The Devil's Touch

The Devil's Touch
201



Maxime terus bergerak-gerak dalam tidurnya karena ia terganggu dengan suara katak, jangkrik dan serangga bersuara nyaring di belakang rumah Jack. Kebetulan di belakang rumah Jack ada sawah.


Dengan kesal Maxime pun membuka mata, ia menoleh ke arah Milan. Gadis itu tidak terganggu sama sekali, dia masih tidur terlelap.


"Apa katak itu tidak menganggu telingamu sayang," ucapnya dengan mengelus kepala Milan.


Kemudian Maxime keluar dari rumah, suasana sangat sepi, pencahayaan sangat temaram karena hanya ada beberapa lampu kecil yang menempel di dinding rumah panggung yang lain.


Maxime mengambil batu, membawanya ke belakang rumah Jack kemudian melempar batu itu ke sawah.


"Diam kau katak sial*n!!" kesalnya.


Beberapa detik, suara itu menghilang. Katak dan jangkrik itu tidak bersuara lagi. Tapi ketika Maxime berbalik, mereka kembali bersuara membuat Maxime mendesis kesal.


Maxime mencari batu yang lain di sekitarnya lalu kembali melemparnya ke sawah. Tetap sama, suara katak dan jangkrik itu hanya berhenti sebentar.


Karena merasa mereka tidak akan berhenti bersuara, Maxime kembali ke rumah Jack.


Ketika masuk rumah ia mendapati Milan terbangun dari tidurnya. Milan duduk dengan selimut tebat menutupi tubuhnya.


"Kenapa bangun sayang."


"Kau darimana?"


"Aku baru berperang dengan katak," sahut Maxime kemudian memeluk istrinya.


"Aku tidak bisa tidur, mereka berisik sekali," lanjut Maxime.


Milan tertawa. "Kau tidak pernah tidur dekat sawah seperti ini ya, justru enak tau suara mereka, pengganti musik."


"Aku lebih suka suaramu daripada suara katak itu," ucap Maxime menatap Milan dengan tersenyum.


"Oh, jadi aku di samakan dengan katak?" Milan pura-pura kesal.


Maxime terkekeh pelan lalu mencubit hidung Milan.


"Kau ratu katak ..."


"Kau ..." Milan melebarkan matanya. Kemudian langsung menggelitiki tubuh suaminya itu.


"Berani sekali ya, berani sekali kau bilang aku seperti itu!"


Maxime hanya tertawa, seraya memegangi tangan Milan. "Sudah ... sudah aku bercanda sayang."


Milan memalingkan wajahnya dengan membenarkan selimutnya.


"Uuuu ... sayang aku malah." Maxime mencoba memeluk Milan yang terus-terusan menepis tangannya.


"Sayang mau peyuk ..." Maxime melentangan kedua tangannya.


Milan mencoba menahan kedutan di bibirnya agar tidak tertawa mendengar suara Maxime yang berubah menjadi manja.


"Peyuk aku ... peyuk aku ..." rengeknya dengan manja.


"Sayangggg ..."


Milan langsung memukul dada berotot Maxime. "Berhenti!! kau mau Jack dengar!!"


Maxime menarik tangan Milan masuk ke pelukannya. "Ya sayang, jangan bilang siapa-siapa ya. Aku malu ..." Milan tertawa, begitupula dengan Maxime.


Kemudian Maxime membuka selimut Milan dan langsung menunduk mendekati perut gadis itu.


"Hei, anak kecil. Kau kedinginan tidak di dalam sana ..."


"Aku hangat Daddy," sahut Milan dengan mengubah suaranya menjadi anak kecil.


Maxime terkekeh pelan. "Oh, kau hangat. Sepertinya Mommy mu yang kedinginan."


"Kau dingin kan sayang, ayo aku peluk."


Maxime memeluk Milan lalu membawanya kembali tiduran, kini mereka ada di dalam selimut berdua saling berpelukan.


Milan hanya merasakan benar-benar hangat sekarang di pelukan Maxime. Lebih hangat dari pada tubuhnya di lilit selimut seperti bolu gulung tadi.


*


Keesokan harinya, Jack sudah pergi ke sungai untuk mencari ikan, setelah sebelumnya sudah memotong ayam dan menyuruh Sherly memasaknya. Aron sudah pergi ke tempat belajarnya.


Maxime dan Milan masih tidur berpelukan, bahkan ketika Sherly berjalan bolak-balik dari luar ke dapur melewati ruang tengah tempat mereka tidur, mereka tidak bangun sama sekali dengan suara langkah kaki Sherly.


Setengah jam kemudian Milan menggeliat, meregangkan ototnya lalu perlahan membuka matanya. Ia melihat tangan kekar suaminya yang masih melingkar di perutnya.


Suasana sudah sangat terang, Milan menggoyang-goyangkan lengan suaminya untuk membangunkannya.


"Sayang ... sudah pagi, ayo bangun," ucap Milan dengan suara serak.


"Errrkkkghh ... sebentar lagi ya," sahut Maxime dengan kembali memeluk Milan dengan erat.


"Ayo bangun, Jack dan Sherly sudah bangun. Kau tidak malu, kita tamu di sini ..."


"Sayang ... kataknya semalam tidak mau diam, aku kurang tidur," sahut Maxime tanpa membuka matanya.


"Yasudah, kau tidur saja. Aku mau cuci muka."


Ketika Milan menyibakan selimutnya, Maxime langsung terduduk dari tidurnya dengan perlahan membuka mata. Milan masih memandangi suaminya itu yang terlihat sangat ngantuk.


Maxime menghela nafas. "Tadi malam katak, sekarang burung!!" kesal Maxime mendengar kicauan burung di pagi hari.


Milan terkekeh lalu memainkan pipi Maxime yang masih setengah sadar. "Burung itu alarm untukmu agar bangun tau ..."


"Eh kalian sudah bangun ..." Sherly datang menghampiri mereka.


Mendengar suara Sherly, bukannya menambah kesadaran Maxime untuk membuka mata, pria itu malah kembali tidur di pundak Milan.


"Eh hehe ... iya Sherly, maaf kita terlambat bangun," ucap Milan lalu mendorong kepala Maxime dari pundaknya, beruntung Maxime masih bisa menyeimbangkan tubuhnya sampai tidak jatuh.


"Tidak apa-apa, kalau masih ngantuk tidur saja."


"Ya, kami masih ngantuk. Tolong buatkan kami makanan ..." ucap Maxime dengan mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Sherly pergi.


Milan melebarkan matanya. "Kau ini, dia bukan pelayanmu di mansion!!" ucapnya pelan kepada Maxime.


"Tidak apa-apa, Milan. Tunggu sebentar ya, aku masih memasak." Sherly kembali ke dapur membuat Milan menghela nafas karena kurang nyaman dengan sikap Maxime.


Milan berdiri dan menarik tangan Maxime. "Ayo mandi dulu ..."


Setelah beberapa kali memaksa, akhirnya Maxime bangun. Mereka langsung pergi ke belakang rumah Jack.


Maxime dan Milan mengintip sumur yang cukup dalam.


"Sayang mundur, nanti jatuh."


"Kau harus menimba airnya lebih banyak, aku mau mandi," ucap Milan.


"Oke, bawakan aku ember."


Milan mengambil dua ember di dalam kamar mandi lalu meletakannya di samping kaki Maxime.


Maxime menimba dengan semangat, Milan menunggu di belakangnya. Maxime memasukan tangannya ke ember timbaan itu sebelum mengisi ember yang lain, kemudian ia menghela nafas karena air dari sumur sangat dingin.


"Sayang, jangan mandi. Airnya dingin sekali, nanti siang saja. Aku takut kau masuk angin."


"Air di sini sudah pasti dingin, tapi tidak akan masuk angin, justru semakin segar tau. Ayo cepat aku mau mandi ..."


"Tapi ..."


"Ihh aku mau mandi ..." rengek Milan.


Maxime pun mengalah, mengisi ember-ember tersebut sampai penuh lalu membawanya ke kamar mandi.


"Aku menjagamu di luar sayang ..." ucap Maxime lalu duduk di depan kamar mandi seraya merokok. Kamar mandi itu tidak terlalu tertutup membuat Maxime khawatir ada yang mengintip istrinya.


Bersambung