
Mobil Maxime keluar dari sekolah dan bersamaan dengan itu mobil yang di tumpangi Miwa masuk ke halaman sekolah untuk menjemput Arsen.
Maxime memarkirkan mobilnya di depan supermarket lalu Milan yang sedang duduk segera beranjak melihat sorot lampu mobil ke arahnya.
Milan masuk ke dalam mobil dan memasang seatbealt.
"Ada dua mie di sana, kau duduk dengan siapa?" tanya Maxime.
"Cantika," sahut Milan setelah mengenakan seatbealt nya.
"Cantika?" Maxime menaikkan satu alisnya. "Siapa Cantika?"
"Tidak tau, perempuan so kenal!"
Tidak mau bertanya lagi soal Cantika, Maxime pun melajukan mobilnya kembali ke petshop.
Setelah sampai keduanya keluar dari mobil, Milan sedikit berlari melihat pintu petshop terbuka lebar.
Ia mematung seraya melebarkan mata nya melihat petshop yang begitu berantakan, pasir binatang berhamburan di lantai, semua kantung makanan di robek dan membuat isinya tumpah, beberapa vitamin dan obat-obatan berserakan dimana-mana.
Milan menoleh ke kandang Blacky yang berada di samping meja kasir, biasanya dua kucing itu sedang tidur di kandang nya. Tapi sekarang pintu kandang nya terbuka.
"Max ... apa ada pencuri masuk?" Milan menoleh ke arah Maxime di sampingnya. Pria itu pun hanya bisa menatap keadaan petshop nya dengan menghela nafas kesal. Kedua tangan nya mengepal, ternyata si penerror itu bukan hanya mengambil dua kucingnya.
Karena Maxime tidak menjawab gadis itu pun mencari-cari kucing dan kelinci peliharaan nya.
"Bunny ... Blacky ... Blackbox ..." teriak Milan berjalan mencari-cari ketiga binatang peliharaan mereka.
Milan membungkukan badan mencoba melihat ke bawah meja, lalu ke kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Karena masih belum menemukan nya, Milan mencoba pergi ke dapur mencari di bawah meja dan lagi-lagi tidak ada apapun di sana.
"Bunny ..." teriak Milan lagi.
Maxime menghampiri Milan dan memegang lengan nya. "Sudah, tidak perlu di cari. Mereka sudah mati."
"Mati? mati kenapa?"
"Sepertinya pencuri itu membun*h mereka," ucap Maxime.
"Lebih baik kita bereskan dulu petshop ini hm?" lanjut Maxime seraya tersenyum mengelus kepala Milan kini.
Milan pun mengangguk dengan pasrah. Keduanya mulai membereskan petshop bersama dari menyapu, mengepel, menyusun kembali obat-obatan dan vitamin di etalase.
Setelah selesai keduanya duduk di kursi seraya meminum teh jahe di malam hari.
"Tidur lah, ini sudah malam," titah Maxime.
"Kenapa ada pencuri masuk? apa ini pertama kalinya?" tanya Milan.
Maxime mengangguk. "Jangan di pikirkan, aku akan mengurusnya besok."
"Loh, Bunny ..."
Milan mengambil Bunny di bawah kaki nya, kelinci putih itu meloncat-loncat kala Milan menyimpan nya di atas meja. Maxime mengelus anak kelinci tersebut.
"Dia pasti trauma, karena melihat pencuri masuk ke sini," ucap Milan yang ikut mengelus Bunny.
"Dan hanya dia sendiri yang selamat," lanjut Maxime.
"Aku akan memberinya makan dulu." Maxime mengambil Bunny dan memasukan nya ke kandang lalu menuangkan makanan khusus kelinci ke mangkuk di dalam kandang Bunny.
Setelah menguncinya ia menarik tangan Milan. "Ayo tidur ..."
*
Arsen ingin pulang ke kantor saja, tapi ia tahu Miwa pasti ingin ikut dengan nya juga. Alhasil Arsen meminta supir mengantar nya ke mansion Maxime.
Di perjalanan Miwa terus saja menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Arsen lalu menyandarkan kepala nya di bahu pria itu seraya tangan melingkar di lengan Arsen.
"Miwa duduk yang benar!" Arsen mendorong Miwa agar menjauh.
"Tidak mau, aku mau seperti ini!" Miwa kembali memeluk lengan Arsen seraya tersenyum.
"Miwa ingat perkataan Maxime, jangan terlihat murahan!" ucap Arsen.
Lalu Miwa berbisik. "Kalau begitu cintai aku agar aku tidak terlihat murahan!"
Arsen mendengus, kini ia mendorong wajah Miwa agar menjauh.
Miwa berdecak dengan tangan bersedekap dada lalu memandangi jalanan luar dari balik jendela.
Sesampai nya di mansion, Arsen keluar dan melangkah lebih cepat ke kamarnya. Miwa yang telat menyusul karena heels nya akhirnya menghela nafas kesal melihat pintu kamar Arsen sudah di kunci.
Miwa memilih berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Ia duduk di meja bundar di dapur seraya meneguk segelas air.
Tessa keluar dari kamar menuruni anak tangga dan berjalan ke dapur kala mata nya mendapati Miwa yang sedang duduk seraya menyantap cemilan yang tersedia di toples.
"Sibuk sekali menjadi sekretaris!" ledek Tessa seraya menuangkan air ke gelas lalu membawa nya ke meja tempat Miwa duduk.
"Tentu saja, banyak pekerjaan yang harus aku lakukan," sahut Miwa.
"Cih, pekerjaan apa. Aku yakin kau hanya membuntuti kak Arsen saja," sahut Tessa. "Sebenarnya kau kenapa ingin menjadi sekretaris pribadi kak Arsen, Miwa?" lanjut Tessa penasaran.
"Aku hanya bosan di rumah," sahut Miwa seraya menunduk mengunyah cemilan di mulutnya. Jangan sampai Tessa tahu soal dirinya mencintai Arsen. Ia masih belum siap soal itu.
#Bersambung