
“Tolong, tolong, tolong aku, Nona Cassandra. Tolong selamatkan anak ini.”
Bisa kulihat raut wajah putus asa Shipton mencari bantuan untuk menyelamatkan Noel Dumberman. Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah terjadi? Luka-luka Noel Dumberman adalah sesuatu hal, tetapi itu belum sampai mengancam jiwanya. Lantas apa yang menyebabkan Madam Shipton sampai sepanik itu?
Kalau berdasarkan hikayat, sifat Madam Shipton seharusnya setidaknya tidak jahat. Dia lebih ke arah mudah dibodohi dan dimanipulasi karena keluguannya yang akhirnya mengarahkannya sampai tersesat di jalan iblis. Itulah yang membuatku khawatir tentang di balik tindakannya ini. Jangan-jangan, ini adalah suatu bentuk muslihat Raja Iblis.
Lagipula, kita tidak pernah tahu bagaimana waktu bisa merubah sifat seseorang apalagi jika itu telah berjalan selama lebih dari empat ratus tahun.
Apakah Noel Dumberman benar-benar membutuhkan bantuan atau itu semacam siasat, aku benar-benar sulit untuk menentukan.
“Anak ini… anak ini hanya ingin membantu kakaknya, tetapi Nyonya Isis-lah yang telah merusaknya, Nona Cassandra.”
Isis. Witch terakhir yang belum pernah kutemui, sekaligus sebagai pelaku yang sempat mengubah wujud Yasmin menjadi kura-kura, sang witch objek Isis.
Kulihat, Yasmin hanya terdiam sembari memandangi wajah Madam Shipton yang berlutut memohon pertolongan di hadapannya dengan ekspresi panjang di wajahnya. Sedikit banyak aku telah bisa memahami sampai taraf tertentu ekpresi wajah Yasmin yang hampir tanpa ekspresi itu. Itu adalah ekspresi di kala dia benar-benar berpikir untuk bisa membantu, tetapi terhalang oleh sesuatu. Dan itu pasti akulah alasan yang menyebabkannya tak enak untuk melakukannya.
“Kumohon, selamatkan anak ini. Selamatkan Nak Leon dari amukan amarah Nyonya Isis, Nona Cassandra.”
Air mata semakin mengalir deras di mata tua keriput milik Madam Shipton. Tetapi tunggu dulu… Nama apa tadi yang dipanggilkannya kepada Noel Dumberman?
“Leon? Kenapa Anda memanggil Noel Dumberman sebagai Leon?”
Bukan aku, tetapi Alice-lah yang akhirnya bertanya.
Madam Shipton pun menggelengkan kepalanya sembari masih tetap dalam isak tangisnya.
“Noel Dumberman, tidak, Noel, sebenarnya hanyalah nama samaran yang diberikan oleh Nyonya Isis kepada Nak Leon, kemudian Nak Leon sendiri yang menambahkan di belakangnya dengan kata Dumberman, katanya sebagai pengingat kebodohannya di masa lalu. Dia sejatinya adalah adik kandung Anda, Nak Helios, yang ditemukan oleh Nyonya Isis sekarat dalam luka-luka parah delapan tahun silam.”
Seakan terasa ada sambaran petir mengarah di kepalaku. Apa yang telah dikatakan witch ini? Aku segera ingin menampar mulutnya yang berusaha menebarkan kebohongan itu. Namun di kala aku mengingat kembali bahwa wajah Leon dan Noel Dumberman memang memiliki banyak sekali kemiripan di luar dari sisik-sisik Noel Dumberman, aku justru jadi bingung.
Aku bahkan juga sempat mengira Noel Dumberman adalah Leon, tetapi setelah mengetahui kemampuan fisik dan berterungnya, aku meyakini diriku sendiri bahwa itu salah perihal Leon tidak mungkin akan sehebat dan setangguh Noel Dumberman seberapa banyak pun dia akan berlatih.
Ada gap yang jelas di antara Leon dan Noel Dumberman bagaikan membandingkan seorang jenius dengan seorang yang memang sudah melampaui kemanusiaan, tidak bisa dibandingkan. Karakteristik bertarung mereka sangat berbeda.
Lebih mudah mengubah kebiasaan gerak-gerik tubuh daripada karakteristik bertarung yang benar-benar mengandalkan insting indera keenam manusia sehingga Leon dan Noel Dumberman yang sangat berbeda karakteristik bertarungnya itu jelas pastinya adalah orang yang berbeda.
Namun sang nenek tua yang ada di hadapanku saat ini baru saja bilang bahwa Noel Dumberman adalah Leon?
“Ah.”
Yasmin tiba-tiba saja berekspresi seakan mengingat sesuatu yang penting.
“Kalau tidak salah sewaktu Tuan Leon menghilang hari itu, kebetulan Isis juga datang menemuiku lantas mengatakan sesuatu bahwa dia menemukan pemuda penggantinya yang hilang karena direbut olehku di tempat ini. Dengan mencocokkan apa yang dikatakan oleh Shipton, bisa jadi kalau Isis waktu itu memang menculik Tuan Leon di hari dia dinyatakan meninggal.”
Aku sebenarnya juga penasaran pada bagian apa yang dilakukan oleh Isis saat itu menemui Yasmin. Namun yang lebih penting daripada itu,
“Pemuda pengganti yang hilang karena direbut olehmu?”
“Ah. Aku sebenarnya juga tidak pernah tertarik dengan pemuda peliharaan milik Isis itu, Master. Tetapi tampaknya kecantikan wajahku telah menghipnotisnya sendiri sehingga mengutarakan cintanya padaku. Isis pun jadi marahnya padaku lantas mengubah wujudku menjadi kura-kura es. Adapun pemuda itu tampaknya telah mati dibunuh oleh Isis sendiri karena merasa mainannya rusak lantas dia mencoba lagi mencari pemuda peliharaan baru.”
Aku benar-benar salut pada Isis yang menganggap pemuda-pemuda itu sebagai life stock. Dia benar-benar hidup sebagai seorang witch. Namun yang tak kalah membuatku pangling, bisa-bisanya Yasmin mengatakan sendiri kalau wajahnya itu cantik dengan ekspresi sedatar itu. Yah, setidaknya Yasmin harusnya menunjukkan ekspresi blush malu-malu kan? Tapi karena itu Yasmin, seharusnya memang sudah begitu.
Jadi, apakah Noel Dumberman adalah benar-benar Leon? Masih banyak hal yang aku ragukan, tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk menolong Noel Dumberman saat itu.
“Untuk sementara, Yasmin, ayo kita sembuhkan luka-luka Noel Dumberman terlebih dahulu.”
“Tunggu, Master. Sebaiknya aku menggunakan mana mati saja untuk menyembuhkannya. Itu akan jauh lebih efisien bagi tubuh Noel Dumberman sekarang.”
“Tidak. Itu tidak perlu. Kita sembuhkan saja apa yang masih suci dari dirinya. Mari kita gunakan kekuatan suci.”
Aku pun meminta Yasmin untuk menyupportku menggunakan kekuatan suci pada Noel Dumberman. Seketika luka-luka di bagian kulit dalamnya tersembuhkan, namun mana mati yang melekat pada sisik-sisiknya semakin bergerak secara liar begitu berinteraksi terhadap kekuatan suci. Setidaknya bagian manusia Noel Dumberman tersembuhkan, hanya saja bagian sisik-sisiknya yang berasal dari kegelapan semakin terdeteriorisasi.
Aku memutuskan untuk memanggil sosok itu dengan nama Leon untuk sementara waktu, walaupun aku sejatinya masih meragukan identitasnya apakah benar Leon atau bukan.
“Padahal aku sama sekali tak berharap bahwa ada saatnya identitasku ini akan ketahuan. Madam Shipton telah melakukan sesuatu yang tak perlu.”
“Jadi kau benar-benar mengakui bahwa kau adalah Leon?”
“…”
Namun hanya raut wajah sendu yang dipancarkan oleh sosok itu padaku tanpa menjawab pertanyaanku yang selanjutnya.
“Kamu tak ingin mengatakan sesuatu?”
“Leon yang Kakak kenal sudah lama mati, Kak Helios. Karena sekarang tubuh ini telah bergabung dengan tubuh kegelapan yang secara perlahan hanya akan tekonsumsi olehnya demi kepentingan sang Raja Iblis.”
Padahal tidak ada bukti otentik yang mendukungnya, tetapi entah mengapa aku bisa merasa teryakinkan bahwa itu benar-benar adikku Leon.
Akankah sekarang aku bisa senang lantas memeluknya jika dia memang benar-benar Leon?
“Le…”
Namun, sebuah sosok pun kembali datang dari atas udara ke tempat itu.
Sayangnya, ketenangan itu tidak bisa berlangsung lama. Sang momok yang sedari tadi ditakuti oleh Madam Shipton benar-benar muncul di tempat kami, sang witch objek Isis.
Dengan bertemu langgsung dengannya, itu berarti aku akhirnya sudah bertemu semua dengan para the great five witch legion Raja Iblis dengan Isis sebagai orang terakhirnya sekaligus pemimpin dari legion tersebut.
Ini pertama kalinya aku melihatnya secara langsung walaupun aku sudah sering mendengar Yasmin menyebut-nyebut namanya karena dialah sosok yang bertanggung jawab telah merubah Yasmin menjadi seekor kura-kura es dulunya.
Kecantikannya jelas jauh melebihi level baik Angele maupun Marie. Namun demikian, ketika kumemperhatikan ekspresi di wajahnya secara seksama, seketika rasanya tanda seru muncul di atas kepalaku. Sekarang aku paham mengapa pemuda itu memilih meninggalkan sang pemilik Isis untuk menyatakan cintanya kepada Yasmin. Jelas kecantikan Yasmin jauh lebih superior dibandingkan dengan Isis.
Bagaimana mengatakannya ya? Walaupun cantik, ada nuansa tua dan horor melekat pada wajahnya yang menyebabkan para pria sulit memfantasikannya sebagai wanita dalam khayalan nakal mereka. Tentu saja pastinya ada saja pria aneh di luar sana yang memiliki fetish aneh dengan tipikal wajah Isis, setidaknya pemuda normal tidak akan pernah demikian.
Tetapi berdasarkan keterangan Yasmin, kekuatan Isis pula tidak bisa dibandingkan dengan sekadar kekuatan Angele dan Marie yang jelas tidak ada apa-apanya. Bahkan menurut Yasmin, Isis sangat jauh lebih kuat dibandingkan dirinya. Jadi seberapa kuat dia? Apakah dia ada di atasku atau di bawahku? Tiada jalan untuk mengetahuinya selain bertarung secara langsung.
“Jadi pada akhirnya kau merangkak di kaki kakakmu untuk mencari pertolongan ya, Leon?”
Terhadap perkataan yang diucapkan Isis itu dengan pembawaannya yang terlihat sangat angkuh, gigi-gigi Leon mengeletup. Entah itu karena dia merasa terhina ataukah itu adalah ekpresi rasa takut Leon terhadap sosok mutlak yang berdiri di hadapan kami saat ini.
Aku pun secara kasar bisa merasakannya dari jumlah mana mati luar biasa yang ditampung di dalam tubuh witch-nya yang menjijikkan itu, dia mungkin akan menjadi lawan terhebat yang pernah aku hadapi saat ini, bahkan melebihi hebatnya Kaisar Ethanus.
“Hei, Nenek Tua. Apakah karena usiamu sudah sangat tua sehingga kamu sudah melupakan etika sopan santun? Kamu seharusnya tahu kan bahwa apa yang mesti dilakukan terlebih dahulu terhadap orang yang baru kau temui?”
Sembari aku mengucapkan kalimat itu, perhatian Isis tertuju padaku. Bisa kulihat dengan jelas tanda silang di pelipisnya itu. Sudah kuduga, witch mana pun yang disinggung usianya, tidak akan ada pernah ada yang bisa melewatkannya tanpa emosi memuncak di ubun-ubun mereka. Bahkan ekspresi Isis rupanya jauh lebih menarik daripada Marie maupun Angele.
“Ah kau kah sang terpilih itu? Aku sudah lama mengawasimu dari jauh, tapi tampaknya ini pertemuan pertama kita…”
“Ish.” Ujarku sesegera mungkin memotong pembicaraan Isis dengan sengaja.
“Pantas aku kadang-kadang sering menggigil sendiri. Siapa yang bisa tahan kalau diawasi oleh seorang nenek tua yang pura-pura cantik tapi buruk rupa aslinya.”
“Hmm.”
Ekpresi Isis adalah memang sesuatu seperti yang kuharapkan, namun aku sampai lupa bahwa juga ada seorang witch lain di sampingku selama ini.
Yasmin, seharusnya dari konteks kalimatku, kamu harusnya paham kan bahwa hinaanku itu tidak tertuju padamu? Jadi tidak usah berekspresi cemberut begitu, oke?
Namun tanpa kusadari, Isis yang marah lantas dengan cepat melayangkan jurus objeknya ke arah kami.