
Milan langsung mendorong tubuh Maxime dan pura-pura membenarkan seragam nya seraya menunduk. Ia tak berani menatap pria ini kala sikap Maxime tiba-tiba berubah menjadi begitu baik dengan nya.
"Kenapa kau mengikat rambutmu lagi?" tanya Maxime menatap Milan yang masih menunduk.
"A-aku gerah," sahut Milan.
"Ini masih pagi, kau bahkan belum berkeringat."
Milan perlahan mendongak. "Aku lebih suka rambutku di ikat."
"Kau lebih cantik tanpa ikat rambut."
"Hah? apa?" Kupingnya tidak salah dengar, kenapa Maxime bilang ia cantik.
"Kau lebih cantik tanpa ikat rambut," ulang Maxime membuat Milan kikuk dan salah tingkah.
"O-oh ..." gadis itu menggaruk kening nya seraya menunduk.
Maxime menaikkan satu alisnya lalu ikut menunduk mengikuti arah pandang Milan. Gadis itu tidak ada kerjaan malah melihati sepatunya sendiri.
Maxime menarik tangan Milan dan meminta nya duduk di kursi panjang depan gudang lalu dengan cepat Maxime mengambil sepatu kanan Milan dan membersihkan nya dengan tisu basah, pria itu membersihkan pinggiran sepatu Milan. Sebenarnya sepatu Milan tidak kotor tapi karena Milan terus memperhatikan sepatu nya tadi alhasil pria ini berpikir sepatu nya kotor lagi.
"Tadi pagi aku sudah membersihkan nya, apa ini kotor lagi? mau aku cuci tapi tidak akan kering. Pulang nanti kita beli sepatu baru ya ..."
Milan segera mengambil sepatunya lagi. "Tidak, tidak perlu." gadis itu kembali memakai sepatu nya.
Maxime menatap gadis di sampingnya yang sedang memakai sepatu seraya membungkukan badan, seketika Maxime ikut membungkuk dengan wajahnya mendekati wajah Milan. Dan ketika Milan menoleh ke samping.
"Astagaa!!!" Gadis itu langsung berdiri dan menjauh karena wajah mereka sangat dekat dan Milan hampir tak sengaja mencium Maxime jika tidak spontan menjauh.
Maxime terkekeh. "Kenapa?" tanya nya tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
"Ti-tidak ... Aku harus ke kelas." gadis itu pun berjalan melewati Maxime tapi baru saja tiga langkah di depan Maxime ia kembali membalik.
"Tunggu ... kenapa kau di sini?" tanya Milan.
"Berhubung kepala sekolah di ganti dia membutuhkan tanda tangan ku, karena aku membayar semua tunggakan sekolahmu," sahut Maxime yang tentu saja berbohong.
"Dari mana kau tau kepala sekolah di ganti?" tanya Milan.
"Mr Rian menghubungiku."
"Ohh ... baiklah. Terimakasih, aku harus pergi." Milan pun berjalan tergesa-gesa meninggalkan gudang.
"Jangan bolos lagi yaa," teriak Maxime.
*
Sementara itu empat mobil sedang melaju di kawasan kebun teh, tentu saja itu mobil pemimpin ketiga Yakuza, Javier De Willson bersama para antek-anteknya.
Padahal niatnya hanya ingin mengunjugi putra nya, Maxime. Tapi yang lain malah ingin ikut.
Di mobil keempat Keenan yang duduk di samping Philip yang sedang mengemudi komat-kamit tidak jelas seraya merapatkan kedua tangan nya layaknya orang berdoa.
"Kau sedang apa?" tanya Philip menoleh sesaat lalu kembali fokus dengan jalanan.
"Berdoa," sahut Keenan lalu kembali komat-kamit tidak jelas.
"Meminta apa?" tanya Jonathan di belakang.
"Minta umur panjang ya?" tebak Aiden.
Keenan menoleh ke kursi belakang seraya berdecak. "Ck! bukan bod*h!"
"Lalu?" tanya Nicholas.
"Aku sedang berdoa semoga Maxime tidak ada di petshop."
"Kenapa kau berdoa seperti itu? sebenarnya kau sedang merencanakan apa?" tanya Philip begitu penasaran pasalnya hari itu Keenan melarang dirinya untuk memberitahu Maxime bersama seorang perempuan di petshop.
"Kalian tidak perlu tau, lihat saja nanti," sahut Keenan.
Tak lama kemudian keempat mobil itu sampai di depan petshop Maxime. Semua orang keluar dari mobil, hanya Miwa dan Tessa yang tidak ikut. Dua perempuan itu memilih bersenang-senang saja.
Javier memercak pinggang melihat tanda tutup di pintu.
"Kenapa malah tutup!"
"By cepat, tidak biasanya petshop nya tutup. Aku takut Maxi kenapa-kenapa," sahut Sky yang berlari kecil menaiki empat anak tangga untuk membuka pintu petshop dan ternyata, di kunci.
"Loh, kok di kunci. MAXI ... MAXI ..." teriak Sky seraya menggedor-gedor pintu.
Yang Sky lihat hanya induk kucing bersama anaknya sedang makan di dalam kandang.
"Sepertinya dia tidak ada di sini," ucap Thomas yang membuat Keenan menghembuskan nafas lega.
"Perusahaan?" Sekretaris Han mencoba menebak.
"Sepertinya tidak mungkin," sahut Javier. "Anak itu jarang sekali datang ke perusahaan."
"Ya, dia tidak mungkin di sana," sambung Xander.
"Aku akan menelpon Arsen," ucap Kara.
Arsen yang sedang sibuk dengan laptopnya di meja mendengar ponselnya berbunyi. Ia menggeser tanda hijau di ponselnya tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Hallo," sapa Arsen.
"Hai, Nak. Ini Mommy."
"Momm hey ... apa kabar?" tanya Arsen seraya menyenderkan punggungnya di kursi berbicara santai dengan sang Ibu sebelum akhirnya ia di kejutkan oleh sesuatu.
"Mommy Baik. Oh iya, Dimana Maxi? Kita semua ada di depan petshop nya sekarang."
"APA?!!" saking terkejutnya ia sampai berdiri dari duduknya.
"Arsen kau kenapa?" tanya Kara panik mendengar anaknya berteriak.
Melihat Kara panik mereka semua yang ada di petshop pun ikut panik.
"Ada apa?" tanya Liana.
Kara mengangkat tangan nya meminta Liana diam terlebih dahulu.
Sementara di kantor Arsen sedang menggaruk keningnya bingung memikirkan alasan yang tepat. Pasalnya Maxime memang lebih banyak menghabiskan waktu di petshop di banding di tempat lain, bahkan klab pun jarang pria itu kunjugi.
"Eummm Maxime ..."
"Ya, dimana Maxime?" tanya Kara.
Javier yang sudah tak sabar mengetahui keberadaan anaknya segera mengambil ponsel di telinga Kara.
"Maxime tidak memelihara anak babi kan?" tanya Javier langsung ke point pentingnya.
Ya, tujuan nya datang kemari memang untuk meluruskan ucapan Philip hari itu. Javier yakin anaknya tidak mungkin tidak waras seperti Philip yang memelihara anak babi.
"Hah, apa Daddy Javier?" Arsen semakin bingung. Kenapa tiba-tiba anak babi yang di bahas.
"Maxime tidak memelihara anak babi di petshop nya kan?" ulang Javier.
"Ti-tidak. Ya, setauku tidak. Kalau pun iya, mungkin untuk di jual seperti yang di lakukan uncle Philip."
"Tidak, bukan untuk di jual. Seperti di jadikan seorang anak," sahut Javier.
Arsen mulai frustasi, kini pria itu menggaruk kepala nya. Ada apa ini, kenapa pembahasan ini tidak jelas kemana arahnya. Mana mungkin Maxime memelihara anak babi untuk di jadikan seorang anak.
"Hallo Arsen ..." panggil Javier.
"Ya, Dad. Siapa yang bilang Maxime memelihara anak babi?" tanya Arsen kini.
"Philip," sahut Javier.
Arsen tiba-tiba berdecak lalu kembali duduk di kursinya. Kalau sudah berurusan dengan salah satu uncle nya itu pasti ini bukan hal serius.
Arsen mencoba berpikir, apa yang di maksud anak babi oleh uncle Philip dan tiba-tiba otaknya mengarah ke wajah Milan.
"Apa anak babi yang di maksud uncle Philip itu Milan," batin Arsen yang mencoba menebak-nebak.
"Arsen Hallo ... kenapa kau diam? apa itu benar?" tanya Javier tak sabaran.
Seketika Arsen tertawa, berani-berani nya Philip menyamakan Milan dengan anak babi. Ya, Arsen yakin anak babi yang di maksud Philip itu Milan karena Maxime pernah bercerita kalau dirinya berkumpul dengan semua uncle tidak warasnya itu hanya karena keberadaan Milan tidak sengaja di ketahui oleh mereka.
"Dengar ini," ucap Javier pelan lalu ia menekan tombol loudspeaker di ponselnya.
Sontak tawa Arsen terdengar oleh semua orang termasuk sang Ayah, Sekretaris Han.
Semua orang saling menatap bingung, kenapa tidak nyambung. Yang di tanyakan Javier benar atau tidak tentang gosip anaknya memelihara anak babi tapi malah di jawab tawa keras dari Arsen.
Sekretaris Han dengan cepat mengambil ponsel itu dan mematikan panggilan nya.
"Aku sekarang khawatir dengan anakku, kita ke perusahaan sekarang!"
Sekretaris Han pun masuk ke mobil di ikuti yang lain. Jangan, jangan sampai anaknya tidak waras. Masa tertawa tanpa alasan seperti itu.
"Hallo ... hallo ... daddy Javier ... hallo ..." Arsen terus memanggil Javier dan berdecak kala melihat panggilan nya sudah di akhiri.
Bersambung