Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 182 – KEKUATAN TRIO RATU



Situasi kian memanas di timur benua. Alice dan Buron entah bagaimana bisa meredam situasi di bagian utara. Sementara itu, Stephanus dan Swein meredam situasi di bagian selatan. Namun itu bukanlah akhirnya.


Kerajaan dan kekaisaran yang telah lama membidik Kekaisaran Meglovia akhirnya menunjukkan taring mereka. Dengan alasan memberikan bantuan perdamaian, Kekaisaran Tong Kong mulai mengirimkan prajuritnya ke timur laut benua. Sementara itu, Kerajaan Maosium sekali lagi ingin mencoba peruntungan mereka menaklukkan bagian selatan benua.


“Apa yang harus kulakukan? Pasti Mas Lou akan sedih jika selama kepergiannya, kami tidak bisa merawat rumah kita dengan baik.”


Melihat Talia yang mondar-mandir dengan gelisah, Vierra tetap tenang dalam menyesap teh yang ada di atas mejanya.


“Talia, duduklah dan tenangkan dirimu sembari minum teh. Mari kita berupaya menyelesaikan masalah ini dengan kepala yang sedingin mungkin.”


“Kak Vierra.”


Talia yang sedih pun memeluk Vierra sembari melampiaskan segala gundahnya itu lewat air mata.


“Tenang. Tenanglah, Talia. Lusiana juga sudah berjuang dengan baik. Kita tidak boleh kalah, bukan? Lagipula ini rumah kita yang harus kita lindungi demi bagian Dik Helios juga.”


“Tapi apa yang bisa kita perbuat, Kak? Aku juga tak dapat melepaskan kekhawatiranku pada Mas Lou. Tentang di mana dia dan apa yang sedang dilakukannya sekarang. Bahkan Albert pun tak dapat dihubungi. Terlebih dengan kabar burung tak masuk akal itu yang mengatakan bahwa Mas Lou habis membantai para warga sipil di wilayah barat laut, aku semakin menjadi tidak bisa menahan diri untuk cemas, Kak.”


“Tenanglah. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kamu pasti lebih tahu bahwa Dik Helios bukanlah orang yang sekejam itu, bukan? Itu pastilah hanya gosip murahan. Dan walaupun itu benar, kuyakin Dik Helios akan punya alasan tersendiri untuk melakukannya. Sekarang yang perlu kita lakukan hanyalah melindungi rumah kita sembari menunggu kepulangan Dik Helios.”


Di tengah pembicaraan antara Talia dan Vierra itu, Lusiana pun tiba.


“Bagaimana hasilnya, Lusi?”


“Situasinya benar-benar kacau, Kak Vierra. Setiap orang ingin memenuhi keinginan egoisnya hingga tidak bisa ditemukan titik temunya. Tapi daripada itu, aku takut semuanya hanya karena mereka termakan hasudan dari para paladin itu.”


“Apa maksudnya, Kak Lusi?” Dengan penasaran, Talia bertanya.


“Entahlah. Ini juga hanya tebakanku. Tetapi pergerakan mereka terlalu aneh seakan mereka dikendalikan hingga tak lagi mampu berpikir secara logis seolah-olah sihir hitam mengendalikan mereka. Kamu tahu kan bahwa prajurit Kekaisaran Tong Kong telah mendekat? Tetapi mereka tampak sama sekali tidak peduli dengan itu dan terus saja menyerang ke sisi kita.”


Talia tampak berpikir dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara.


“Jika ini memang karena ulah dari sihir hitam, aku rasa aku bisa berbuat sesuatu.”


“Tapi sudah kubilang kan, Talia, itu baru dugaanku saja. Tiada bukti spesifik yang membenarkan pernyataanku itu.”


“Tapi kurasa itu ada benarnya juga, sih.”


Vierra secara tiba-tiba membenarkan kemungkinan yang diucapkan oleh Lusiana itu.


“Maksud Kak Vierra?”


“Dik Helios telah melakukan yang terbaik demi kekaisaran selama ini sehingga kekaisaran kita menjadi kuat, baik dari segi ekonomi, pangan, maupun militer. Tidak ada alasan seharusnya bagi rakyat untuk membencinya ketika mereka hidup makmur. Alasan satu-satunya mereka terus menyalahkan Dik Helios adalah karena ramalan tiran itu. Bukankah itu benar-benar aneh? Tidak logis rasanya rakyat yang dalam keadaan makmur akan memberontak walau dihasut sekalipun hanya karena sesuatu yang bersifat abstrak.”


“Kurasa Kak Vierra ada benarnya juga.”


Lusiana membenarkan pernyataan Vierra tersebut. Namun, ekspresi Vierra justru mengerut. Itu karena dia sedang memikirkan Damian, sahabat baiknya sewaktu kecil, yang telah ditunjuk sebagai pewaris gelar pahlawan dari nubuat kuil suci yang saat ini menjadi pemimpin para paladin yang melakukan penghasudan di timur benua itu.


Vierra tak dapat memungkiri fakta bahwa situasi benua mulai menjadi kacau sejak Damian diangkat sebagai paladin agung.


“Baiklah, Kak Vierra, aku mengerti. Tetapi Talia, apa yang bisa kamu lakukan jika ini memang sihir hitam?”


“Ah, aku belum pernah bilang kepada siapapun karena ini rahasiaku berdua dengan Mas Lou, tetapi aku bisa menghilangkan sihir hitam yang mempengaruhi pikiran selama itu tidak terlalu dalam dengan kata-kataku.”


Seketika baik Vierra maupun Lusiana terpaku mendengarkan pernyataan Talia itu. Jika yang dikatakannya adalah benar, bukankah itu berarti dialah sang saintess sejati yang selama ini dicari-cari oleh kuil suci?


Lalu, mereka pun segera menghubungi Dokter Minerva untuk mengaktifkan seluruh siaran di berbagai pelosok tempat, terutama yang terhubung dengan bagian timur benua.


Melihat tampilan yang tak biasa itu, sejenak medan perang terdiam. Lalu dengan suaranya yang menggema, Talia pun mulai berujar.


“Kumohon, para prajurit yang terkasih. Sadarlah! Apa yang terpenting bagi kalian untuk kalian lindungi? Kekuasaan kah? Kekayaan kah? Atau apakah nafsu birahi kalian? Itu salah, bukan? Apa yang terpenting bagi kalian ingin lindungi adalah keluarga kalian, anak istri kalian! Jadi sadarlah dan jangan mau dipengaruhi oleh bisikan jahat di hati kalian!”


Kata-kata Talia itu sendiri tidaklah sepuitis lirik para penyair. Namun, suaranya itu menggema dengan kekuatan suci ke telinga tiap-tiap orang yang mendengarnya.


Sesuai dugaan Lusiana, apa yang menyebabkan mereka memberontak adalah lantaran sihir hitam yang menguatkan perasaan negatif mereka. Dengan kekuatan suci lewat ucapan Talia yang mengalir langsung ke telinga mereka, sihir hitam itu pun terhapus dan mereka pun serta-merta kembali ke kewarasan mereka. Mereka yang waras akhirnya melepaskan pedang-pedang itu dari tangan mereka.


Mereka hanya seketika membeku di medan perang, tidak memahami pula apa yang telah mereka lakukan selama ini. Hanya ada penyesalan mendalam di hati mereka kini, meratapi kebodohan dan kedangkalan pikiran mereka.


Dengan demikian, para provokator, yakni para paladin pun dengan mudah diringkus, dan mereka yang melawan tidak segan-segan lagi untuk disingkirkan. Kekacauan yang didalangi oleh Damian pun dengan cepat berakhir.


Namun, itu bukan akhir dari segalanya. Ancaman invasi dari dua arah masih ada. Kekaisaran Tong Kong di timur laut serta Kerajaan Maosium di Selatan. Namun, berkat kepemimpinan Alice dan Buron menghadapi prajurit Kekaisaran Tong Kong, serta jiwa dan semangat Olo beserta para prajurit Kota Painfinn menghadapi prajurit Kerajaan Maosium, invasi itu masih dapat diblokir.


Nunu menjalankan perannya pula dengan sangat baik mendukung persediaan pangan yang datang dari rute kepulauan selatan. Ditambah dengan kegesitan trio ratu dalam mengooordinir tiap aspek di seluruh pelosok benua dari ibukota, semuanya masih bisa dipertahankan.


Walau demikian, jelas bahwa posisi Kekaisaran Meglovia mulai goyah, terlebih dengan absennya kaisar mereka, Helios sun Meglovia.


Namun, hal yang mengejutkan pun terjadi. Para monster dari hutan monster seketika menyerbu ke tengah-tengah medan perang. Namun mereka sama sekali tidak menyerang satu pun prajurit Kekaisaran Meglovia. Para monster hanya fokus untuk menyerang musuh mereka saja.


Tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa para monster jadi bersikap seperti itu. Yang jelas, berkatnya, invasi Kekaisaran Tong Kong di timur laut benua serta Kerajaan Maosium di selatan benua dapat dihentikan berkat keberadaan para monster itu.


Usai itu, perlahan, Kekaisaran Meglovia pun kembali pulih berkat perjuangan dari para ratu yang berjuang keras demi mendukung suami mereka yang sedang tidak ada di tempatnya.


“Mas Lou, kami akhirnya bisa bertahan dari krisis ini, Mas. Kini kami sisa menunggu kepulanganmu saja, Mas. Jadi kumohon di mana pun kamu berada, tetaplah selalu baik-baik saja, Mas Lou.”


Di malam hari yang sunyi itu, Talia berharap dengan tulus.


***


Di alam astral itu, dua makhluk astral pula saling bertemu.


“Milanda, bagaimana keadaanmu? Tidakkah kau memakai energi keberadaanmu terlalu berlebihan kali ini?”


“Tidak masalah, Arxena. Ini diperlukan. Setidaknya, inilah yang bisa kita lakukan demi sang terpilih. Jika dia sampai kehilangan orang yang disayanginya lagi, kutakut mentalnya akan hancur. Kau lebih tahu kan apa akibatnya jika hal itu sampai terjadi?”


“Dunia akan kehilangan pahlawan yang menjadi tumpuan harapan mereka kah. Dengan demikian, dunia dijamin akan musnah oleh sang Raja Iblis.”


“Itulah sebabnya aku tidak punya jalan lain selain melakukan ini.”


“Tapi bagaimana dengan kondisi sang terpilih saat ini?”


“Saat ini dia masih pingsan menghadapi ujian akhirnya. Akankah sang terpilih akhirnya memilih dunia ciptaan sang witch yang membuatnya tidak perlu lagi berusaha keras merasakan penderitaan dan pahitnya dunia ataukah memilih untuk bangkit menyelamatkan dunia yang telah busuk ini, semua kini tergantung pada pilihan sang terpilih. Kini, kita hanya bisa menyemangatinya dari jauh dengan penuh harapan.”


Perlahan, Milanda melangkahkan kakinya mendekat ke suatu bola kristal besar yang ditempatkan pada suatu altar berlapiskan kain merah.


Di dalam bola kristal itu, ada wujud Helios bersama dengan ibunya, Theia, melayang di dalam suatu alam astral yang penuh dengan kegelapan.


“Apapun pilihannya, kita hanya dapat menghormatinya sejak kita yang sudah lama menghilang, tak lagi dapat mencampuri urusan orang-orang yang masih hidup.”


“Kamu benar.”


Walau Milanda mengatakan hal itu dengan intonasi suara tampak tanpa keraguan sejenak, Arxena tetap dapat menangkap sedikit frekuensi suaranya yang bergetar dan begitu pun bola matanya, juga sedikit bergetar. Milanda tak kalah paniknya dengan yang lain. Dia juga dengan setulus hati mendoakan Helios sebagai pahlawan milik dunia tersebut agar tidak sampai gagal.