
Baru dua jam mereka tidur, sekitar pukul lima pagi Maxime terbangun. Awalnya ia hanya ingin buang air kecil saja, tapi karena merasa ini sudah pagi juga ia memutuskan keluar dari kamar untuk membuat sarapan untuk Milan dan yang lain nanti.
Ketika hendak menuruni anak tangga mata nya tertuju ke kamar Tessa. Alhasil Maxime berbalik dan berjalan ke kamar perempuan itu.
Ia mengetuk pintu pelan, berpikir mungkin saja Tessa belum bangun pagi ini. Tapi ternyata perempuan itu membuka pintu kamarnya. Tessa melebarkan mata nya kala melihat Maxime berdiri di depan kamar.
"Kakak ..."
Maxime tersenyum. "Bisa bicara?" tanya nya.
Tessa mengangguk dan mereka berdua masuk ke dalam kamar. Maxime duduk di sofa, ia melihat kanvas dekat jendela dan beberapa alat lukis lain nya. Kanvas nya di tutupi kain putih.
Karena penasaran Maxime beranjak dari duduknya. "Kau sedang melukis rupa nya."
Melihat Maxime berjalan mendekati kanvas nya sontak Tessa berlari dan menghalau kakak nya dari depan. "Ja-jangan lihat kak."
"Kenapa?" Maxime menaikkan satu alisnya. "Sering sekali kau merahasiakan lukisanmu."
"Kakak mau lihat saja ..." Maxime hendak berjalan lagi tapi dada bidang nya di dorong mundur oleh Tessa.
"Ih kakak ... aku bilang jangan lihat!"
Maxime tersenyum. "Oke ... oke ..."
Maxime pun mundur beberapa langkah tapi sedetik kemudian ia hendak berlari mendekati kanvas itu. Untung saja Tessa lebih cepat mendorong lagi tubuh Maxime.
"Ih aku bilang jangan!" Tessa menghentakkan kakinya kesal.
Maxime terkekeh pelan. "Baiklah, tidak akan lihat."
Pria itu pun kembali duduk di sofa dengan Tessa yang kini duduk di sampingnya.
"Kakak mau bicara apa?"
"Apa kau baik-baik saja hm?" Tanya Maxime seraya mengelus kepala Tessa. Hal ini biasa di lakukan Maxime dan Arsen kepada Miwa maupun Tessa
Dua pria itu menjadi tempat curhat Tessa dan Miwa sedari dulu.
Tessa mengangguk samar. "Aku baik-baik saja, kak."
"Tapi kenapa suka sekali diam di kamar? makan harus di kamar, jarang sekali keluar akhir-akhir ini. Ada apa?"
"A-aku ... aku hanya sedang malas keluar kak, cari inspirasi untuk melukis, jadi aku butuh waktu sendiri."
"Cari inspirasi biasanya dengan jalan-jalan," sahut Maxime.
"Eummm ... aku, aku sedang malas jalan-jalan juga hehe ..."
Maxime menghela nafas. "Kalau kau benar baik-baik saja, keluar untuk sarapan nanti hm?"
Tessa mengangguk. "Iya kak."
*
Jam sembilan pagi mereka semua harusnya sarapan bersama, ini terlalu siang untuk jam makan pagi mereka. Tapi itu juga karena Maxime harus memasak sendiri.
Ara yang biasanya menyiapkan sarapan, pagi ini masih tidur. Mungkin karena Ara kelelahan akibat acara semalam.
Dan yang lain juga masih belum bangun semua membuat Maxime harus mengetuk pintu kamar mereka satu-persatu.
"Sudah bangun ..." Maxime menutup pintu dan berjalan menghampiri Milan.
Milan yang tadinya duduk santai dengan mengangkat kedua kakinya ke sofa, spontan menurunkan kaki nya mendengar suara Maxime.
"Bangun jam berapa?" tanya Milan.
"Jam lima," sahut Maxime. "Aku sudah membuat sarapan, mau makan sekarang?"
"Eumm sebentar lagi," sahut Milan. Maxime pun mengangguk dan ikut menonton kartun spongebob di tv.
"Aku pikir gadis tomboy sepertimu tidak suka kartun."
"Ini kartun kesukaan ku dari kecil tau," sahut Milan.
Maxime terkekeh pelan lalu merangkul gadis itu, kepala Milan pun kini bersandar di dada Maxime.
"A-aku boleh tanya sesuatu?" tanya Milan ragu.
"Apa?"
Milan mendongak menatap Maxime. "Tentang wanita tua itu ..."
"Zivania?" tanya Maxime.
Milan mengangguk.
"Yang membunuh Jack, bukan aku sayang. Hari itu aku hanya mengantar Ibuku untuk melihat kematian Zivania. Mom sangat semangat untuk melihatnya. Aneh bukan? tapi Mom kesal karena Zivania terus menganggu keluarga kami."
"Ke-kenapa Ibumu semangat melihat kematian wanita itu?" tanya Milan kembali.
"Kau tidak tau cerita Ayahku?"
Milan menggeleng, ia tahu Yakuza tapi dari dulu ia tidak penasaran soal kisah cinta pemimpin nya.
Maxime menghela nafas sesaat. "Dia mantan Daddy ku sayang ... Aku juga sempat lupa kalau dia mantan Daddy ku."
"Benarkah?" Mata Milan melebar tak percaya.
"Tapi kenapa baru sekarang Jack mencoba menganggu keluargamu?" tanya Milan.
"Karena mungkin dia sadar, tidak mudah menganggu kami. Kalau dia mau pakai cara Ibunya untuk memasukan racun ke dalam makanan juga tidak akan berhasil. Aku tidak makan makanan sembarangan, jika ada orang lain yang memberikan makanan kepadaku, yang aku terima hanya dari Arsen, Tessa atau Aunty Ara. Sisanya yang tidak aku kenal, pasti aku menolak."
"Tapi waktu kita tinggal di petshop, kau sering beli bakpao dari pedagang keliling atau beli roti."
Maxime terkekeh. "Kau percaya mereka pedagang sungguhan, sayang? mereka anak buahku, mereka hanya pura-pura menjadi pedagang keliling. Bakpao yang sering kita pesan dan roti yang sering kita makan itu semuanya di buat di mansion Ayahku. Ada Chef Bara dan Chef Juna yang sudah bekerja puluhan tahun dengan keluarga kami. Dan supermarket tempat kita membeli bahan makanan juga itu milikku, semua makanan yang masuk pasti di cek dulu."
"Setiap hari mereka mengirimkan ku makanan dengan menyamar sebagai pedagang. Kau ingat, semua pedagang yang lewat petshop pasti terlihat sudah tua, iya kan."
Milan mengangguk, dulu ia juga sempat bingung kenapa banyak sekali pedagang paruh baya yang lewat ke petshop.
Maxime menyempilkan anak rambut ke telinga Milan sebelum melanjutkan cerita nya.
"Mereka anak buah Yakuza yang sudah bekerja puluhan tahun. Mereka yang paling di percaya oleh aku dan Ayahku. Kerjaan nya cuman mengantar makanan."
"Nanti kita cerita lagi, lebih baik kita sarapan dulu." Maxime mengecup pipi Milan lalu menarik tangan gadis itu keluar dari kamar.
Bersambung