The Devil's Touch

The Devil's Touch
#138



Aken tidak sadarkan diri tidak terlalu lama, ketika lelaki itu hendak di bawa oleh para anak buah Maxime, Aken langsung bangun.


Sekarang mereka berada di salah ruang tamu, duduk lesehan di lantai dengan buku di atas meja.


Di depannya ada whiteboard dan satu pria yang akan memimpin atau membantu kerja kelompok mereka. Yaitu Maxime.


Maxime sedang menulis contoh soal di depan, yang lain diam memperhatikan. Sementara itu mata Aken mendapati Javier yang duduk di sofa lain tak jauh dari nya.


Javier menatap mereka penuh intimidasi, terutama Aken. Aken menelan saliva nya susah payah lalu perlahan menunduk untuk mengalihkan pandangan dari mata Javier.


Ia menyikut teman di sampingnya, Alvin. Alvin menoleh.


"Ada apa lagi? jangan pingsan untuk yang kedua kalinya!" bisik Alvin.


"D-dia ... dia menatapku terus ..." sahut Aken berbisik.


Mata Alvin menoleh ke arah Javier yang memang menatapnya. Alvin buru-buru mengalihkan pandangan kembali ke whiteboard di depan.


"Jangan di lihat," ucap Alvin tanpa mengalihkan pandangan nya lagi dari whiteboard.


Maxime kemudian berbalik setelah selesai mengerjakan soal di whiteboard tersebut.


"Kerjakan nomor satu seperti ini, ini hanya contoh soal. Cara mengerjakan nomor satu kurang lebih sama seperti ini." Maxime menunjuk soal di whiteboard.


Semuanya mengangguk dan mulai mengerjakan tugas nomor satu mereka secara kelompok. Setiap kelompok di kelas mereka di beri soal berbeda.


Mereka mengerjakan dengan mata sesekali beralih menatap whiteboard di depan, hanya untuk melihat bagaimana cara menguraikan jawaban tersebut.


"Coba saja tidak ada X dan Y. Mungkin akan lebih mudah, misalnya satu tambah satu, dua tambah tiga ..." ucap Faiz seraya terus menghitung soal matematika tersebut.


"Itu soal untuk anak kecil bod*h," sahut Tino.


Maxime yang duduk di sofa berdehem karena melihat mereka malah mengobrol. Sontak mulut mereka tertutup rapat.


Javier beranjak dari sofa menghampiri mereka, sementara itu di lantai atas ada Sky, Kara dan Liana yang sedang menonton Milan dan yang lain mengerjakan tugas mereka.


"Aku jadi ingat masa sekolahku dulu," ucap Sky.


"Ya, kau kan sering menyontek denganku," sahut Liana seraya terkekeh pelan.


"Terbalik, kau lah yang suka menyontek. Aku tidak!" ucap Sky tidak terima.


"Menyontek itu hal wajar, aku walaupun pintar dulu juga pernah menyontek. Kita tidak bisa hidup sendiri, selalu butuh orang lain," sambung Kara.


"Alasan saja kau ini! tidak ada hal yang membenarkan menyontek!" sahut Sky membuat Liana dan Kara tertawa.


Javier duduk di sofa tepat di samping kiri Aken sementara Maxime duduk di samping kanan Milan.


Aken menggeser tubuhnya perlahan ketika merasa terlalu dekat dengan Javier. Aken begitu gelisah dan tidak nyaman dengan tatapan dari Javier.


Meja ruang tamu itu tiba-tiba bergetar, mereka semua berhenti menulis. Ini bukan karena gempa, ketika menoleh ke kiri ternyata tangan Aken sedang gemetar hebat di atas meja.


Maxime mengusap wajahnya kasar lalu menggelengkan kepala. Dari tadi Aken selalu banyak drama saja.


"Aken tenangkan dirimu ..." bisik Alvin.


"Ganti tempat duduk saja," bisik Faiz kepada Alvin.


Alvin berdecak lalu berdiri dan berpindah duduk di samping kiri Aken, jadi Alvin lah yang duduk dekat dengan Javier yang sedang menyenderkan punggung nya di atas sofa seraya tangan bersedekap dada.


Maxime menarik diri dari sandaran sofa, menunduk melihat buku Milan seraya mengelus kepalanya.


"Bisa sayang?"


Milan mendongak sesaat lalu mengangguk. Maxime tersenyum mengacak-ngacak gemas kepala Milan.


Hal itu sontak membuat Alvin dan yang lain semakin tidak nyaman. Miwa datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman lalu menyimpan nya di atas meja.


"Anak-anak santai saja mengerjakan tugasnya, sambil ngemil juga boleh," ucap Miwa memindahkan beberapa minuman dan makanan di nampan ke meja.


Miwa kembali ke dapur setelah menyimpan cemilan untuk Alvin dan yang lain. Kini Arsen pun berjalan bergabung bersama mereka dan duduk di samping Maxime.


"Kerjakan cepat!" ucap Arsen dengan nada dingin dan datar kepada Alvin dan yang lain.


Mereka semua terlonjak kaget, rasanya kerja kelompok ini begitu menyeramkan. Maxime berdecak.


"Jangan membentak mereka, Ar!! kau membuat Milan kaget juga!!"


"Aku berkata kepada empat lelaki itu, bukan Milan!!" sahut Arsen.


"Apa soalnya sulit?" Thomas yang bungkam kini buka suara.


Alvin, Faiz, Tino, Aken dan Milan menoleh ke arah Thomas lalu menganggukan kepala.


"Jangan harap kalian bisa keluar dari mansion ini, kecuali jawaban kalian benar semua!" ancam Javier membuat geng ikan lele menelan saliva nya susah payah.


Maxime menghela nafas. "Bisakah kalian semua pergi? jangan membuat mereka takut!! ini kerja kelompok bukan penyekapan musuh!!"


"Kalau tidak ada Milan kau tidak akan membela mereka," ucap Sekretaris Han.


"Dan kalau tidak ada Milan, mereka juga tidak mungkin ada di sini Daddy Han," sahut Maxime.


Geng ikan Lele hanya menatap bergantian mereka yang bicara. Kecuali Milan, ia tetap fokus dengan buku nya karena sudah tahu bagaimana keluarga De Willson sebenarnya.


Thomas mengangguk. "Iya, dia benar. Kalau tidak ada Milan ke empat bocil ini juga tidak ada di sini." Menunjuk geng ikan lele dengan dagu nya.


Geng ikan lele hanya saling menyikut karena bingung harus apa. Apa mereka sebenarnya tidak di terima di sini, kalau begitu kerja kelompok di rumah Alvin jauh lebih baik.


Mereka bisa mengerjakan tugas sambil tiduran dan makan cemilan. Tapi di sini, mau ambil minum karena tenggorokan nya kering saja tidak berani.


Milan menyikut Tino. "Tino ayo cepat kerjakan!" bisik nya.


Tino mengangguk lalu menyikut Faiz agar kembali mengerjakan tugas mereka, Faiz menyikut Aken sampai Aken menyikut Alvin.


"Ada yang di tanyakan?" tanya Maxime kepada mereka.


Geng ikan lele menggeleng, padahal sebenarnya banyak yang mereka tidak mengerti. Seperti angka tiga di whiteboard itu hasilnya darimana, beruntung lah Milan menanyakan kebingungan mereka.


"Maxime angka tiga itu darimana?" tanya Milan menunjuk whiteboard di depan.


Mereka semua menoleh ke arah whiteboard, termasuk Javier dan yang lain.


"Angka tiga itu dari pengurangan di atasnya kan?" bisik Thomas kepada Javier.


"Buka bod*h!! kau hitung saja hasilnya bukan tiga kalau ada yang di kurang!!" jawab Javier.


"Oh ... aku sudah lupa pelajaran sekolah," sahut Thomas yang di jawab gelenggan kepala dari Javier dan Sekretaris Han.


"Y\=3 sayang, lihat paling atas."


Milan mengangguk-ngangguk, Maxime tersenyum.


"Oh jadi dari huruf Y. Kenapa harus ada Y. Maksudku langsung saja tulis 3 agar mereka tidak bingung. Iya kan?" ucap Thomas yang mendapat decakan sebal dari Javier.


"SELAMAT SIANG MENJELANG SORE ..." suara itu menyeruak dari luar mansion, mereka semua menoleh ke arah pintu dan ternyata ada Keenan, Philip beserta Athes and the geng datang menjadi tamu siang ini.


Maxime, Arsen, Javier, Sekretaris Han dan Thomas menghela nafas seraya menggelengkan kepala melihat kedatangan mereka. Bukan tidak senang, tapi setiap ada mereka pasti ribut tidak jelas.


Bersambung