Become Tyrant On My Own Way

Become Tyrant On My Own Way
Chapter 127 – KEPERGIAN SANG AYAHANDA



Aku bersama para dokter kepercayaan bawahan Anna setelahnya berusaha mengobati Ayahanda dengan maksimal kemampuan kami.


Walau demikian, kondisi Ayahanda kian hari kian memburuk.


“Master harus kuat.”


Albert yang telah sejak beberapa hari yang lalu pulang kembali bersama Alice dari Kota Lobos tak sedetik pun melepaskan pandangannya dariku. Itu wajar saja kalau anak buah kepercayaanku itu sampai khawatir melihat keadaanku yang saat ini begitu berantakan.


Bagaimana pun, penyakit Ayahanda adalah penyakit komplikasi karena usia uzur. Bahkan dengan gabungan pengetahuan medisku dan para dokter lainnya, kami tetap tak dapat membuat kondisi Ayahanda membaik.


Para anggota kuil suci yang ditempatkan di istana untuk menjaga kesehatan anggota keluarga kerajaan juga telah melakukan upaya maksimal mereka dengan jalan mereka sendiri, namun itu pun sama saja. Bahkan dengan dukungan mental kepercayaan terhadap kuil suci, itu sama sekali tak membantu pemulihan Ayahanda.


Di tengah-tengah memburuknya kondisi Ayahanda itu, kami tetap harus melakukan pemakaman yang layak bagi kakakku, Tius Star Meglovia.


Aku sedih.


Padahal ini adalah momen-momen terakhir perpisahan kami dengan Kak Tius. Walau demikian, pelepasannya dilakukan ala kadarnya saja karena situasi sakitnya sang Raja.


Tapi bagaimana pun, aku saat itu turut menjadi salah satu orang yang tidak dapat berkhidmat dalam melepas kepergian Kak Tius. Aku lebih memikirkan kondisi Ayahanda yang sakit-sakitan kala itu. Namun, apa boleh buat. Kak Tius tak lagi dapat kembali, tetapi jika aku lengah sedikit saja, kini giliran nyawa Ayahanda yang dipertaruhkan.


Aku merasa tak sanggup lagi jika harus kehilangan keluarga.


Mungkin satu-satunya orang kala itu yang mampu melepaskan kepergian Kak Tius dengan khidmat, hanyalah Swein seorang.


Aku pun berlalu meninggalkan pusara Kak Tius sembari menatap perlahan ke belakang. Yang dapat kulihat hanyalah punggung Swein yang kian mengecil seiring jarak pusara itu semakin jauh dari pandanganku.


Lalu suatu hari, Ayahanda pun mencapai puncak kritisnya. Beruntung, Ayahanda masih bisa melewati hari itu.


Ayahanda yang telah lemah lunglai itu kemudian tiba-tiba saja memanggil seluruh anggota keluarga kerajaan yang tersisa, yakni aku, Talia, Helion, Ilene, Kak Vierra, dan Ibunda Theia. Ayahanda juga tampak secara khusus memanggil Albert.


Lalu di tengah-tengah perbincangannya, Ayahanda menggapai wajahku sembari berusaha tersenyum dalam keadaan lemah lunglainya yang berbaring di kasur itu.


“Maafkan aku Nak, selama ini aku sekalipun tak pernah bersikap layaknya seorang ayah padamu.”


Tanpa sadar, air mata jauh menetes membasahi pipiku.


“Tidak, Ayah. Walau itu sebentar, aku masih bisa mengingat bagaimana kasih sayang tulus Ayahanda di kala aku masih kecil. Seiring waktu Ayahanda terangkat menjadi raja, Ayahanda pasti kian sibuk. Dan aku mengerti mengapa Ayahanda jarang lagi menemuiku setelahnya.”


“Helios, hal yang paling Ayahanda sesalkan kala itu adalah menuruti permintaan kuil suci mengasingkanmu di istana kumuh itu. Andai Ayahanda punya sedikit ketegasan dan wibawa untuk membelamu… akankah semuanya akan berbeda?”


“Ayahanda, yang lalu biarlah berlalu. Yang Helios pentingkan saat ini adalah kesembuhan Ayah.”


Kulihat Ayahanda dengan bibirnya yang ringkih itu berupaya sekuat tenaga tersenyum padaku. Pandangannya sayup-sayup dan tenang, tetapi mengapa aku merasakan firasat buruk dari senyumnya itu? Itu seolah mengisyaratkan Ayahanda baru saja ingin mengucapkan wasiat terakhirnya.


Tidak, tidak boleh begini! Ayahanda harus punya semangat hidup untuk bisa melewati masa-masa kritisnya.


Ayahanda kemudian memalingkan perhatiannya dari wajahku ke wajah bayi kecilku, Helion.


“Nak Helios. Jagalah putramu ini, cucuku. Ini memalukan karena Ayahanda sebagai ayah yang telah gagal merawatmu yang meminta ini, tetapi janganlah kamu berakhir sama seperti Ayahanda. Apapun keadaannya, aku ingin kamu menempatkan kepentingan keluarga sama pentingnya dengan kepentingan negara.”


“Janganlah lupa tujuan kita melindungi negara tidak lain adalah demi melindungi keluarga kita. Janganlah terjebak oleh fatamorgana kepahlawanan semu yang akhirnya berakhir membuatmu menderita.”


Aku paham benar apa yang dimaksudkan oleh Ayahanda. Kita melindungi negara agar anak cucu kita yang tinggal di dalamnya bisa merasakan kebahagiaan. Apalah artinya setelah melakukan tugas besar seperti melindungi negara, anak cucu kita hanya akan berakhir hidup penuh penderitaan dengan kepergian kita.


Ada suatu kisah yang terkenal yang sudah lama di Benua Ernoa bahkan sebelum berdirinya Kerajaan Meglovia, Cassandra si witch.


Namun ayah dan ibunya, yakni raja dan ratu di kerajaan itu, kemudian tewas karena pemberontakan rakyat kerajaannya sendiri. Tetapi itu bukanlah suatu pemberontakan alami. Ayah dan ibunya dikhianati dan ditikam dari belakang oleh orang kepercayaannya sendiri dan akhirnya berakhir tragis dengan dituduh sebagai iblis yang mengorbankan nyawa rakyat kerajaannya sebagai tumbal untuk kehidupan mewah.


Belakangan hal itu diketahui adalah fitnah, namun itu telah terlambat. Ayah dan ibunya telah tak lagi berada di dunia ini.


Tinggallah Cassandra dan seorang kakak laki-lakinya yang bernama Hector ditinggalkan sebatang kara. Raja digantikan oleh orang lain yang berasal dari keluarga cabang, namun raja itu justru mengusir jauh-jauh Cassandra dan Hector dari negeri di mana mereka seharusnya dilindungi sejak karena ayahnya-lah negeri itu bisa memperoleh kedamaian.


Tumbuhlah Cassandra dan Hector menjadi remaja. Lalu kemudian, dikisahkanlah setelahnya ada masa di mana para demon berhasil menembus hutan monster yang dipimpin oleh seorang arch demon yang sangat hebat yang kembali membuat negeri yang meninggalkan Cassandra dan Hector itu menjadi porak-poranda.


Tiada satu pun orang di benua itu yang dapat mengalahkan sang arch demon.


Namun kemudian, Hector, satu-satunya kakak laki-laki Cassandra, keluarganya yang tersisa setelah kematian ayah dan ibunya, diminta oleh Raja yang pernah mengusir mereka dulu dari negeri mereka sendiri untuk kembali ke negeri itu mengalahkan sang arch demon dengan mengorbankan nyawanya seperti yang dulu dilakukan oleh ayah mereka.


Hector menyetujui permintaan itu di belakang Cassandra dengan syarat agar setelah kematiannya, Cassandra dapat memperoleh perawatan yang layak dari kerajaan.


Arch demon pun berhasil dikalahkan yang kali ini dengan mengorbankan nyawa sang kakak. Tinggallah Cassandra seorang diri.


Sang Raja kemudian membiarkan Cassandra menetap di kerajaan itu, tetapi apa yang terjadi, sang Raja mengingkari janjinya dengan tidak pernah memberitahukan kebenarannya kepada Cassandra dan dia hanya ditinggalkan luntang-lantung di jalanan.


Singkat cerita, ada seorang pelayan kuil suci yang kasihan melihat Cassandra luntang-lantung di jalanan yang bisa sangat membahayakan dirinya itu perihal kecantikannya. Pelayan kuil suci itu pun lantas turut membawa Cassandra masuk ke dalam kuil suci dan jadilah Cassandra sebagai salah satu pelayan kuil suci. Namun itu bukanlah akhir di mana Cassandra memperoleh ketenangannya.


Cassandra tergoda dengan seseorang pemuda bernama Dionysius dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari kuil suci demi menikahinya sejak pelayan kuil suci dilarang untuk menikah. Namun, seorang pemuda lain bernama Apollo yang merupakan saudara tiri Dionysius yang ternyata juga mencintai Cassandra menjebaknya dan jadilah dia dituduh menghujat kuil suci.


Cassandra hendak dibakar hidup-hidup namun kemudian jasadnya menghilang.


Dionysius begitu saja menyerah pada Cassandra karena halangan keluarga, akan tetapi Apollo yang marah karena keputusan berlebihan dengan eksekusi mati Cassandra itu akhirnya membakar seisi kerajaan.


Jadilah kerajaan yang awalnya dengan susah payah dilindungi oleh sang ayah dan kakak dengan mengorbankan nyawa mereka, akhirnya dihancurkan juga, bukan di tangan penjajah maupun demon, tetapi di tangan sang budak cinta.


Namun, plot twist tiba ketika Cassandra muncul kembali dengan kekuatan witch di tangannya lantas balik membunuh Apollo yang dikiranya sebagai sumber kehancuran hidupnya.


Sungguh kisah yang tragis. Itu semua terjadi karena kebodohan sang ayah dan kakak Cassandra yang berpikir bahwa mengorbankan nyawa mereka untuk kedamaian kerajaan demi kebahagiaan hidup keluarga mereka di dalamnya adalah tindakan yang tepat.


Bukanlah iblis makhluk yang paling berbahaya di muka bumi ini, melainkan keserakahan manusia yang dihasut oleh iblis.


Jika kamu berpikir bahwa mati dan tidak bisa lagi melindungi orang yang kamu cintai dengan berharap negara akan menggantikanmu melindungi mereka adalah tindakan terbaik, maka selamat, kamu adalah seorang pecundang layaknya Kak Tius.


Tiada yang peduli dengan nasib keluarga kita selain diri kita sendiri. Oleh karena itu, kamu tak sepantasnya memikirkan mati dan berpikir bahwa negara akan menggantikanmu melindungi mereka. Kamu yang harus bertahan hidup sendiri demi melindungi keluarga tersayang kamu, walaupun itu harus mengorbankan nasib kerajaan.


Aku takkan melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang dilakukan oleh ayah dan kakak Cassandra itu. Aku akan hidup demi melindungi keluargaku sendiri. Namun, tentu saja kondisi yang ideal adalah kami semua dapat hidup bahagia bersama di dalam kondisi kerajaan yang damai.


Oleh karena itulah, aku pula akan mewujudkan kedamaian kerajaan, tentu saja dengan tidak pernah berpikir untuk mengorbankan nyawa sendiri.


Aku pun membelai putraku sembari menatap Ayahanda dengan senyuman kehidupan yang menunjukkan tekadku itu. Kulihat Ayahanda merespon tekad itu dan membalasnya dengan senyuman lega di wajahnya.


Ayahanda kemudian menatap Albert.


“Hanya satu keputusanku yang membuatku mensyukurinya sekarang. Syukurlah waktu itu Ayahanda berhasil menebalkan telinga Ayahanda di tengah protes para bangsawan itu sehingga Ayahanda bisa membawa Albert ke sisimu, Nak Helios. Albert kemarilah!”


Atas perintah Ayahanda itu, Albert pun mendekatkan telinganya ke mulut Ayahanda. Ayahanda kemudian turut membelai wajah Albert sembari membisikkan sesuatu padanya, namun aku masih bisa mendengarkannya dengan jelas.


“Apapun yang terjadi, kumohon, Nak Albert, percayalah pada Helios. Percayalah pada setiap keputusan yang diambilnya apapun yang orang lain katakan dalam menghujatnya.”


Aku sama sekali tak tahu kalau itu adalah hari terakhir aku bisa mendengarkan suara Ayahanda. Keesokan harinya, tanggal ke-15 bulan ke-8 tahun 531 Kerajaan Meglovia, Ayahanda pun mengembuskan nafas terakhirnya, turut meninggalkan kami bersama Leon dan Kak Tius.