
Para suami sedang berkumpul di meja makan ketika gagal memaksa para istri mereka untuk pergi ke dokter kandungan. Mereka hanya ingin benar-benar memastikan istri mereka benar hamil, tapi Milan dan yang lain malah menolak dan mengusir Maxime, Arsen dan Daniel.
"Mereka tidak turun?" tanya Ara seraya memindahkan tiga kopi dari nampan ke meja.
"Mereka tidak mau, malah asik mengobrol bertiga di kamar Milan. Kami sudah memaksa mereka untuk pergi ke dokter kandungan, tapi mereka menolak," jelas Daniel.
"Ohh ... yasudah, biarkan saja dulu. Jangan di ganggu, mood ibu hamil itu naik turun, kalau di paksa bisa-bisa mereka malah kesal dengan kalian."
Kemudian Oris datang dan duduk bergabung bersama mereka di meja makan.
"Eh, apa sebelumnya mereka mengidam sesuatu?" tanya Oris.
Maxime, Arsen dan Daniel saling menoleh kemudian kompak menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian tau, kalau Ibu hamil mengidam itu harus selalu di turuti?"
"Memangnya kenapa kalau tidak di turuti?" tanya Arsen.
"Nanti anakmu keluar air liur yang banyak ketika lahir," sahut Oris.
"Ah, masa!" Daniel menolak percaya.
"Eh ... aku serius. Iya kan Aunty?" Oris menatap Ara yang berdiri di sampingnya, Ara menganggukan kepalanya setuju dengan ucapan Oris.
Walaupun sebenarnya Ara sendiri menolak percaya tentang mitos itu, hanya saja ini senjata untuk membuat Milan dan yang lain di manja oleh suami mereka.
"Lagipula, kami juga pasti menuruti keinginan mereka," ucap Maxime.
"Ya, apa yang tidak bisa kami berikan kepada mereka," sambung Arsen.
"Huhh kalian belum tau, biasanya orang mengidam itu maunya yang aneh-aneh. Yakin kalian siap melayani ngidam istri kalian?"
"Tentu saja," sahut Maxime, Arsen dan Daniel.
Kemudian Maxime menoleh ke arah Ara. "Aunty, bisa tidak kau bujuk mereka untuk memeriksa kandungannya, setidaknya aku ingin mereka mendapatkan vitamin supaya janin nya kuat."
"Oke, aunty coba ke kamar mereka dulu."
Ara menaiki anak tangga untuk pergi ke kamar Milan. Kemudian ponsel Maxime berdering, panggilan video call dari Javier.
Maxime menggeser layar ponselnya menjawab panggilan tersebut. Ada Javier, Thomas dan juga Sekretaris Han di sana.
"Hai Dad ..."
"Max, bagaimana Miwa, Tessa dan Milan?"
"Mereka baik-baik saja Dad, mereka sedang istirahat di kamar."
"Kalian bertiga, dengarkan Dad. Turuti apapun yang di inginkan istri kalian, jangan buat mood mereka buruk dan jangan sampai membuat mereka menangis."
Sekretaris Han langsung menoyor kepala Javier.
"Kau bicara seperti itu, tapi kau sendiri dulu membuat Sky hampir bunuh diri dan tidak melayani Sky mengidam dengan baik!"
Javier berdecak menatap Sekretaris Han. "Justru karena hal itu aku mau putraku melayani istrinya dengan baik sial*n!!"
"Kalau kau mau membahas soal mengidam istrimu, kau bahas dengan aku dan Han saja, Max! Ayahmu tidak ada gunanya!" ucap Thomas.
Maxime menyunggingkan senyumnya. "Baiklah, kalian Ayah yang baik."
"Dimana Arsen?" tanya Sekretaris Han.
Maxime langsung memberikan ponselnya kepada Arsen.
"Dad ..."
"Ar, kau harus menuruti semua keinginan Miwa, jangan menolak keinginan dia. Mengerti?!"
"Itu cucu pertama Dad!!"
"Jelas saja cucu pertama, Dad hanya punya satu anak saja!"
"Memangnya kau berniat punya anak berapa hah?" tanya Sekretaris Han.
"Dua atau tiga cukup," sahut Arsen.
"Wihh, Dad setuju denganmu Arsen." Kata Thomas. "Jangan hanya satu."
"Berikan kepada Daniel," titah Thomas dan ponsel Maxime pun kini berada di tangan Daniel.
"Hai Ayah mertua ..." Daniel melambaikan tangannya.
"Kau, jaga putriku dan cucuku!!" ucap Thomas.
"Jangan khawatir Ayah mertua."
"Awas saja sampai membuat Tessa menangis!!"
"Astaga, kalian bertiga ini. Memangnya kami sejahat itu sampai terus-terusan menyuruh kami menjaga putri kalian." Daniel menggelengkan kepalanya.
*
Malam harinya, Maxime sedang mengantri untuk membeli nasi goreng pinggir jalan. Ia sampai harus menggunakan masker dan topi agar tidak ada yang mengenalinya. Bisa saja Maxime menyuruh anak buahnya untuk membelikan nasi goreng yang di inginkan Milan tapi masalahnya Milan ingin Maxime sendiri yang membeli.
"Apa masih lama?" Daniel menepuk pundak Maxime. Ia menenteng sate ayam di tangan nya.
"Menyebalkan, kenapa penuh sekali!" kesal Maxime.
"Kau ini tinggal buka masker, semua orang juga pasti langsung mengalah denganmu," ucap Daniel.
"Masalahnya Milan memintaku untuk antri."
"Milan tidak akan tau sial*n."
"Aku tidak mau membohonginya," sahut Maxime membuat Daniel menghela nafas.
Kemudian Arsen datang menghampiri mereka dengan membawa pizza di tangannya.
"Sudah belum?" tanya Arsen.
"Belum," sahut Maxime.
"Ah lama sekali!"
Kemudian Maxime mendapat panggilan telpon dari Ara.
"Ya, Aunty?"
"Aunty lihat, mereka sudah tidur."
"Apa?!" Maxime menatap Arsen dan Daniel.
"Ada apa?"
"Ada apa?"
Maxime menghela nafas kemudian mematikan panggilan telpon nya.
"Mereka sudah tidur."
Arsen berdecak. "Sudahlah, siapa tau pulang nanti mereka bangun!"
Bersambung