
Milan keluar dari kamar bersama Tessa di sampingnya. Maxime yang duduk di depan kamar seraya memainkan ponselnya perlahan mendongak ketika pintu kamar terbuka.
Matanya perlahan melebar dengan mulut setengah terbuka melihat penampilan Milan yang berbeda, hasil tangan Tessa membuat wajah Milan begitu cantik, make up di wajahnya tidak membuat Milan terlihat dewasa, make up yang cocok untuk gadis remaja seperti Milan dengan paduan rambut curly nya.
Tessa di sampingnya tersenyum sementara Milan yang tidak terbiasa dengan penampilan nya yang sekarang hanya bisa menunduk malu seraya mengigit bibir bawahnya.
Maxime beranjak dari duduknya menghampiri gadis itu seraya tersenyum.
"Cantik kan?" tanya Tessa.
Maxime mengangguk tanpa mengalihkan pandangan nya dari wajah Milan.
Ingin sekali Maxime menc*um gadis itu, tapi ada Tessa di sampingnya.
"Kau terlihat semakin cantik sayang ..."
Milan mendongak perlahan lalu tersenyum. Kemudian Miwa datang bersama Arsen.
"Sudah siap?" tanya nya seraya berjalan mendekati mereka, lalu pandangan nya tertuju ke wajah Milan.
"Milan ..." ucap Miwa setengah terkejut menatap Milan dari atas sampai bawah.
"Hasil riasanku," ucap Tessa bangga.
"Benarkah?"
Tessa mengangguk.
"Gila ... kau beda sekali Milan. Cantik ..." Miwa menggelengkan kepala nya yang di jawab senyuman dari Milan.
"Kau juga cantik," bisik Arsen di telinga Miwa. Miwa menyikut Arsen karena ada Tessa di dekat mereka.
Maxime berdehem agar Arsen tidak bertingkah berlebihan apalagi ada Tessa di sini. Tessa sendiri hanya menoleh bergantian mereka dengan tatapan bingung.
"Sudah, lebih baik kalian berangkat."
Mereka mengangguk.
"Yaudah ayo ..."
"Supirnya siapa?" tanya Maxime.
Miwa berdecak. "Bawa mobil sendiri lah kak, kenapa ada supir!"
"Lebih baik pakai supir saja," sambung Arsen.
"Ya, jangan menyetir sendiri!" pekik Maxime.
"Kenapa?" tanya Tessa.
"Pokoknya pakai supir!" ucap Maxime.
"Yasudah tidak usah berangkat saja kalau begitu, jangan apa-apa pakai supir, aku kan bisa bawa mobil sendiri. Tessa juga," sahut Miwa bersedekap dada.
Maxime dan Arsen mendengus kasar. "Yasudah kalau begitu ... tapi jangan ngebut," ucap Maxime.
"Oke kak," sahut Miwa tersenyum. Kemudian Maxime mengambil kunci mobil di saku celana dan memberikan nya kepada Miwa.
"Tidak usah, pakai mobilku saja kak."
Maxime menghela nafas. "Yasudah kalau begitu kalian berangkat. Hati-hati ..." Mereka bertiga mengangguk.
Miwa dan Tessa lebih dulu masuk ke dalam mobil, sementara Milan menunggu sesuatu yang di berikan Maxime. Maxime memberikan blackcard kepada gadis itu.
"Mereka pasti shopping dulu sebelum pulang, pakai ini untuk membeli apapun yang kau mau sayang ..."
"Maxime aku tidak butuh apapun," sahut Milan pelan karena tidak enak ada Arsen di dekat mereka.
"Kau akan di paksa shopping juga oleh mereka, bawa saja sayang."
Dengan ragu-ragu Milan mengambil blackcard tersebut, Maxime tersenyum mengelus kepala Milan.
"Jangan pulang larut malam karena aku pasti merindukanmu hmm."
Milan tersenyum seraya mengangguk. "Aku pergi dulu ..."
Gadis itu pun masuk ke mobil, setelah mereka masuk mobil dan mobil keluar dari halaman mansion, kedua pria itu kembali masuk ke dalam.
Miwa duduk di balik kemudi dengan Tessa di sampingnya sementara Milan duduk di belakang.
"Kita hanya pergi ke restaurant X saja?" tanya Tessa.
"Ya, mau kemana lagi memangnya."
"Bagaimana kalau shopping?" ide Tessa.
Miwa menatap Milan di spion depan. "Aku ikut saja," sahut Milan.
"Oke, kita bersenang-senang malam ini ..." Miwa tersenyum, menginjak pedal gas dan mobil melaju lebih cepat membelah jalanan kota di malam hari.
*
Mobil berhenti di lampu merah, Miwa mengambil cermin kecil di dalam tas untuk melihat riasan wajahnya, begitupula dengan Tessa. Milan sendiri hanya bisa memalingkan wajahnya menatap jalanan di balik jendela.
Miwa mencoba memainkan kunci mobilnya beberapa kali ia mencoba menghidupkan mesin mobilnya tapi hasilnya nihil.
"Ada apa?" tanya Tessa.
"Aneh, kenapa tidak bisa," sahut Miwa.
Melihat ada yang kacau dengan mobilnya, Milan pun mendekati Miwa. "Kenapa Miwa?"
Miwa mulai panik. "Mobil ini kenapa lagi sih!"
Suara klakson di belakang mereka saling bertautan, para pengemudi itu membuka jendela mobil hanya untuk berteriak marah-marah kepada mobil Miwa karena menghalangi jalan mereka.
Mereka bertiga tidak perduli dengan amarah mobil di belakangnya sampai akhirnya dengan kesal mobil di belakang mereka pun mengambil jalur lain untuk maju.
Tessa mendekati Miwa hanya untuk mengecek apa bensin mobilnya terisi penuh atau tidak lalu perempuan itu pun menghembuskan nafas.
"Miwa bensin nya habis astaga ..." kesal Tessa.
Miwa pun ikut melihatnya lalu menghembuskan nafas. "Aku lupa mengisi bensin ..."
"Lalu bagaimana?" tanya Milan.
"Kenapa kau bisa lupa!" kesal Tessa.
"Mobil ini kan sudah lama tidak di pakai karena di sita oleh Kak Maxi dan para penjaga lupa mengisi bensin nya sepertinya!" sahut Miwa.
Tessa hanya bisa menggaruk kepalanya, Miwa terlihat berpikir dan Milan hanya bisa diam melihat mereka bergantian.
"Apa restaurant nya masih jauh?" tanya Milan kini.
"Dekat, di depan sana ..." Miwa menunjuk jalanan di depan.
"Kalau begitu jalan kaki saja," ujar Milan.
"Hah, jalan kaki? yang benar saja!" sahut Tessa.
"Pesan Taxi saja," lanjut Tessa.
"Kau ingat kapan terakhir kali kita di marahi kak Maxi karena naik Taxi!!" sahut Miwa.
Miwa dan Tessa pernah hampir di culik karena naik Taxi sembarangan yang ternyata supirnya adalah orang yang membenci keluarga De willson. Sejak saat itu mereka di larang naik taxi lagi.
"Ya terus bagaimana?" geram Tessa.
"Sudah, kita ikut ide Milan saja. Jalan kaki," sahut Miwa.
"Ini lumayan jauh Miwa," ucap Tessa.
"Sambil olahraga apa salahnya," sambung Milan yang mendapat decakan dari Tessa.
Mereka bertiga pun akhirnya keluar dari mobil setelah mengirim pesan kepada anak buah Maxime untuk mengurus mobilnya.
Mereka memakai mantel dan juga masker agar tidak di kenali orang lain, bahkan Miwa terlihat memakai topi. Menjadi adik pemimpin Yakuza dan Antraxs membuat mereka terkadang di ikuti wartawan diam-diam.
Tapi tetap saja banyak Wartawan yang cerdik, baru saja lima belas menit mereka berjalan di trotoar akhirnya muncul artikel terbaru tentang mereka.
Sesampainya di restaurant X mereka duduk di meja bulat dengan wajah lelah, pelayan pun menghampiri mereka.
"Bawakan aku makanan dan minuman yang enak, terserah lah apa saja!" ucap Miwa lalu menyuruh pelayan itu untuk pergi.
"G*la, cape sekali ... sudah lama tidak jalan kaki sejauh ini rasanya kaki ku mau patah saja," keluh Tessa.
Sementara Milan terlihat biasa saja walaupun wajahnya sedikit berkeringat. Dia sudah biasa jalan kaki saat berangkat sekolah dari rumah orang tua nya dulu.
Tessa mengeluarkan ponselnya lalu membuka notif masuk tentang artikel baru yang baru saja muncul.
Lalu perempuan itu terkekeh sinis. "Adik ipar ..." ucapnya.
"Ada apa?" tanya Miwa.
Tessa memberikan ponselnya, Milan pun ikut melihat ponsel Tessa di tangan Miwa.
"Itu kita?" tanya Milan.
"Ya, siapa lagi. Kau belum pernah masuk artikel seperti itu Milan? kau kan kekasih Kak Maxi ..."
"Eh pernah, iya kan. Berita tentang kau di perk*sa kak Maxi. Berita itu cukup besar, bagaimana kabarmu di sekolah? teman-temanmu pasti menghina mu ..."
Miwa menyimpan ponsel Tessa di meja dengan kasar. "Kau ini kenapa malah membahas artikel itu, itu bukan salah Kak Maxi dan Milan. Itu salahku!"
"Ya, aku tau. Aku hanya menanyakan kabar teman-teman Milan yang menghina nya di sekolah," sahut Tessa.
"Ya, memang ada yang menghina ku. Tapi aku bisa membereskan nya sendiri ..." sahut Milan.
"Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Kita di sini untuk makan," sambung Miwa.
Bersambung