Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 167 - KUTUKAN WITCH



“Lucu sekali melihat seorang nenek tua yang telah membuang kemanusiaannya menyamar di dunia manusia dengan sok cantik menggoda pria yang usianya sangat jauh di bawahnya. Hei, apa kalian tidak punya rasa malu?”


Helios bermaksud menyinggung Angele dan Marie atas ucapannya itu yang rupanya selama ini telah hidup bersembunyi sebagai selir Pangeran Fabian, namun Yasmin yang sedang menjaga agar Pangeran Fabian tidak kabur juga ikut merasa tersentak atas perkataan Helios tersebut.


Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi benar-benar kali ini menunjukkan ekspresi kesedihan yang menyayat perihal dia adalah salah satu dari witch yang baru saja disinggung oleh Helios itu.


“Jangan sombong kau, Bocah. walaupun Raja Iblis menyuruh kami untuk tidak membunuhmu, tetapi bukan berarti kami tidak bisa memotong salah satu tanganmu!”


Angele yang penuh amarah karena telah disinggung di area paling sensitifnya oleh Helios mengeluarkan lebah yang penuh dengan bakteri mematikan.


“Tahukah kamu penyakit tetanus, Bocah? Sekali saja kamu terkena olehnya di lengan atau kakimu, maka lengan atau kakimu itu harus diamputasi karena akan segera membusuk dipenuhi belatung!”


Kawanan lebah itu menyerang. Namun Helios segera menyebarkan angin di sekeliling tubuhnya lantas memerangkap kawanan lebah yang penuh dengan bakteri mematikan itu di dalam anginnnya, lalu memadatkannya sembari memotong lebah-lebah itu menjadi serpihan-serpihan hingga potongan-potongan tubuhnya tak lagi dapat dilihat secara kasat mata.


“Apa? Bahkan bayi-bayi imutku pun dihabisi olehnya?”


“Bagaimana juga bakteri adalah makhluk hidup. Jika itu disayat-sayat sampai tingkat mikroskopis tertentu, itu akan musnah. Kamu sendiri, Witch, pernahkah kamu mendengar istilah virus?”


Angele waspada kepada Helios, sementara Marie belum tampak akan berbuat apa-apa karena masih shok dengan seluruh tentara zombienya yang seketika dimusnahkan oleh Helios.


“Biar kuajarkan kau bagaimana perkembangan teknologi generasi sekarang, Witch!”


Hembusan angin lembut menerjang Angele. Dia semula bersiap menangkis serangan dadakan, namun seketika dia terheran begitu tak menemukan satu pun serangan yang mendarat padanya. Akan tetapi kemudian, seluruh tubuhnya tiba-tiba saja menggigil secara tak terkontrol dan dia kehilangan kendali atas mana mati yang telah dikumpulkannya selama beratus-ratus tahun di dalam tubuhnya.


“Kak Angele!”


“Aaaakkkhhhhh!”


Mana mati Angele seketika menyebar dalam ledakan. Melihat seniornya terdesak, Marie segera gantian untuk turun tangan.


“Dasar monster sialan!”


-Swush, swush.


Namun, itu justru segera dimanfaatkan oleh Angele untuk melarikan diri dari Helios.


“Jangan tinggalkan aku sendirian bersama monster ini, Kak. Ah, sialan!”


Marie telah terlambat kabur. Sebagai satu-satunya musuh yang tersisa di hadapannya, Helios kini bisa memfokuskan serangannya hanya kepada Marie yang membuat peluangnya untuk kabur telah tertutup sejak saat itu.


“Jangan remehkan aku, sialan! Akulah sang witch kutukan! Setiap orang yang menerima dendamku, akan kukutuk sampai mati!”


Di tangan Marie telah ada rambut hitam Helios. Dia pun menanamkan rambut itu kepada bonekanya.


“Aku tidak peduli lagi dengan perintah Raja Iblis. Pokoknya di tempat ini, kamu harus mati, Bocah sialan!”


Lima buah paku ditancapkannya ke badan boneka. Namun, Helios justru hanya tersenyum.


“Mengapa bisa?”


Kekuatan kutukan Marie seharusnya berfungsi untuk menghubungkan kelima indera wadah dengan inang sehingga ketika boneka itu ditusuk oleh paku tajam, Helios seharusnya merasakan rasa sakit yang teramat sangat. Namun rupanya itu tidak bekerja.


“Kau percaya diri sekali dengan kutukanmu itu, Witch. Sorcery memang hampir tidak mengikuti hukum alam, maka dari itu keberadaannya bisa merusak tatanan dunia. Walau demikian, itu tetap tak bisa bekerja jika tak ada tatanan alam yang menjadi penghubungnya seperti ketika kamu harus menggunakan wadah dan bagian tubuhku itu agar jurusmu aktif. Tetapi tahukah kamu, Witch?”


“…”


Marie seketika menggigil begitu mendapati senyum jahat Helios.


“Itu akan bekerja jika kekuatan mana mati bisa terhubung ke tubuhku. Nyatanya, mana pool-ku yang besar dan penuh dengan mana alam yang murni telah mencegah mana mati itu mengontaminasi tubuhku barang secuil pun. Dalam artian, jurusmu takkan pernah bisa berpengaruh padaku, tetapi sebaliknya, aku bisa dengan bebas melukaimu, Witch.”


Ucapan Helios di akhir yang diucapkannya setengah berbisik menambah keangkeran dari ucapannya itu yang semakin membuat Marie bertambah bergidik.


Dengan tawa jahat itu, Helios yang kali ini maju hendak mengalahkan sang witch.


Marie dengan tertatih-tatih berusaha menghindar dan walaupun dengan luka-luka parah, secara beruntung setidaknya dia masih bisa hidup.


Marie pun terpaksa mengeluarkan kartu as terakhirnya. Dia menggunakan wadah kutukannya itu secara langsung untuk menyerang. Puluhan boneka voodoo-nya seketika menjadi tentara-tentara raksasa.


“Kamu menggunakan otakmu juga ya, witch. Jika wadahnya bukan makhluk hidup, mustahil senjata bakteri atau virusku bisa melukainya.”


-Slash, slash.


Helios menyerang dengan menggunakan jurus tebasan anginnya, tetapi itu sama sekali tidak berpengaruh pada para boneka voodoo raksasa perihal aura mana mati seketika membentuk perisai yang melindungi masing-masing dari tentara boneka voodoo raksasa itu.


“Heh, baiklah kalau kamu segitu ingin tahunya darimana aku mengumpulkan mana-mana mati ini. Itu pe… Aaaaakkkkhhhh!”


Dia ingin bersuara, namun seketika Yasmin menyerangnya.


“Master, Anda tidak perlu mengotori tangan Anda lagi. Biar aku saja yang membasmi witch kotor itu.”


“Aku suka dengan semangatmu, Yasmin. Tapi walau kau bilang begitu, dia sudah kabur, lho, karena kamu mementalkannya terlalu jauh.”


“Ah, maafkan aku, Master. Tampaknya aku justru malah mengacaukannya!”


Marie terpental oleh jurus Yasmin, tetapi dia justru memanfaatkan kesempatan ketika dirinya terpental lumayan jauh itu untuk turut kabur dari kekejaman Helios.


“Tidak biasanya kamu ceroboh seperti itu, Yasmin. Tapi ya sudahlah.”


-Srak, srak, srak.


Puluhan ribu jarum-jarum es tipis Helios menerjang para tentara boneka voodoo lantas membasminya seketika.


“Kita bisa mengatasi para witch itu nanti. Yang penting sekarang, bagaimana kita menenangkan amarah warga dengan menghukum mati dalang di balik insiden black death ini.” Ucap Helios sembari menatap tajam Fabian. Seketika Fabian merasa menggigil terintimidasi oleh tatapan tajam Helios itu.


***


Di suatu tempat di wilayah hutan monster Vlonhard, Marie terduduk di salah satu pohon di sana dengan mulut yang penuh mengeluarkan darah.


“Kaisar sialan itu! Suatu saat, aku pasti akan membalas semua perbuatanmu!”


-Srararak.


Suara rumput seketika terdengar di sekitar Marie. Itu tampak seperti suara salah satu monster di hutan monster yang melangkah ke dekatnya. Dengan penuh waspada, Marie pun mengintip ke arah datangnya sumber suara.


Tetapi rupanya itu Yasmin. Tidak, itu sang witch Cassandra untuk lebih tepatnya. Yasmin hanyalah salah satu dari samarannya saja.


“Ah, Kak Cassandra. Terima kasih tadi berkat Kakak, aku bisa kabur dari monster itu. Apa sekarang Kakak sudah memutuskan untuk pulang ke Raja Iblis setelah melihat kekejaman monster itu? Kalau begitu pertama-tama, bisa Kakak sembuhkan lukaku dulu? Ini sangat sakit.”


-Krak.


“Akh!”


Tetapi apa yang dilakukan oleh Yasmin justru hendak mengakhiri sendiri nyawa Marie di tangannya.


“Jangan salah paham, Marie. Aku telah memutuskan untuk mengabdi sepenuhnya pada Master. Aku membuatmu kabur barusan karena aku tidak ingin kau membuat Master mengingat kematian menyedihkan kakaknya yang juga adalah salah satu buah dari perbuatanmu menciptakan perang. Lagipula, sayang sekali jika mana mati yang kamu kumpulkan selama dua ratus tahun ini disia-siakan. Supaya tidak mubazir, biarkan aku memilikinya.”


Yasmin pun menyerap mana mati Marie hingga Marie berubah menjadi nenek tua keriput. Tidak dia telah berubah menjadi sosok mumi yang mengerikan.


“Jangan kira witch seperti kita bisa diterima keberadaannya oleh manusia normal dengan mudah. Tidakkah kau juga mendengarkannya sendiri dari mulut tuanmu itu betapa dia menghinakan witch? Aku juga sempat menikah dua kali, tetapi kedua-dua pasanganku hanya memanfaatkan ketenaranku saja dan akhirnya begitu memperoleh kesempatan, mereka tidak berpikir dua kali untuk membuangku. Kamu pun akan bernasib sama untuk yang ketiga kalinya, Cassandra.”


“Aku sedari awal tidak berniat menerima balasan cinta dari Master. Selama aku berguna untuknya sehingga bisa mencintainya di dekatnya, itu sudah cukup untukku.”


“Apa yang kau katakan… Kau? Hahahahahaha. Begitu rupanya! Benar-benar lucu! Rupanya kau menggunakan jurus pelet-mu kepada dia, tetapi kau justru terpelet balik olehnya sampai-sampai terpesona sendiri kepadanya tanpa syarat. Kau, segeralah sadar dari jurusmu sendiri i…tu…”


Perlahan, nafas Marie pun terhenti dalam wujud muminya yang mengerikan itu. Dia telah mengembuskan nafas terakhirnya dalam penuh siksaan.


“Akan kugunakan mana mati ini dengan sebaik-baiknya untuk mendukung jalan kesuksesan Master, Marie. Jadi silakan kamu beristirahatlah saja dalam penuh penderitaan di neraka sana.”


Tidak jelas karena ekspresinya yang datar, namun sekilas mata hitam Yasmin itu memantulkan hawa kebencian yang kuat.


Dia pun meninggalkan tempat itu dengan langkah yang tenang seakan dia hanya habis jalan-jalan di taman tanpa merasakan rasa bersalah sedikit pun sehabis menghabisi nyawa mantan rekannya dengan kedua tangannya sendiri.


Itu tidaklah aneh. Lagipula Yasmin alias Cassandra adalah salah satu dari witch yang hatinya terbuat dari es.


***


“Yasmin, kamu darimana saja? Urusan kita di sini daritadi sudah selesai. Kita harus segera kembali ke istana.”


“Ah, maafkan aku, Master. Segera.”


[Benar. Selama bersama Master yang sangat kucintai seperti ini saja, itu sudah cukup membuatku bahagia, meskipun rasa cinta itu timbul dari jurus pelet-ku sendiri.]


Yasmin telah membulatkan tekadnya terhadap kata-kata Marie itu.