
"K-kau ... kenapa kau di sini?" tanya Milan. "Dan ..." Mata Milan bergerak-bergerak melihat seragam satpam melekat di tubuh Maxime.
"Dan kenapa kau pakai seragam satpam?"
"Aku kerja di sini!" sahut Maxime.
Tino dan yang lain saling menyikut heran siapa satpam baru di sekolahnya. Padahal sudah ada satu satpam kenapa harus dua sekarang.
"Kerja?" Milan menaikkan satu alisnya seakan tidak percaya.
Maxime mengangguk. "Petshop saja tidak cukup menghidupi kita berdua jadi aku kerja saja," sahut Maxime lalu menarik ikat rambut Milan. Rambut panjang nya pun tergerai indah.
Alvin dan yang lain membulatkan mata. "Kenapa satpam itu berani membuka ikat rambut Milan?" tanya Alvin pelan kepada teman-teman nya.
"Ini tidak bisa di biarkan!" kesal Tino lalu beranjak dengan kesal menghampiri Maxime.
"HEI PAK SATPAM!"
Tino mengepalkan tangan dan hendak melayangkan pukulan kepada Maxime karena berani menyentuh teman nya, tapi baru saja tangan nya melayang di udara Maxime segera menangkap tangan Tino tanpa mengalihkan pandangan nya dari Milan.
Alvin, Faiz dan Aken melebarkan mata dengan kemampuan satpam baru di sekolahnya yang berhasil menangkap tangan Tino secepat itu.
Dengan sekali hentakan Maxime mendorong tangan Tino sampai pria itu menabrak meja di belakangnya.
"Arrghhh!!" Tino meringis.
"Tino!" teriak Milan hendak mendekati Tino tapi tangan nya lebih dulu di cengkram Maxime.
"Ayo upacara!" Maxime menarik Milan dari kantin membuat semua orang melongo seketika.
Satu tangan Milan masih memegang roti dan minuman yang di rebut dari Lina tadi.
Ketika hendak memasuki lapangan upacara Maxime melepaskan tangan Milan karena tidak mau gadis itu menjadi bahan tatapan yang lain.
Tangan nya yang terlepas dari cengkraman Maxime membuat Milan berniat untuk kabur tapi baru saja membalikkan badan.
"MILAN!!" teriak Mr Rian dengan memercak pinggang dan mata melototnya.
Maxime menghentikan langkahnya, Milan hanya bisa menghela nafas lalu kembali balik badan.
Maxime menoleh ke arah Milan seraya menggelengkan kepala.
Mr Rian menghampiri Maxime dan Milan dengan satu tangan memegang gulungan buku.
PLAK
PLAK
PLAK.
"Mr ... Mr ... ampun Mr ..."
Mr Rian memukul lengan Milan dengan gulungan buku tersebut, Maxime yang berdiri di dekat Milan pun tak niat membantu dengan hukuman yang di berikan Mr Rian, karena untuk masalah pendidikan Maxime sangat disiplin. Bahkan Miwa saja ketika sekolah sering di hukum dan Maxime tidak niat membantu. Biarkan saja Milan di hukum karena telat ke lapangan upacara.
"Upacara sudah mulai dari tadi Milan!!"
"Ya, Mr. Saya tau."
"Kalau gitu cepat baris!!" sentak Mr Rian.
"Ya kan ini mau baris Mr ih!"
Milan menghentakkan kaki nya kesal lalu berjalan dan baris di belakang.
"Ada empat orang lagi di kantin," ucap Maxime lalu berjalan untuk ikut upacara bersama yang lain dan berdiri di paling belakang bersama Pak Asep, satpam pertama di SMA Ganesha.
Mr Rian berdecak lalu berjalan dengan langkah cepat menghampiri mereka yang masih di kantin.
Para siswi yang sedang ikut upacara saling berbisik seraya sesekali menoleh ke belakang.
"Anj*r gila, satpam kita cakep banget!"
"Itu mah lebih cocok jadi aktor film bukan satpam!!"
"Parah sih, lebih cakep dari kepala sekolah."
"Ya, Mr Jack kalah sama satpam!"
Milan mendengus mendengar bisikan mereka, ini yang membuat Milan malas upacara. Terkadang mereka yang baris malah bergosip tidak jelas, membuat kuping Milan panas saja.
"Pokoknya nanti aku harus kenalan sama satpam itu titik!"
"Jangan ih, kamu mah sama Pak Asep aja biar satpam yang baru itu buat aku haha!!"
Sementara itu di belakang Pak Asep berdehem seraya menoleh ke arah Maxime. Niatnya untuk mengajaknya berkenalan.
Maxime masih fokus dengan Jack yang sedang memberikan wejangan untuk para siswa-siswi di SMA Ganesha.
Ekhhemm
Pak Asep mencoba berdehem lagi, tapi lagi-lagi Maxime tetap bergeming.
"Uhukk ... Uhukk ..."
Pura-pura batuk untuk memancing Maxime, tapi lagi-lagi Pak Asep gagal. Pak Asep berdecak seraya bergeleng menatap Maxime.
"Dia ini bisu!" gumam Pak Asep.
Dan seketika kepala Maxime perlahan bergerak menoleh ke arah Pak Asep, seakan tidak terima di sebut bisu ia melayangkan tatapan tajam nya membuat Pak Asep kalang-kabut.
"M-maksud saya ..." Pak Asep mengulurkan tangan nya.
"Nama saya Asep hehe. Bercanda tadi saya bilang bisu hehe ..."
Maxime tidak menanggapi dan kembali fokus mendengar nasehat dari Jack sebagai pembimbing upacara.
Pak Asep berdecak menarik kembali tangan nya. "Pepatah mengatakan, yang jelek yang paling ramah," gumam nya seakan menyindir Maxime. Tampan tapi tidak ramah.
Para siswi yang berbaris di depan Milan masih saja belum selesai membicarakan Maxime. Mereka terus memuji dan bertanya-tanya apa satpam baru nya itu punya instagram, dimana rumahnya, apa alasan nya menjadi satpam dan masih banyak lagi. Membuat Milan kesal sampai berteriak.
"DIAMMMM!!"
Sontak semua orang hening, bukan hanya para siswi yang sedang membicarakan Maxime saja. Tapi Jack yang sedang memberi nasehat di depan juga sontak ikut diam karena teriakan dari Milan.
Semua orang kompak menoleh ke belakang menjadikan Milan sebagai objek tatapan mereka. Milan terlihat kikuk, apalagi para guru di depan juga mencari-cari Milan.
Maxime menatap punggung Milan, seakan heran dengan sikap gadis ini di sekolah. Di petshop begitu penurut seperti kucing kecil tapi di sekolah berubah menjadi kucing agresif.
"Sudah-sudah ... kita lanjutkan upacara hari ini." ucap Jack kepada para siswa dan siswi SMA Ganesha.
Semua orang pun kembali fokus mendengarkan kepala sekolahnya yang sedari tadi terus bersuara memberi nasehat yang malas mereka dengar sampai akhirnya Jack memperkenalkan satpam baru di SMA Ganesha.
"Begini ... berhubung SMA Ganesha sangat luas sekarang, kita tidak bisa mengandalkan Pak Asep sebagai satpam sekolah tapi kita mempunyai satpam baru di sekolah ini."
Maxime berdecak. Sumpah, ia tidak ingin di kenalkan dengan cara seperti ini.
"Satpam kedua kita ... Pak MUKLIS ..." teriak Jack mengulurkan tangan nya ke arah Maxime di belakang.
Maxime cukup tinggi membuat Jack mudah melihatnya.
Semua siswa-siswi kembali menoleh ke belakang.
"HAH MUKLIS?!" teriak para siswi yang membicarakan Maxime tadi, seakan tidak percaya satpam tampan di sekolahnya mempunyai nama kampungan seperti itu.
Dari ratusan siswa yang memandang ke arahnya Maxime hanya fokus dengan mata Milan yang juga ikut menatapnya.
Mungkin Milan bingung, kenapa nama Maxime di ganti menjadi Muklis.
Di kantor Arsen tertawa terbahak-bahak mendengar nama samaran Maxime, kebetulan ada cctv yang juga dapat merekam suara di sekolah. Alhasil Arsen bisa mendengar semuanya.
"HAHAHAHA MUKLIS ... HAHAHAH ..."
*
#Bersambung