The Devil's Touch

The Devil's Touch
#90



"Cari gadis yang bersamaku tadi!!" titah Maxime kepada salah satu anak buah yang mengantarnya pulang ke petshop tadi.


"Siap Tuan." Anak buahnya itu yang tadinya hendak pulang ke mansion akhirnya putar balik kembali ke jalan menuju petshop.


Sementara Maxime sendiri sedang duduk di lantai meluruskan kedua kakinya seraya mengatur nafasnya dan menunggu yang di bawah sana kembali normal lagi. Ia masih merasa kesakitan.


Milan sendiri masih terus berlari dan berlari dengan sesekali menoleh ke belakang dengan wajah panik, berharap Maxime gagal menangkapnya.


Dalam langkahnya ia berharap ada satu saja mobil lewat yang membawa nya ke perkotaan, ia bisa bersembunyi dimana saja asal keluar dulu dari desa ini.


Milan berhenti sesaat memegang kedua lututnya seraya mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ia kembali berdiri menyeka keringatnya dan berjalan dengan langkah cepat.


Maxime tidak terlihat sama sekali, ia punya waktu untuk berhenti berlari walaupun sesaat.


Tapi tiba-tiba dari kejauhan ia melihat mobil anak buah yang mengantar Maxime dan dirinya pulang tadi.


"Si*l!!" umpat Milan lalu memilih masuk ke kawasan kebun teh dan jongkok di sana agar tidak terlihat oleh anak buah Maxime.


Maxime di petshop melihat tanda merah berkedip di ponselnya, itu adalah posisi Milan.


Maxime tersenyum miring, sejauh apa gadis itu berlari ia bisa melacaknya.


"Tuan maaf aku tidak bertemu dengan nya di jalan tadi ..." kata anak buahnya selepas berlari masuk ke dalam petshop.


"Dia masuk ke kawasan kebun teh," sahut Maxime. Pria itu pun mencoba untuk berdiri lagi perlahan dan anak buah nya segera membantu nya.


Ia pun memapah Maxime masuk ke dalam mobilnya. Mobil melaju untuk menjemput keberadaan Milan.


Maxime menghela nafas yang di bawah sana sudah tidak terlalu sakit lagi. Ia pun mengecek keberadaan Milan di ponsel nya.


Milan masih berada di dekat kebun teh, kemungkinan gadis itu sedang berlari lagi. Maxime menggulum senyum di wajahnya.


"Lebih cepat!" titahnya. Anak buah nya itu pun menginjak pedal gas, mobil melesat dengan kecepatan maksimum.


Milan memegang perut sampingnya yang terasa nyeri akibat tak henti berlari, ia begitu kelelahan. Sekarang gadis itu berlari tergopoh-gopoh dengan nafas memburu ia menoleh ke belakang kala mendengar suara deru mobil mendekat ke arahnya.


Seketika ia terbelalak melihat mobil tadi kembali. Milan kembali masuk ke kawasan kebun teh.


Mobil pun berhenti, Maxime segera keluar dan berterik. "MILAN BERHENTI!!"


Mendengar suara Maxime, Milan mencoba untuk berlari lebih cepat di jajaran kebun teh yang sedikit sulit di lalui.


Maxime pun masuk ke kawasan kebun teh itu dan berlari lebih cepat dari Milan.


"PERGI MAXIME!!" teriak Milan.


Maxime berhasil menarik tangan Milan dari belakang.


"Pulang sayang ... rumahmu bukan di sini!"


"Maxime ... lepas ..." lagi-lagi Milan memukul-mukul tangan Maxime.


Maxime dengan cepat memopong tubuh Milan di pundaknya seperti karung beras.


PLAK


"Diam sayang ..." Maxime berkata selepas menampar bok*ng Milan.


"MAXIMEEEE ..." Teriak Milan geram.


Maxime memaksa Milan masuk ke mobilnya, di mobil ia kembali mencengkram kedua tangan Milan dengan satu tangan melingkar kuat di pinggan gadis itu.


"Petshop!!" titah Maxime kepada anak buahnya. Mobil pun kembali berbalik ke petshop lagi.


Sesampainya di petshop, Maxime menyeret gadis itu untuk masuk dan segera mengunci pintu petshop nya.


"Masuk kamar, Milan ..." titah Maxime dengan tangan bersedekap dada.


Milan menggeleng. "Aku tidak mau!! aku ingin keluar dari sini!!"


Maxime menghela nafas kasar. "Jangan harap!! sekarang diam saja di kamarmu!!"


"Aku bilang aku tidak mau!!" teriak Milan. "Aku tidak mau bersama dengan seorang pembun*h!!"


Maxime mendekat, mengangkat dagu Milan dengan jari-jemarinya dan berbicara dingin.


"Jadi aku harus membiarkan mu di perk*sa orang lain hmm?"


"Kau tidak seharusnya membunuh Daffa!!" sahut Milan menatap tajam Maxime.


Maxime terkekeh pelan. "Terkadang matamu itu penuh ketakutan, tapi sekarang kau berani menatapku seperti itu sayang ..."


Milan menepis kasar tangan Maxime dari dagu nya. "Dulu aku ragu untuk pergi dari hidupmu Maxime!! tapi sekarang, keputusanku benar-benar bulat untuk tidak berhubungan dengan seorang mafia pembunuh sepertimu!!"


Milan pun masuk ke kamarnya lalu membanting pintu dengan keras. Ia akan memikirkan cara untuk kabur nanti.


Sementara Maxime hanya bisa menghela nafas lalu menggelengkan kepala menatap pintu kamar yang tertutup.


Di dalam kamar, Milan membuka pesan dari Tino, sahabatnya.


Mil ...


Milan ...


Kau tau tidak, Daffa meninggal.


Kau dimana? kenapa tidak sekolah?


Rumor beredar dia di bunuh karena ada bekas tembakan.


Milan menyimpan ponselnya di ranjang lalu terisak dengan menutupi wajah menggunakan kedua tangan nya. Ia frustasi, sangat. Hanya dirinya yang melihat detik-detik kematian Daffa.


Kematian Daffa sudah sampai ke sekolahnya dan hanya dia sendiri yang tahu siapa pembunuhnya.


Bersambung