The Devil's Touch

The Devil's Touch
#194



Sudah hampir satu bulan lebih Daniel dan Tessa sudah tinggal di mansion Maxime, malam pertama mereka saat itu gagal karena Tessa tiba-tiba datang bulan dan membuat mood Daniel buruk di keesokan harinya.


Tapi sekarang, mereka semua kembali seperti biasa. Sarapan bersama seraya bercanda satu sama lain.


Selesai sarapan Maxime kembali ke kantor bersama Arsen, Daniel pun kembali ke perusahaan miliknya. Sementara ketiga istri mereka hanya diam di mansion, Miwa sedang menonton drama korea di kamarnya, Tessa sedang melukis sementara Milan sedang menonton video seorang perempuan sedang bermain piano.


Hueekk ...


Milan menyibakan selimut dan berlari ke kamar mandi, ia muntah banyak di kloset, semua sarapan yang masuk tadi kembali keluar. Milan berkumur-kumur di wastafel lalu mengelap mulutnya dengan tissue.


Ia menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya pucat, ini bukan kali pertama Milan mual dan muntah, sebenarnya kemarin ia juga sempat muntah tapi tidak memberitahu Maxime. Milan hanya turun ke bawah untuk membuat teh manis hangat.


Milan menghela nafas. "Kenapa sering sekali mual akhir-akhir ini," keluhnya.


Kemudian Milan kembali ke ranjang, mengambil ponselnya lagi untuk melanjutkan menonton video tetapi belum sampai lima menit Milan kembali ke kamar mandi dan muntah lagi.


Ara hendak ke kamar Miwa dan tidak sengaja mendengar suara Milan yang sedang muntah. Ia pun berhenti di depan kamar Milan lalu mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Milan ..."


Tok tok tok


"Milan ..."


"Kau baik-baik saja, Milan ..."


Karena tidak ada jawaban, Ara pun membuka pintu kamar Milan yang tidak terkunci, lalu ia melebarkan mata ketika melihat Milan muntah di kamar mandi yang pintunya tidak di tutup.


"Astaga Milan ..."


"Aunty ..." Milan berkata dengan lemas.


"Milan kau kenapa? biar Aunty telpon Maxime ya."


"Tidak-tidak Aunty." Milan langsung mencegah Ara yang hendak mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


"Loh, kenapa? kau sakit kan? biar Maxime membawa Dokter Aliandra ke sini."


Milan menggeleng. "Tidak aunty, aku baik-baik saja."


Milan mengatakan hal demikian karena memang ia hanya merasa mual dan ingin muntah ketika pagi hari saja, dari siang sampai malam Milan selalu merasa baik-baik saja.


"Aku mungkin hanya masuk angin Aunty."


"Tapi ... kau beneran baik-baik saja kan?"


Milan mengangguk.


"Yasudah, biar Aunty buatkan teh jahe untukmu dulu ya. Kau jangan kemana-mana."


Milan tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Kemudian Ara membantu Milan kembali duduk di ranjangnya.


"Tunggu sebentar ya." Ara keluar dari kamar Milan selepas mengelus kepala gadis itu.


Tapi baru saja hendak menuruni anak tangga, Ara mendengar lagi suara seseorang yang sedang muntah. Kali ini bukan dari kamar Milan, tapi Miwa.


Ara pun segera berbalik dan berlari ke kamar Miwa, ia masuk begitu saja ke kamar Miwa dan mendapati Miwa juga sedang muntah ke kamar mandi.


"Astaga kalian ini kenapa, muntah kenapa barengan seperti ini ..."


Miwa menghela nafas lalu berjalan perlahan ke wastafel, ia berkumur-kumur lalu mengelap mulutnya dengan tisu.


"Astaga kenapa ya mual sekali ..." gumam Miwa.


"Miwa, Aunty kasih tahu Arsen ya."


Miwa menggeleng. "Tidak perlu, aku hanya mual. Aku baik-baik saja Aunty."


Ara menggeram kesal. "Euhh ... kalian ini, sama-sama keras kepala. Milan tidak mau memberitahu Maxime, kau juga tidak mau memberitahu Arsen."


"Milan?" Miwa menoleh kepada Ara.


Ara mengangguk. "Ya, Milan juga barusan muntah."


"Aunty baru saja mau membuat teh jahe untuk Milan, sekarang kau juga ikutan mual. Sudah, tunggu di ranjang ya, Aunty buatkan dulu teh untuk kalian berdua."


Miwa mengangguk dengan lemas, berjalan memegangi perutnya yang terasa tidak enak. Ia kembali duduk di ranjangnya.


Selepas Ara keluar dari kamar Miwa, Miwa pun mulai berpikir.


"Apa jangan-jangan, aku hamil ya ... kalau tidak salah, bulan ini aku belum datang bulan."


Miwa segera mengambil ponselnya untuk melihat tanggal berapa hari ini. Dan ternyata ia benar-benar telat datang bulan.


"Iya, aku sudah telat. Aku harus beli tespack."


Miwa bergegas mengambil blazer dan tas di lemarinya lalu segera keluar dari kamarnya. Ara sempat berteriak memanggil Miwa ketika melihat perempuan itu berjalan cepat menuruni anak tangga, tapi teriakan Ara tidak di gubris oleh Miwa.


"Kemana Nona Miwa, buru-buru sekali," ucap Oris dengan memegang segelas minuman di tangannya menatap kepergian Miwa.


"Anak itu, tadi muntah sekarang malah pergi begitu saja," ucap Ara.


"Muntah?" tanya Oris kepada Ara.


Ara mengangguk. "Ya, Milan dan Miwa muntah banyak barusan."


Oris menyimpan minumannya di meja lalu menatap Ara serius. "Aunty, apa kau tidak memikirkan sesuatu."


"Sesuatu apa?"


"Mereka muntah. Apa jangan-jangan mereka ..." Oris menggantung kalimatnya. Ara melebarkan matanya, ia benar-benar tidak memikirkan kemungkinan Milan dan Miwa hamil.


"Iya kan, bisa saja mereka hamil," ucap Oris.


"Kau benar juga Oris, astaga kenapa aku ini bodoh sekali!" Ara mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri dengan kesal. "Aku bahkan tidak memikirkan hal itu."


"Aku akan menelpon Tuan Maxime dan Tuan Arsen."


"Ya, kau beritahu mereka. Aku harus ke kamar Milan dulu."


Ara menaiki anak tangga dengan nampan berisi dua gelas teh hangat, ketika hendak mengetuk pintu kamar Milan. Ia malah mendengar lagi suara seseorang muntah, kali ini dari kamar Tessa.


Bersambung