Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 138 – NASIB VIERRA



Di kala aku berpikir keras untuk menyelamatkan nasib Kak Vierra bersama dengan calon bayi Kak Tius yang dikandungnya, aku seketika teringat bahwa ada satu aturan di konstitusi strata enam kekaisaran selatan yang mengatur tentang hak anak adopsi yang pada dasarnya memiliki hak pewarisan yang sama dengan anak kandung.


Aku bisa menggunakan celah di aturan undang-undang ini demi menyelamatkan mereka berdua, hanya saja untuk penerapannya, itu berarti aku harus menikahi Kak Vierra.


Jika mengingat aturan konstitusi strata pertama kekaisaran yang mewajibkan bagi mantan istri atau suami yang ditinggal mati oleh keluarga kekaisaran dalam keadaan yang belum ternodai untuk mengasingkan diri ke kuil suci adalah lantaran dilarangnya menodai nama baik keluarga kekaisaran dengan menyentuh apa yang sebelumnya sudah menjadi hak milik keluarga kekaisaran, jadi bagaimana jika yang melakukannya adalah keluarga kekaisaran lainnya?


Terdapat celah pada aturan konstitusi itu untuk melakukannya. Hanya saja dengan menikahi Kak Vierra menggunakan celah itu, itu hanya akan menyelamatkan Kak Vierra saja di mana calon bayi yang dikandungnya tetap akan dianggap sebagai properti asing yang nantinya menjadi hak milik kuil suci yang bebas untuk memanfaatkannya.


Namun kemudian, ada aturan konstitusi strata keenam itu tentang hak anak adopsi. Pada keadaan normal, aturan kesucian garis keturunan keluarga kekaisaran pada konstitusi strata pertama melarang keras keluarga kekaisaran untuk mengadopsi anak. Tetapi menelisik sebab pelarangannya pada penjelasan konstitusinya, itu adalah karena darah anak adopsi yang dianggap kotor karena tidak berasal dari keluarga kekaisaran.


Lantas bagaimana jika yang diadopsi adalah keturunan keluaga kekaisaran lainnya? Lagi-lagi terdapat celah pada aturan konstitusi itu untuk diterapkan.


Jikalau ada masalah, mungkin itu dari segi keetisan karena itu berarti aku harus menikahi mantan kakak iparku sendiri yang ditinggal mati oleh suaminya yang tidak lain adalah kakak kandungku sendiri. Tetapi pada hakikatnya, itu bukanlah masalah yang besar.


Menjadi istriku atau dengan kata lain ratu pertama di kekaisaran selatan ini adalah bukan merupakan sesuatu yang buruk bagi Kak Vierra pula. Itu semua hanya demi menyelamatkan dirinya dan calon bayinya dari absurditas hukum kekaisaran selatan yang berasal dari warisan aturan kerajaan sebelumnya yang mengharuskan segala properti hidup keluarga kekaisaran yang telah kehilangan pemiliknya harus diasingkan ke kuil suci.


Demikianlah, di pertengahan bulan kedua tahun 532 Kekaisaran Selatan Meglovia, aku resmi menikahi Kak Vierra. Namun itu bukanlah pernikahan yang didasari atas cinta. Jika suatu saat Kak Vierra nantinya menemukan cinta sejatinya dan akhirnya bisa melupakan Kak Tius, aku sendiri yang nantinya yang akan merekayasa kematian Kak Vierra untuk diselundupkan ke luar benua bersama dengan kekasih barunya tersebut.


Untuk sekarang, yang jelas posisi Kak Vierra bersama dengan calon bayi yang dikandungnya telah aman dari keharusan pengasingan.


Namun, aku terlalu menganggap remeh kerapuhan perasaan seorang wanita. Aku melakukan semua itu hanya dengan mengonsultasikannya kepada Marquise Andrew van Peronaz, ayah Kak Vierra, saja. Aku sama sekali tak pernah mengatakan satu patah kata pun kepada Kak Vierra.


Itu tentu saja akan membuat Kak Vierra kebingungan dan hampir saja memutuskan untuk bunuh diri seandainya saja dirinya saat itu tidak sedang mengandung. Kak Vierra terlihat begitu frustasi setelah tahu dia akan mengkhianati mantan suaminya sendiri yang telah meninggal melalui pernikahan barunya, terlebih dia harus mengorbankan kesuciannya itu tidak lain dan tidak bukan kepada adik iparnya sendiri.


Namun setelah aku menjelaskan detail rencanaku itu kepada Kak Vierra bahwa itu semata-mata demi menyelamatkannya saja, dia pun segera malu dalam delusi yang dibentuknya sendiri di pikirannya.


Tetapi perasaan Kak Vierra bukanlah satu-satunya yang terluka. Walaupun tidak diungkapkannya, aku tahu benar bahwa itu adalah ekspresi yang ditunjukkannya ketika Talia terluka. Dengan bodohnya, aku melukai hati rapuh permaisuri-ku itu dengan kedua tanganku sendiri.


“Talia.”


“Ah, Mas Lou.”


Talia tetap berusaha tersenyum lembut seperti biasanya padaku, tetapi bagaimana pun, dia tidak dapat menyembunyikan raut kesedihan yang tercermin di matanya.


Tanpa pikir panjang, aku pun memeluk erat dirinya lantas mengucapkan permohonan maaf padanya. Aku segera menjelaskan hal yang sama bahwa pernikahanku dengan Kak Vierra hanyalah semata-mata demi menyelamatkan Kak Vierra dan calon bayi Kak Tius yang ada di dalam kandungannya saja dari ketidakadilan perlakuan pengasingan. Cintaku bagaimana pun hanya untuk Talia seorang.


“Maafkan aku, Sayang.”


Hanya ucapan ringan berupa maaf yang bisa kuberikan kepada Talia sebagai wujud rasa bersalahku saat itu.


Aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang ditunjukkan oleh Talia sewaktu aku menjelaskan hal itu padanya karena tersembunyi di balik pelukanku. Yang jelas setelah itu, setidaknya Talia mampu tersenyum tulus kembali. Mulai saat itu, aku pun berikrar untuk lebih memperhatikan perasaan permaisuriku itu. Bagaimana pun, itu adalah hal yang sulit bagiku sebab semuanya tidak bisa dianalisis dengan logika.


Ada pula masalah ketidakpuasan dengan Duke Glenn van Rodriguez.


“Apa salahnya menjadi naif? Selama itu bisa menyelamatkan orang-orang yang berharga bagiku.”


“Suatu saat Anda akan menyesal jika ternyata calon bayi yang nantinya tumbuh besar itu menjadi duri dalam daging dalam tampuk kekuasaan Anda.”


“Apa yang terjadi di masa depan, biarlah dipikirkan di masa depan. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa calon bayi itu juga berhak memperoleh kasih sayang dan pendidikan yang layak agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik. Tidakkah Anda juga sepakat terhadap hal itu, Duke Rodriguez?”


“Darah yang paling encer adalah milik keluarga kerajaan. Tidak tahukah Anda peristiwa kelam sewaktu Ibunda Anda, Theia Madama Meglovia, yang akhirnya terpilih menjadi permaisuri? Bahkan di antara sesama saudara kandung sendiri akan tega untuk saling membunuh karena tergiur oleh tahta, apa tah lagi kalau hanya sekadar sepupu. Anda baru saja melakukan tindakan yang akan mengancam nyawa putra Anda sendiri, Helion.”


“…”


“Aturan kerajaan yang kini telah diadopsi menjadi konstitusi yang berlaku di kekaisaran selatan tidak dibuat begitu saja, melainkan karena pengalaman. Orang-orang tua seperti kami ini yang telah banyak memakan asam garam kehidupan telah melihat banyak hal. Itulah sebabnya kami memutuskan untuk membuat aturan yang demikian. Tetapi karena keegoisan Anda, semuanya jadi sia-sia belaka.”


Aku tidak menyalahkan tanggapan Kakek Glenn itu, tetapi aku juga tidak bisa mundur karena ini semua menyangkut masa depan kakak ipar dan calon keponakanku. Apa yang dikatakan oleh Kakek Glenn bisa saja terjadi, bagaimana pun, aku ingin mempercayai masa depan yang akan dipilih baik oleh Helion maupun calon keponakanku itu.


“Hati yang licik dan penuh keserakahan biasanya timbul karena pengaruh lingkungan. Dengan kasih sayang yang layak, kuharap calon bayi yang dikandung oleh Kak Vierra tidak akan tumbuh ke arah seperti yang Anda khawatirkan itu.”


Itu benar. seorang bayi yang terlahir ke dunia ibarat kertas putih polos. Akan menjadi seperti apa warnanya, itu semua bergantung pada upaya kita sebagai orang-orang dewasa di sekelilingnya untuk mewarnainya dengan bermacam-macam pendidikan.


Terlebih itu adalah benih Kak Tius. Dia pastinya akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berhati mulia pula layaknya Kak Tius, hanya saja kuberharap dia takkan pernah mewarisi sifat kenaifan hati ayahnya yang selalu mengutamakan nasib orang lain dibandingkan nasib dirinya sendiri dan keluarganya.


***


Di ruangan itu, Kaisar Ethanus sun Vlonhard duduk di atas singgasananya dengan berwibawa menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya sembari menyandarkan pipinya tepat di atas punggung tangan kanannya. Dia menatap ke arah bawah singgasananya dengan pandangan yang bosan.


“Bagaimana persiapan prajurit first order, Rahib Robell?”


Tanya sang kaisar kepada sosok yang sedang memberi hormat di bawahnya.


“Sebentar lagi itu akan sempurna, Yang Mulia. Sentuhan terakhir bagi para prajurit first order akan segera selesai begitu lingkaran mana artifisial berhasil ditanamkan.”


Jawab sang rahib dengan senyumnya yang menjijikkan.


“Sungguh luar biasa! Kaisar yang agung dengan dukungan prajurit yang tangguh pula yang bisa menggunakan aura pedang sekaligus sihir tingkat tinggi. Tak kusangka perpaduan sains dan sorcery bisa menciptakan seribu prajurit kelas champion. Aku heran bagaimana selama ini sorcery diabaikan di benua kita hanya karena itu identik dengan witch. Dengan ini, kejayaan sang Kaisar bersama Kekaisaran Vlonhard kita sudah terjamin di depan mata.”


Dengan senyumnya yang picik, Fabian de Vlonhard, pangeran ketiga Kekaisaran Vlonhard yang berasal dari garis keturunan ratu kedua, memuji-muji keagungan sang Kaisar beserta keberhasilan sang rahib dalam menciptakan prajurit luar biasa demi mewujudkan ambisi sang Kaisar agung tersebut. Mendengar pujian itu, akhirnya Kaisar Ethanus tampak menunjukkan raut senang.


Semua yang ada di ruangan itu juga hampir semuanya tampak menunjukkan ekspresi senang, terkecuali sang permaisuri, ratu ketiga, beserta anak-anak mereka, putri ketiga, pangeran keenam, pangeran ketujuh, serta putri keempat.


Terlihat bahwa betapa ingin mereka menentang rencana tidak berperikemanusiaan tersebut karena dalam prosesnya sampai mengorbankan ribuan nyawa rakyat yang tidak berdosa. Belum lagi prajurit yang diciptakan itu juga hanya akan mati setelah sekali digunakan.


Benar-benar proyek yang sangat tidak berperikemanusiaan. Wajar jika mereka yang masih memiliki hati nurani, akan menentang hal tersebut mentah-mentah.