Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 55 – MUMI, VAMPIRE, DAN HULDRA



Helios dan party melanjutkan petualangan mereka ke lantai yang lebih dalam di Dungeon Milanda tersebut.


Di lantai kedua, mereka bertemu dengan pasukan mumi yang dipimpin oleh middle boss bernama Pharaoh.


Berbeda dengan kawanan werewolf, monster mumi tersebut kebal akan jurus sihir di samping mereka memiliki skill poltergeist.


Helios pun memfokuskan dirinya pada pertahanan party-nya untuk mencegah teman-temannya tertangkap di dalam penguncian poltergeist lawan.


Sejak serangan yang efektif adalah serangan yang murni memanfaatkan material fisik, Codi-lah yang kali ini berperan lebih besar di dalam memberikan damage bagi lawan, sementara Alice tetap berperan sebagai tameng yang melidungi rekan-rekannya di belakang.


Lalu pada suatu titik, Helios nekat menerapkan suatu strategi yang cukup unik.


Pada dasarnya, serangan ledakan adalah serangan sihir, tetapi serangan itu memanfaatkan impak dari material fisik untuk memberikan damage-nya. Jelas polanya berbeda dari sihir lain seperti sihir Helios yang berusaha mempertahankan material berwujud es untuk memberikan serangan spiritual. Sihir ledakan Nunu akan sanggup untuk memberikan damage yang fatal kepada the king of mumi.


Melalui aba-aba Helios, Nunu mulai membacakan mantra sihir ledakan overpowernya yang telah dia atur ke taraf yang cukup untuk memusnahkan lawan, tetapi tidak sampai menyebabkan impak yang juga akan turut mengenai party-nya.


Jika itu Nunu di masa lalu, dia sudah pasti tidak akan sanggup untuk mengatur output mana-nya sehingga party-nya sudah akan turut tersapu di dalam sihir ledakannya. Namun sekarang berbeda. Dia telah memiliki cincin sihir pemberian tuannya, Helios, yang mampu membantunya mengatur output mana yang dikeluarkannya dari sirkuit sihirnya yang cacat tersebut.


Ketika Nunu siap melepaskan mantranya, Helios pun menghempaskan Albert yang sedang menggendong Nunu tepat ke arah Pharaoh, sang the king of mumi. Lalu di atas udara itu pun, Nunu yang stabilitas tubuhnya dijaga oleh Albert, mampu menembakkan sihir ledakannya tepat ke arah sang the king of mumi tersebut.


Dalam sekejap, Pharaoh tersapu oleh impak sihir ledakan Nunu sampai luluh lantah hingga tiada lagi yang tersisa darinya kecuali kunci menuju ke lantai ketiga dari dungeon tersebut.


Setelah mendapatkan kunci dari Pharaoh, Helios dan party segera bergerak menuju ke lantai ketiga dari dungeon. Kemudian di sana, mereka bertemu dengan kawanan vampir yang dipimpin oleh the great ancient vampire, Dracula.


Sama dengan monster mumi, monster vampire memiliki ketahanan yang tinggi terhadap sihir, di samping mereka juga memiliki pergerakan yang lincah yang sebanding dengan para werewolf. Jelas mereka adalah tipe monster yang lebih sulit untuk dikalahkan dibandingkan dua yang sebelumnya.


Helios dan party sempat terdesak sehingga mereka lebih memilih menerapkan posisi bertahan.


Namun pada suatu titik, melalui aba-aba dari Helios, Alice tampil dengan gagah dengan mengeluarkan skill petirnya ke segala arah. Tetapi sayangnya, tak satu pun dari sengatan petir yang berhasil mengenai satu pun vampire, malahan, Alice sendiri yang terkena oleh serangannya itu sehingga dia berada dalam kondisi stun.


Helios dan Nunu juga hampir terkena impak serangan petir, tetapi Helios segera menyelubungi daerah di sekitar mereka dengan barier es-nya sehingga impak itu tidak berhasil menjangkau ke arah mereka.


Walau demikian, sesuai apa yang Helios prediksikan, walau tak berhasil mengenai mereka, cahaya yang ditimbulkan oleh skill petir Alice berhasil menerapkan debuff blindness yang menghentikan sementara pergerakan para vampire. Helios pun menjadi tampak senang karena berhasil membuktikan buah pengetahuan deduksinya selama ini bahwa monster vampire lemah terhadap cahaya.


Tanpa membuang-buang kesempatan yang diberikan oleh Alice, pasangan Albert dan Codi segera maju untuk menghadapi sang middle boss monster, Dracula.


Codi menyerang bertubi-tubi dengan dagger-nya, sementara Albert mencegah kawanan vampire yang datang dan hendak membantu tuannya.


Dracula memiliki skill pemulihan yang luar biasa sehingga tiap kali ditebas, luka itu akan segera sembuh hanya dalam beberapa detik. Namun demikian, kecepatan Codi dalam memberikan damage kepada sang middle monster tersebut tetap jauh lebih besar daripada kecepatan sang middle boss monster menyembuhkan diri.


Hingga pada akhirnya, sang middle boss monster pun mulai sekarat perihal luka-luka di tubuhnya yang terlambat dia regenerasikan. Lalu sebagai penutup, Albert pun datang dengan pedang besarnya memberikan serangan penghabisan.


Lalu tibalah Helios dan party-nya di lantai keempat dari dungeon tersebut, lantai yang dikuasai oleh kawanan huldra yang dipimpin oleh the queen of huldra, Melody.


Akan tetapi di lantai itu, Albert, Codi, dan Nunu secara tiba-tiba saja tampak mematung tanpa bisa bergerak. Tidak hanya itu, ada sesuatu yang aneh pada diri mereka. Mereka berada dalam kondisi yang tampak sedang terangsang yang ditunjukkan oleh ekspresi mesum yang tiba-tiba terbentuk di wajah mereka yang sangat mirip ketika Alice dilecehkan.


“Master, ini…”


“Oh, Alice. Tampaknya hanya kamu ya yang tidak terpengaruh oleh skill milik huldra ini.”


Sembari menundukkan wajahnya yang memerah, Alice menjawab pertanyaan Helios itu, “Sebenarnya, aku juga terpengaruh dengan skill ‘temptation’ milik para huldra itu, tetapi aku telah terbiasa mengalaminya, jadi ini bukan lagi masalah besar bagiku.”


Sesuai apa yang dikatakannya, Alice yang mesum telah berkali-kali merasakan sensasi yang sama ketika dilecehkan akibat kecenderungan masokisnya itu sehingga pengaruh skill temptation dari para huldra yang bahkan bisa membuat para pertapa yang telah lama kehilangan birahinya tiba-tiba saja meledak ingin membuat anak, bukan lagi apa-apa baginya.


“Begitu rupanya. Ayo kita fokus ke sekitar kalau begitu, Alice” Melihat muka Alice mulai memerah dengan cara yang aneh, Helios pun segera menghentikan topik pembicaraan itu sebelum Alice semakin menunjukkan penyimpangan yang lebih besar lagi akibat kecenderungan masokisnya.


“Sesuai perintah Anda, Master.”


Alice mengatakan itu sembari menundukkan wajahnya demi memberi penghormatan kepada tuannya, Helios. Tetapi itu justru membuat dua gunung yang menjadi beban di dadanya berguncang naik-turun bagai agar-agar yang kenyal.


Helios menyaksikan dengan jelas pemandangan tersebut. Dan bukannya dia juga seratus persen kebal terhadap serangan ‘temptation’ tersebut. Ditambah oleh wajah Alice yang bisa dikatakan cantik yang sesuai dengan tipe wanita ideal Helios dengan mata emasnya yang sayu dan ditambah pula dengan wajah Alice yang memerah terangsang, itu tidak dapat lagi membuat Helios untuk seratus persen mengendalikan dirinya.


Betapa pun Helios berusaha tenang, tetapi Helios kecil di bawahnya tetap tak menuruti perintahnya itu lantas menegakkan dirinya sendiri hendak keluar dari kegelapan yang terselubung. Tentu saja Helios mampu menyembunyikan dengan baik hal tersebut di luar berkat pelatihan mentalnya selama bertahun-tahun di istananya yang kumuh.


“Kamu bisa merasakannya kan, Alice, di mana pusat dari skill temptation itu berada? Pasti di situlah letak Melody, sang middle boss di lantai ini. Kamu bisa menanganinya kan?”


“Tapi, Master…”


Alice nampak ragu. Hal itu jelas karena kepercayaan dirinya selama ini dalam menyerang telah hilang dan bahkan Alice memperoleh gelar di antara sesama rekan mercenary-nya sebagai zero monster alias tak ada satu pun dari monster yang bisa dilukai oleh pedang besarnya itu hingga saat ini.


“Aku percaya padamu, Alice. Kamu akan sanggup untuk mengatasi trauma masa kecilmu itu.”


Alice sejatinya tidak dapat melukai monster dan juga termasuk makhluk hidup lain bukanlah karena kutukan seperti apa rumor yang tersebar di Kekaisaran Vlonhard, kampung halaman Alice berada, melainkan karena trauma masa lalunya yang menyaksikan semua rekannya tewas dibantai oleh monster di hutan monster Kekaisaran Vlonhard.


Tetapi untuk menjadi seorang ksatria sejati, Alice tidak boleh selamanya terkungkung di dalam trauma itu yang menyebabkannya tak mampu untuk bertarung dengan baik layaknya seorang ksatria. Dia harus membebaskan dirinya sendiri dalam trauma yang selama ini menyiksa batinnya itu. Oleh karena itu, Helios pun memberikan Alice kesempatan itu.


Dengan kata-kata penghiburan dari tuannya, walau sedikit, Alice mendapatkan kepercayaan dirinya kembali. Itu semua karena dia merasa senang bahwa Helios mempercayainya.


Dengan tekad yang kuat, Alice pun berlari ke asal sumber serangan mental, tempat the queen of huldra tersebut berada.