The Devil's Touch

The Devil's Touch
#99



Dua hari setelah kejadian Maxime menampar Milan, gadis itu tidur di kamar Miwa. Milan menjauh dari Maxime dan enggan bertemu dengan pria itu, Maxime harus memohon bukan kepada Milan saja tapi kepada adiknya juga agar bisa bertemu dengan Milan.


Siang ini hal mengejutkan kembali terjadi, entah bagaimana Milan bisa keluar dari mansion Maxime, Maxime yang dua hari ini merasa begitu menyesal karena tak sengaja menampar Milan akhirnya kembali marah, penyesalan itu seakan hilang ketika tahu Milan kabur lagi.


Sinyal merah berkedip di ponsel Maxime, itu posisi Milan sekarang. Gadis itu kabur ke sebuah hutan yang tak jauh dari mansion Maxime.


Maxime meminta kepada para penjaga untuk melepas Glory di hutan itu.


*


Milan berlari begitu cepat di saat dua singa dan satu macan tutul mengejarnya. Ia menangis dan gemetar ketakutan, keringat membasahi pelipisnya. Tapi di sisi lain ia tidak bisa berhenti karena takut menjadi santapan ketiga hewan buas itu.


"Tolongggg ... Tolong ..." Suaranya bergetar ketakutan dengan tangis yang tiada henti.


Dua singa itu mengaung keras seraya terus mengejarnya di sebuah hutan. Milan mulai berlari tergopoh-gopoh karena kelelahan sementara di belakang sana ketiga hewan itu semakin dekat dengan dirinya


"Auwww!!" Milan jatuh tersandung kayu kecil yang menghalangi jalan nya. Ia menoleh ke belakang lalu membulatkan mata kala ketiga hewan itu mulai berjalan mendekatinya.


Milan beringsut mundur perlahan karena kaki nya terluka, ia tidak bisa berdiri dan berlari lagi. Tubuhnya gemetar seraya menggeleng dan tangis tiada henti.


Seketika Milan menjerit keras kala singa itu hendak meloncat ke arahnya.


"Stop!"


Singa itu pun tak jadi meloncat mendengar perintah tuan nya, Maxime Louis De Willson.


Milan segera menoleh ke belakang, sekarang bukan singa lagi yang ia takuti. Tapi pria ini, pria yang menyekapnya seperti seekor kucing rumahan.


Milan kini mundur menjauhi Maxime, Maxime melihat luka di kaki Milan lalu menatap wajah gadis itu. Pria ini menatap gadis itu tanpa ekspresi sama sekali, tidak ada kekhawatiran di wajahnya melihat gadis yang gemetar ketakutan karena ulah hewan peliharaan nya.


"Ku mohon ... biarkan aku pergi ... aku mohon ..." lirih Milan seraya terus beringsut mundur sementara Maxime melangkah selangkah demi selangkah mendekati gadis itu dengan tatapan dingin nya.


Dan Milan semakin ketakutan, tangan nya berusaha meraba-raba sesuatu di tanah, Maxime yang melihat tangan Milan mencari-cari sesuatu hanya bisa tersenyum ketus, seakan meremehkan apa yang di lakukan Milan.


"Pulanglah little cat, kandangmu bukan di sini!"


Maxime mendengus, mengusap dagu dengan jarinya. Ia berusaha menahan amarah, tapi tidak bisa. Maxime selalu marah kala gadis ini berteriak keras kepada nya.


"Ikut denganku, jangan memancingku seperti ini!" ucap Maxime dengan tajam, ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak kasar terhadap gadis ini.


"Tidak, aku tidak mau!!" Milan berusaha untuk berdiri tapi Maxime segera mencengkram tangan nya dengan kuat membuat gadis itu meringis kesakitan.


Kesalahan fatal Milan masih berusaha untuk kabur di saat Maxime sudah berada di depan matanya alhasil Maxime menyeret gadis ini untuk masuk ke mobilnya secara kasar, tak perduli Milan berteriak meminta di lepaskan, tak perduli dengan teriakan Milan yang kesakitan karena tangan nya di cengkram kuat oleh Maxime.


Milan harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah kaki Maxime, kaki nya yang terluka kini mengeluarkan banyak darah akibat di paksakan berjalan.


Maxime membuka pintu dengan kasar dan mendorong tubuh Milan masuk. Ia menutup pintu mobil dengan keras lalu mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.


Pria itu tak main-main ketika marah, ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Rahangnya mengeras, mata elangnya menatap jalanan dengan tajam, kedua tangan nya mencengkram setir mobil dengan kuat.


Milan hanya bisa memalingkan wajahnya melihat Maxime seperti itu, ia memejamkan mata sesaat meredam rasa sakit di kaki dan juga hati nya. Air mata tak kunjung berhenti, sesekali ia mengusap tangis di wajah dengan punggung tangan nya.


"Berhentilah menangis!" ucap Maxime dingin lalu Maxime menginjak pedal gas dengan kuat.


Kecepatan nya sudah di batas maksimum sekarang, Milan semakin terisak kuat merasakan tubuhnya seakan melayang dengan laju mobil yang begitu cepat. Ia hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri seraya menunduk. Apa kematian akan segera menghampirinya sekarang.


Dia masih sekolah, dia tidak ingin mati di tangan pria di sampingnya ini.


"Be-berhenti ... ku mohon ... to-tolong ..." lirihnya.


Kepala nya mulai pusing, pandangan nya mulai kabur. Ia meringis memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat sampai akhirnya semuanya gelap dan Milan pingsan begitu saja.


Maxime menoleh melihat Milan tidak sadarkan diri. Tapi tetap saja Maxime terlihat santai, pria itu malah tersenyum miring melihat gadis di sampingnya tidak sadarkan diri.


#Bersambung


Malam ini beresin masalah Milan & Maxime jadi mau crazy up hehe.