The Devil's Touch

The Devil's Touch
#42



Maxime sedang duduk di post satpam setelah dari kelas Milan, jam istirahat belum berbunyi semua siswa masih di kelas. Ia duduk santai dengan segelas kopi dan meja.


Maxime sibuk dengan ponsel nya saja dan sesekali mengecek Milan dari cctv kecil yang ada di kelas Milan. Gadis itu terlihat sedang berpikir tapi tak lama kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Ah, pasti Milan sudah mengingat pelajaran yang di berikan Maxime saat di petshop, semoga saja hasil ulangan nya memuaskan.


Pria itu menyesap kopi nya sebentar lalu datang Pak Asep ke post satpam dan duduk di samping Maxime.


"Rokok Muklis," tawar nya menyimpan sebungkus rokok di atas meja.


Maxime tidak memberi respon apapun, Pak Asep menyalakan rokok dengan pemantik api dan menghembuskan asap rokok nya ke udara.


"Dulu kerja di mana Muklis? jadi satpam juga?" tanya nya.


Hening, tidak ada respon kembali.


"Saya sudah hampir dua puluh tahun jadi satpam. Ya pindah-pindah sih, kadang jadi satpam butik, kadang di mall, banyak deh pokoknya dan terakhir di sini."


Pak Asep menuangkan bubuk kopi ke gelas lalu mengisinya dengan air panas dari termos dan mengaduknya seraya kembali menceritakan masa lalu nya kepada Maxime.


"Jadi satpam banyak susah senangnya, nih Muklis saya kasih tau ya, saya dulu kerja di mall jaga malam, eh ada pencuri masuk terus saya ikutin tuh pencuri nya diam-diam sampai akhirnya ... jleb! saya tusuk kaki si pencuri itu sampai pincang Hahaha."


Tawa dari Pak Asep seakan sedang membanggakan dirinya sendiri yang ingin di anggap hebat oleh Maxime.


"Dan ternyata kau yang pincang!" sahut Maxime dingin menebak kalau sebenarnya dalam cerita Pak Asep dia sendiri yang tertusuk pencuri tersebut.


Pak Asep tiba-tiba hening seraya mematung lalu berdehem kikuk, sedikit malu karena tebakan dari Maxime itu benar.


Pak Asep tidak melanjutkan lagi ceritanya, ia bersiul untuk menghilangkan rasa canggung bersama Maxime lalu mengeluarkan ponsel di saku nya.


Di usap layar ponsel tersebut lalu ia menekan notifikasi yang memberitahu berita viral hari ini. Matanya melebar sempurna dengan kagum.


"Waduhhh ... siapa ini, cantik sekali."


Maxime masih diam dengan ponselnya sendiri tidak mau berbicara dengan Pak Asep.


Pak Asep berdecak seraya menggelengkan kepala lalu memperbesar layar ponselnya agar bisa melihat lebih jelas wajah perempuan yang gaya nya seperti seorang sekretaris, tapi penampilan nya begitu sexy dengan rok pendek di atas lutut.


Dengan isengnya Pak Asep memperbesar bagian rok perempuan tersebut.


"Kurang bahan nih rok, tapi mulus juga haha." Pak Asep kembali bersiul dengan terus memandang foto tersebut.


"Siapa ya nama nya."


Pak Asep yang penasaran pun membuka berbagai komentar dari semua orang di foto itu dan membaca salah satu komentar.


"De Willson group mempunyai sekretaris sexy bernama Miwa."


Sontak Maxime menoleh cepat ke arah Pak Asep lalu merebut ponsel itu, mata nya melebar kala melihat bagian rok Miwa yang sangat amat pendek.


"Ambilkan makanan yang banyak di kantin aku akan membayar semuanya!" titah Maxime kepada Pak Asep.


Pak Asep hendak bertanya untuk apa makanan banyak itu tapi melihat tatapan tajam Maxime ia langsung mengurungkan niatnya dan beranjak dari duduknya setelah mengambil ponsel di tangan Maxime.


Ia keluar dari post satpam berjalan menuju kantin tapi baru saja beberapa langkah keluar dari post tiba-tiba.


Jleb


Pisau kecil menancap sempurna di lutut bagian belakang Pak Asep membuat pria paruh baya itu jatuh bersimpuh. Itu hukuman dari Maxime karena Pak Asep berani memperbesar layar ponselnya hanya untuk melihat jelas bagian rok Miwa.


Para guru yang berlalu lalang di dekat post berteriak kaget lalu menghampiri Pak Asep untuk membantu nya.


Sementara Maxime segera menelpon Miwa. Miwa masih setia menghias kuku nya dengan kutek seraya duduk santai di kantor Arsen.


"Ya, kak?" tanya Miwa setelah mengangkat panggilan dari Maxime.


Miwa segera mematikan panggilanya dengan nafas memburu mendengar teriakan marah kakak nya. Tapi lagi-lagi Maxime kembali menelpon Miwa, Miwa dengan panik berlari ke arah Arsen.


"Kak Arsen, singa jantan marah tolong jinakkan!" Miwa memberikan ponsel itu kepada Arsen.


Meliha nama Kak Maxi di ponsel Miwa, Arsen berdecak tapi tetap mengangkat panggilan tersebut. Sementara itu Miwa menempelkan kupingnya ke ponsel yang sedang menempel di telinga Arsen.


"Miwa berani sekali kau--"


"Ada apa?" tanya Arsen.


"Kau ... kenapa kau yang mengangkat! berikan kepada Miwa!"


"Adikmu sedang ketakutan," jawab Arsen santai. "Kalau kau mau membahas soal rok yang dia pakai aku akan mengurusnya dan menghapus semua foto dia internet!" lanjut Arsen.


"Anak itu berpenampilan seperti seorang pelac*r saja!" kesal Maxime.


"Dia adikmu sial*n!" sahut Arsen.


"Dia adikmu juga, didiklah dia selama dia berada di dekatmu!" balas Maxime.


"Kakak jahat bilang aku pelac*r!!" sambung Miwa berteriak di ponsel yang menempel di telinga Arsen.


"Sudahlah, aku akan mengurusnya!" Arsen mematikan telpon nya lalu menoleh ke arah Miwa seraya menghela nafas kasar.


*


Jam istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan ke kantin dan ada juga yang pergi ke kamar mandi atau diam di kelas dan menyantap bekal yang mereka bawa dari rumah.


Sebelum ke kantin Milan memasukan kembali peralatan tulisnya ke tas tapi ia baru sadar ada surat putih di tas tersebut.


"Apa ini," gumam Milan seraya membolak-balik kertasnya.


Di bukalah kertas itu dan ada tulisan yang membuat Milan bingung.


Milan kau harus tau siapa Maxime sebenarnya ...


"Apa maksudnya ini ..." gumam Milan. "Aku harus tau siapa Maxime, maksudnya apa."


"Siapa yang mengirim surat ini." Milan terus membolak-balik kertas itu berharap ada nama si pengirim di sana tapi ternyata tidak ada nama siapapun.


Milan melipat kertas tersebut memasukan nya ke dalam saku baju nya lalu beranjak untuk pergi ke kantin. Ia sudah sangat kelaparan, untuk masalah surat bisa ia pikirkan nanti saja.


Suasana kantin tampak begitu ricuh hari ini, entah kenapa kantin yang sudah di renovasi lebih luas itu kini sangat penuh dengan siswi yang memenuhi satu meja di pojokan.


Bahkan beberapa siswi berlari menabrak Milan yang sedang mematung heran, para siswi itu mendekati satu objek yang sedang duduk sendirian di meja pojok.


Ketika Milan menyipitkan mata nya, ternyata itu Maxime.


Sontak Milan melebarkan mata nya melihat Maxime di kerumuni siswi SMA Ganesha seperti permen manis yang di kerumuni banyak semut merah.


"HEI!!" teriak Milan.


Mereka yang ricuh tidak jelas pun tiba-tiba hening dan berbalik menatap seorang gadis yang sedang kesal.


Milan menjadi bahan tatapan mereka, termasuk Maxime.


"Kalau mau makan beli makanan jangan menghalangi jalan seperti ini!!" sentak Milan.


Maxime diam-diam tersenyum melihat wajah marah Milan. Oh seperti ini kucing kecil penurut nya ketika di sekolah, berubah menjadi kucing agresif pemarah.


Bersambung