Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 52 – MONSTER PENIRU



Perlahan, Nunu mendekat ke arah Alice dan Codi. Akan tetapi, Alice segera berdiri ke hadapan Codi sembari mengaktifkan zirahnya.


“Srarararak!”


“Clang.”


Dari balik badan Nunu, tiba-tiba saja keluar sebuah tentakel aneh yang hendak mencelakai mereka berdua. Namun, berkat gerak cepat Alice, bencana itu dapat dicegah.


Mata Codi terpelintir kaget menyaksikan pemandangan yang aneh tersebut. Dia berkeringat dingin. Salah sedikit saja, bilah tajam dari tentakel-tentakel itu bisa memisahkan kepalanya dari badannya.


Itu bukanlah Nunu, melainkan seekor monster.


Perlahan, sang monster itu berubah kembali ke wujud aslinya. Rupanya itu adalah apa yang disebut penduduk kota sebagai slime mimpi buruk.


“Heh, tak kusangka penyamaranku akan ketahuan oleh manusia hina seperti kalian. Bagaimana kau mengetahuinya, wahai wanita.”


“Itu karena Nunu yang asli akan segan memanggil Yang Mulia Pangeran Helios dengan sebutan Master karena budaya di benua selatan yang mengaitkan panggilan Master spesifik kepada sang pemilik hewan peliharaan. Selain itu, Nunu tidak akan pernah berekspresi lembut seperti itu karena dia adalah wanita yang aneh.”


Sembari Alice menjelaskan deduksinya kepada sang monster, Codi menatap Alice dengan pemandangan yang aneh seakan ingin mengatakan bahwa kamulah yang paling tidak pantas mengatai orang lain dengan sebutan aneh.


“Tak kusangka penyamaranku gagal karena hal sepele. Tapi tidak mengapa, kalian akan tetap mati di tanganku.”


Monster pun maju menerjang ke arah mereka berdua. Alice ikut maju seraya melayangkan pedangnya. Tepat berjarak dua puluh sentimeter dari sang monster, Alice pun melayangkan pedangnya. Namun, bahkan pada jarak yang dekat itu, pedang Alice gagal mengenai sang monster. Pedang Alice terpelintir ke kanan sehingga gagal mengenai sang monster.


Sayangnya, kegagalan Alice itu bukanlah disebabkan oleh skill sang monster, melainkan karena kekikukan Alice sendiri. Dialah sang swordsman yang dijuluki sebagai zero monster karena selama dia bergabung menjadi mercenary, rekor monster yang berhasil dilukai pedangnya itu adalah zero alias nol.


Codi sempat kaget menyaksikan pemandangan yang seumur hidup tidak akan pernah disaksikannya di tempat lain tersebut. Namun, dia segera mengembalikan kesadarannya dan bergegas menangkis serangan monster yang gagal ditahan oleh Alice.


“Pak, pak, pak.”


Terdengar suara benturan antara pisau di tentakel sang monster terhadap dagger milik Codi.


Alice berkali-kali hendak membantu Codi dengan turut masuk ke dalam pertempuran. Namun bagaikan melawak, tiap pedang yang diayunkannya, jangankan menyerang, bahkan menyentuh sang monster tidak pernah dilakukannya sedikit pun.


Hingga seketika sang monster melayangkan bogeman mentah melalui tentakelnya tepat ke pusat ulu hati Alice hingga Alice pun terpental jauh. Melihat kesempatan perhatian monster teralihkan darinya, Codi segera memilih untuk mundur bersamaan dengan Alice.


“Ck, dasar wanita tidak berguna! Kamu bahkan tak dapat sekali pun melukai monsternya. Rupanya pedang besarmu itu hanyalah pajangan saja!”


“Aaaaaaah.” Jangankan sedih, sesuatu gairah tak berdasar justru terbangunkan di dalam diri Alice. Dia memegangi mukanya yang memerah perihal terlalu senang akan eksitasi hinaan Codi.


Melihat itu, Codi hanya dapat melihat Alice dengan pandangan yang jijik.


Walau demikian, Codi segera menyadari bahwa terlepas dari kekikukan sang swordsman itu dalam menggunakan pedang, Alice adalah tanker yang hebat. Itu dapat dilihatnya bahwa walaupun sudah terkena bogeman mentah dari sang slime mimpi buruk yang serangannya terkenal sangat mematikan itu, tubuh Alice ternyata baik-baik saja.


Dia pun mengusulkan sebuah strategi.


“Baiklah, Alice. Aku punya usul buatmu.”


Codi mengusulkan strategi kerjasama bertarungnya lalu mereka pun segera mengeksekusinya.


“Baiklah, aku hanya perlu melakukan itu kan, Codi?”


“Ya, aku serahkan itu padamu, Alice.”


Alice berlari menerjang sang slime mimpi buruk di mana Codi tepat berada di belakangnya. Alice menerima tumbukan mentah-mentah dari tiap tentakel slime itu. Tetapi kali ini, Alice tidak membiarkan tiap serangan yang diterimanya itu berakhir dengan sia-sia. Alice menangkap dan mengunci dengan kedua tangannya tiap tentakel yang datang menerjang ke arahnya itu.


Alhasil, pergerakan sang monster pun terkunci.


Di situlah, Codi yang ada di belakangnya segera menggunakan skill assassin-nya untuk memberikan critical damage kepada sang monster. Monster pun terluka parah.


Sang monster kalah, tetapi Alice turut tumbang.


“Alice!” Melihat itu, Codi segera berlari menghampiri Alice.


Tetapi tampaknya kekhawatirannya itu adalah hal yang sia-sia belaka perihal ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita masokis itu bukanlah ekspresi sedih atau kesakitan, melainkan ekspresi kesenangan yang tiada taranya.


“Kamu ini ya. Ayo segera berdiri.”


“Hehehehehehehe, terima kasih, Codi.”


“Kamu benaran tidak apa-apa kan?”


“Tenang saja, aku sudah terbiasa tersengat oleh hal yang semacam ini. Hehehehehehe.”


Codi berusaha mengabaikan Alice dan tak ingin terganggu oleh ekspresi mesumnya itu. Namun kemudian, mereka berdua kembali merasakan ancaman itu.


Sekitar sepuluh Helios bermunculan di hadapan mereka. Jelas itu bukan Helios, melainkan sama-sama spesies monster slime mimpi buruk seperti sebelumnya.


***


Di lain pihak, gabungan party Helios, Nunu, dan Albert tampak berjalan adem-adem saja. Mereka jauh berjalan, tetapi tampak belum satu pun monster yang mereka temui.


“Ini mencurigakan, Tuan Helios. Tuan Albert sangat mencurigakan. Bagaimana dia bisa datang tepat setelah kita terpisah dari Alice dan cowok cantik itu? Bagaimana kalau sebenarnya dia adalah monster yang menyamar menyerupai Tuan Albert? Aku pernah mendengar bahwa ada monster yang bisa menyamar sama persis seperti manusia yang bahkan ahli pun tak dapat membedakannya karena monster tersebut juga bisa meniru aliran mana seseorang.”


“Oh, slime mimpi burukkah. Salah satu produk dungeon troll itu.”


Nunu tampak berbisik kepada Helios sembari mencuri-curi pandang ke arah Albert. Mustahil Albert tidak bisa menyadarinya bahwa dirinyalah yang sedang menjadi objek pembicaraan dari gadis bermata merah itu.


“Apa ada sesuatu yang salah dariku, Nunu?”


“Ugh.”


Nunu yang merasa bersalah atas ucapannya lantas bersembunyi di belakang punggung Helios.


“Hahahahahahahaha. Nunu hanya sedikit mencurigaimu, Albert. Soalnya kamu tiba-tiba saja datang menemukan kami di saat kami terpisah dengan Alice.”


“Curiga? Tentang apa, Master?”


“Soal kamu yang mungkin saja sebenarnya adalah seekor monster slime mimpi buruk.”


Helios mengatakan itu seraya mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak kurang dari dua sentimeter tepat di hadapan wajah Albert.


Albert segera mengalihkan pandangan dari tuannya itu.


“Hehehehehehe. Itu mana mungkin benar, Master.” Ucap Albert sembari berkeringat dingin.


“Benar juga ya, itu tidak mungkin. Bagaimana bisa aku tidak bisa membedakan pengawal terbaikku sendiri.”


Biasanya Albert akan merasa terharu setiap Helios mengatakan hal tersebut. Tetapi untuk saat ini, keringat dingin justru mengucur sebagai gantinya dan dia mulai tampak lemas.


“Swush.”


Tanpa diduga-duganya sebuah monster menyerupai belalang sembah hampir saja memutuskan leher Albert. Namun, Helios dengan sigap menghindarkan Albert dari marabahaya tersebut.


“Hei, Albert! Sadarlah! Mengapa bisa kamu sampai lengah di tengah medan perang?!”


Sejenak, Albert kehilangan kontrol mana-nya lantas segera memancing ratusan monster belalang sembah ke sekeliling party-nya. Itu bukanlah kesalahan yang normal dilakukan oleh Albert yang disiplin.