
Maxime memarkirkan motornya di depan petshop, Milan masuk lebih dulu ke kamar mandi setelah menyimpan helm di jok motor. Milan sudah tidak kuat menahan buang air kecil dari tadi. Sebelum masuk ke kamar mandi ia sudah memasukan anak kucing ke kandang.
Ketika ia hendak turun dari motornya, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan dari sang Ayah, Javier.
"Hallo Dad."
"Jujur juga anak ini!!"
"Apa?" tanya Maxime.
"Dad menelpon mu karena kau sudah mengakui dia gadismu. Sekarang bawa di ke sini!" pinta Javier.
"Nanti saja kalau dia mau menikah denganku, aku akan membawa nya bertemu dengan mu dan Mommy."
Javier menghembuskan nafas. "Itu kelamaan Maxi!"
"Aku tau, tunggu saja ..." .
"Sudahlah menikah saja!" titah Javier.
"Pernikahan bukan permainan!" sahut Maxime.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak mau menikah tanpa di dasari rasa cinta sepertimu dan Mommy!!"
"Jangan permasalahkan hal itu, lihat saja sekarang. Ibumu sangat mencintai Dad, pernikahan untuk mengikat gadis itu agar tidak kabur!!"
"Ini berbeda Dad, Mom terlahir sebagai seorang anak mafia juga, mom tidak punya alasan untuk meninggalkan mu karena grandpa juga mafia. Tapi gadisku ... walaupun sudah mengikatnya dengan pernikahan belum tentu dia tidak akan kabur. Aku hanya menunggu dia mencintaiku dulu baru kami akan menikah."
Javier menghembuskan nafas. "Sulit sekali menasehatimu, Miwa saja meminta bantuan kepada Dad soal perasaan nya kepada Ar-"
Javier tiba-tiba berhenti, ia hampir saja keceplosan mengenai hubungan Miwa dan Arsen.
"Perasaan Miwa kepada siapa?" Tanya Maxime datar.
"Hallo ... Hallo Maxi Hallo ... Dad tidak bisa mendengarmu ... Hallo ..."
tut
Javier menghela nafas seraya mengusap-ngusap dada nya. Sementara Maxime berdecak sebal.
Pria itu pun masuk ke petshop dan membuka laptop di meja kasir. Ia membuka cctv di mansion nya.
Dan ternyata error, Miwa pasti sudah merusak cctv di mansion. Maxime sangat yakin kata Ar yang di ucapkan Ayahnya pasti Arsen.
Ponselnya bergetar tanda pesan masuk dari seseorang. Ketika ia melihatnya itu dari salah satu anak buah yang menyekap Daffa.
Tuan apa yang harus kami lakukan dengan lelaki ini?
Maxime pun membalas.
Besok aku menemui nya.
*
Keesokan harinya mereka berangkat pagi seperti biasa. Maxime seperti biasa berhenti di depan halte.
"Kau masuk dulu, aku ada urusan sebentar. Diam saja di kelas ya." Maxime mengelus kepala Milan.
Gadis itu mengangguk dan keluar dari mobil berjalan menuju sekolahnya.
Setelah memastikan Milan masuk ke sekolah, Maxime melajukan mobilnya untuk bertemu dengan Daffa.
Ia pun berlari mencari taxi di dekat sekolah nya. Ada satu taxi yang sudah nangkring di depan sekolah nya. Gadis itu pun masuk dan meminta supir untuk mengikuti mobil Maxime diam-diam.
Milan selalu penasaran dengan kalimat Maxime yang mengatakan ada urusan dan urusan. Tapi tidak tahu urusan nya apa.
"Jangan sampai kehilangan jejak ya, Pak," ucapnya kepada supir di depan.
Supir itu mengangguk. "Iya, siap."
Mobil Maxime belok ke salah satu bangunan yang sudah tua. Jarak antara sekolah dan bangunan ini tidak terlalu jauh, sepuluh menit sudah sampai.
Milan turun setelah meminta supir untuk menunggu nya sebentar.
Ia masuk mengendap-ngendap ke bangunan itu, isinya hanya bangunan kosong dan kotor.
Milan celengak-celingkuk mencari Maxime, tidak tahu kemana perginya pria itu karena banyak ruangan di dalam bangunan tersebut. Sampai akhirnya Milan mendengar suara lelaki menjerit.
Sontak gadis itu menutup mulutnya kaget, dengan jantung berdebar Milan masuk semakin dalam mencari-cari asal suara tersebut.
Ada salah satu pintu yang menurutnya asal dari suara lelaki itu, Milan mendekat dan mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit. Hal yang pertama ia lihat adalah, Daffa.
Milan membulatkan mata kala melihat Daffa musuhnya di sekolah kini terlentang lemas di lantai dengan seseorang yang mencambuk perutnya.
"Maxime ..." gumam nya. Bukan hanya Maxime saja, ada beberapa orang di dalam sana dengan pakaian serba hitam hanya berdiri membiarkan Daffa di cambuk.
Setiap cambukan membuat tubuh Daffa bergetar dan meringis meminta ampun. Tapi apa daya, Maxime sudah sangat marah.
Hanya karena Daffa anak orang kaya, lelaki gendut itu seenaknya menyuruh orang untuk memperk*sa Milan.
"BERANI SEKALI KAU MENYURUH ORANG UNTUK MEMPERK*SA MILAN!!" teriak Maxime.
Salah satu anak buahnya memberikan pistol kepada Maxime. Lalu.
DOR
Milan menjerit seketika, semua orang terbelalak dengan suara Milan. Maxime dengan cepat membuka pintu dan mendapati Milan yang sedang menutup kedua telinga dengan tangan nya, tubuhnya bergetar karena kaget dengan suara pistol.
Wajahnya pucat dan menatap Maxime dengan tatapan kebencian.
"Milan ..."
"Pem-bu-nuh ..." ucap Milan terbata lalu hendak pergi tapi tangan nya di cengkram kuat oleh Maxime.
"Milan dengarkan aku dulu!!"
Milan berusaha melepaskan tangan nya. "Lepaskan, lepaskan aku!!"
"Kau tidak bisa pergi!!"
Mata Milan berkaca-kaca ia berteriak dengan kesal. "Aku tidak pergi karena aku mengingat kebaikanmu!! aku tidak pergi karena aku pikir kau mafia yang tidak membunuh orang!! dia temanku Maxime ... TEMANKU!!"
"Dia musuhmu!!" sahut Maxime penuh penekanan.
"TAPI KAU TIDAK BERHAK MEMBUNUHNYA!!"
Melihat Daffa mati di tangan Maxime membuat Milan membulatkan keputusan nya untuk pergi dari Maxime.
"Aku pikir sikap baikmu beberapa hari ini karena kau sudah menerima identitas asli ku Milan ..." lirih Maxime menatap sendu gadis yang terus memberontak minta di lepaskan itu.
Bersambung