawan witch. Yasmin tampak mengkhawatirkan rasionalitasku apakah berada dalam ranah yang parah.
Jadi jelas jawaban apa yang harus kuberikan. Aku harus menjawab dengan senormal mungkin tanpa menunjukkan prejudice berlebihan kepada witch, di lain pihak menyetujui potensi bahaya sang witch.
“Mereka adalah eksistensi berbahaya yang menyerahkan dirinya kepada Raja Iblis untuk mendapatkan kekuatan yang menentang hukum alam.”
Namun ketika aku menjawab demikian, bisa kutangkap ekspresi sedih di balik wajah Yasmin. Apa ini? Apa Yasmin merasakan sedikit simpati kepada para witch? Ini jelas tidak boleh dibiarkan, terlebih Yasmin memiliki bakat mana yang tinggi sehingga dia adalah kandidat yang cocok menjadi incaran Raja Iblis untuk menjadi witch yang baru.
Aku harus segera meluruskan pemikiran Yasmin bahwa tak baik kita berharap dengan harapan yang terkabulkan secara instan namun harus kita bayar konsekuensinya selamanya. Jelas para witch adalah manusia gagal sejak mereka menjual jiwa mereka kepada iblis yang tak layak sedikit pun mendapatkan simpati Yasmin.
“Jadi Master pun berpikir demikian. Lantas, apakah mereka tidak layak hidup bahagia layaknya wanita lain seperti menikah dan punya anak, Master?”
“Punya anak? Bagaimana caranya? Sejak witch itu menyerahkan jiwa dan raganya kepada iblis lantas terkontaminasi oleh mana mati, mereka akan menjadi mandul jadi mana mungkin mempunyai anak? Lagian, walau tampak dari luar masih muda, witch itu kebanyakan sudah berusia ratusan bahkan ribuan tahun. Untuk berpikir seorang pemuda tertipu oleh mereka lantas menikahi mumi, itu benar-benar membuatku jijik.”
“Jadi begitu ya, Master. Mereka menurut Master tidak layak ya bahagia?”
Aku menggeleng terhadap pertanyaan Yasmin itu.
“Mereka bisa bahagia selama mereka rela melepas sumber malapetaka yang telah melekat pada diri mereka itu, walaupun itu pastinya akan menyebabkan kematian instan pada mereka sejak manusia sejatinya tidak dapat melawan usia.”
“Tapi bagaimana kalau seandainya witch itu tidak bisa melepasnya walaupun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan kekuatan yang sebenarnya sedari awal tidak diinginkannya?!”
Aku tiba-tiba merasakan emosi yang sangat kuat dari Yasmin. Namun apa hal tersebut? Apa yang menyebabkan Yasmin begitu marah pada ucapanku itu?
Alih-alih menginginkan kekuatan witch, Yasmin lebih seperti witch itu sendiri yang ingin lepas dari belenggunya. Tidak mungkin kan kalau apa yang kupikirkan itu benar? Itu tidak mungkin sejak aku tidak bisa merasakan sedikit pun mana mati di dalam diri Yasmin, padahal aku adalah orang yang sangat sensitif terhadap aliran mana.
“Maaf, Master. Bukan maksudku membentak Anda. Mungkin ini pengaruh kondisi tubuhku saja yang kurang enak badan malam ini. Kalau begitu saya permisi dulu. Silakan nikmati teh Anda.”
Sebelum aku dapat mencerna situasi yang ada, Yasmin telah pergi duluan. Seandainya aku tahu kala itu bahwa itulah titik di mana Yasmin akan menghilang dari sisiku, sudah pasti dia akan kucegah untuk pergi dari ruangan itu apapun konsekuensinya.