The Devil's Touch

The Devil's Touch
#180



"Nyonya ada paket untukmu," kata seorang pelayan perempuan menghampiri Rhea yang sedang berdiri di balkon menunggu kabar dari Felix dengan gelisah.


"Paket dari siapa?" tanya Rhea tanpa membalikkan tubuhnya.


"Tidak tau, Nyonya ... tidak ada nama pengirimnya."


Rhea mendengus, sebelum turun ke bawah ia sempat mengecek ponselnya. Felix masih belum menelpon nya lagi.


Kemudian Rhea menuruni anak tangga untuk melihat paket yang ada di teras depan. Rhea mengerutkan dahinya ketika melihat kotak coklat yang sangat besar lengkap dengan pita merah menghiasi kotak tersebut.


"Aku tidak memesan apapun. Paket apa ini?" tanya nya kepada para pelayan yang ada di depan teras.


Mereka menggelengkan kepala sebagai jawaban kemudian Aberto dan Smith berjalan ke depan teras.


"Apa itu?" tanya Aberto kepada Rhea.


Rhea menggelengkan kepala lalu perlahan membuka paket tersebut dan ketika kotak itu di buka sontak Rhea membulatkan matanya sampai menutup mulutnya sangking kaget nya.


Semua orang pun melebarkan mata sempurna melihat seorang mayat pria yang kepalanya setengah hancur di dalam kotak tersebut.


"Fe-Felix ..." ucap Rhea dengan nada lemah lalu kemudian perempuan itu jatuh pingsan. Beruntunglah Aberto segera menangkap tubuh istrinya itu.


*


Milan dan Miwa di bawa ke Rumah Sakit. Dua perempuan itu awalnya menolak karena merasa lukanya hanya luka ringan tapi Maxime dan Arsen tetap membawa mereka ke Rumah Sakit.


Milan duduk di ranjang rumah sakit dengan meluruskan kakinya, Maxime duduk di samping Milan dan ada Dokter Aliandra yang baru saja memeriksa keadaan Milan.


"Dia baik---"


"Baik-baik saja bagaimana? kau tidak lihat pipinya bengkak!!" potong Maxime ketika Aliandra, adik angkat Sky hendak menjelaskan keadaan Milan.


Aliandra menghela nafas dan dengan senyum di paksakan dia pun berkata. "Maxi ... yang terhormat. Bengkaknya tidak terlalu parah juga, di kompres nanti juga hilang. Aku akan memberikan obat pereda nyeri untuknya."


"Tidak-tidak, coba periksa lagi yang benar!!"


"Aku ini dokter Maxi!! aku bilang dia baik-baik saja!! kau juga tidak bod*h, kau lebih sering terkena pukulan. Kau pasti tau, luka seperti itu hanya luka ringan!!"


Milan hanya menatap bergantian Aliandra yang kini sedang berdebat dengan suaminya.


"Tapi--"


"Aku ke kamar Miwa dulu!!"


Aliandra melengos meninggalkan Maxime dan Milan, Maxime terus menggerutu.


"Dokter sial*n!! awas saja aku adukan Ibuku!!" kesal Maxime menatap kepergian Aliandra.


Milan berdecak lalu menggenggam tangan Maxime. "Sudahlah ... aku sudah bilang aku baik-baik saja."


"Sayang ..." Maxime langsung memeluk istrinya itu.


"Maafkan aku ... aku gagal menjagamu ..."


"Aku baik-baik saja, kenapa minta maaf." Milan membalas pelukan Maxime.


"Aku akan menghukum Peter, si kepar*t itu tidak becus menjagamu!!"


"Aku tadi ke kamar mandi, Peter tidak mungkin mengikutiku kan."


Maxime langsung mendongak menatap istrinya. "Aku akan membunuh Peter kalau dia mengikutimu ke kamar mandi."


Milan tersenyum. "Kau posesif sekali!!"


"Aku takut kehilanganmu ..." Maxime kembali memeluk Milan dengan memejamkan matanya. Memeluk gadis ini selalu memberi ketenangan untuk Maxime.


"Miwa ... dia menusuk kepala pria itu seperti menusuk daging ayam."


Maxime spontan membuka matanya lalu melepaskan pelukannya dan menatap Milan.


"Apa?!"


"Miwa membunuh pria itu dengan menusuk kepalanya," ulang Milan.


"Kau ... kau melihat Miwa membunuh?"


Milan menganggukan kepalanya.


"Lalu untuk apa aku menyuruhmu menutup mata ketika aku membunuh Felix kalau kau sudah melihat Miwa membunuh mereka. Tadinya aku khawatir kau trauma melihat aku membunuh mereka."


Tangan Milan memperagakan apa yang ia lihat ketika Miwa membunuh pria itu. Gadis itu seakan-akan sedang menusuk kepala pria yang menyekapnya tadi.


"Gerakannya mirip seperti menusuk daging ayam untuk di masak." Maxime terkekeh.


"Hei, jangan meledeknya seperti itu. Itu hebat, aku tidak menyangka Miwa bisa melakukannya. Kalau aku saja yang di sekap, aku mungkin hanya bisa pasrah." Milan menekuk wajahnya.


"Kau juga suka bertengkar kan."


"Tapi kalau melawan pria bersenjata seperti tadi aku lebih baik pasrah saja, kalau memalak temanku di sekolah mungkin aku hebat."


Maxime tersenyum lalu memainkan kedua pipi Milan dengan gemas. "Kau cocok jadi pemalak kalau begitu."


"Akhh!!" Milan meringis dan Maxime spontan menarik kembali tangannya karena ia lupa dengan pipi Milan yang sedikit bengkak.


"Maaf sayang ... sakit ya? aku kompres dulu ya."


Maxime mengambil wadah berisi air dingin yang sudah di siapkan oleh Dokter Aliandra tadi dan mulai mengompres pipi Milan.


*


Dokter Aliandra masuk ke kamar Miwa, terlihat ada Arsen yang duduk di sisi ranjang menemani Miwa.


"Untuk apa kau ke sini?" tanya Arsen datar.


"Lah, aku kan mau memeriksanya," sahut Aliandra berdiri di dekat pintu.


"Tidak jadi, pergi saja. Miwa hanya luka ringan, aku sudah mengobatinya sendiri."


Aliandra melihat ada plester di kening Miwa.


"Lalu kenapa kau membawanya ke Rumah Sakit kalau tau Miwa baik-baik saja," sahut Aliandra.


"Tadi aku khawatir, tapi aku sudah melihat lukanya. Hanya luka ringan, pergi saja jangan menganggu!!" usir Arsen.


"Hai Paman apa kabar?" tanya Miwa dengan senyuman ramah menyapa adik angkat Ibunya itu.


"Aku tidak baik-baik saja, aku stress!! Yang satu panikan tidak jelas, yang ini malah mengusirku!!"


Aliandra menyindir sikap Maxime yang menurutnya berlebihan karena terlalu panik padahal hanya bengkak sedikit dan menyindir Arsen yang sekarang malah mengusirnya dan mengobati kening Miwa sendiri.


Aliandra berdecak lalu keluar dari kamar Miwa.


"Kau ini jutek sekali dengannya, dia uncle kesayanganku tau Boo."


Arsen tidak menjawab ia hanya mengelus kepala Miwa.


"Oh iya Boo, Felix dan anak buahnya bukan dari organisasi mafia manapun kan, tapi kenapa dia berani mencari masalah dengan kita. Hanya di injak kakinya oleh Kak Maxi saja dia tidak bisa melawan. Bod*h kan?"


"Kaki devil memang berat, kalau di injak dengan kuat bisa patah!"


Miwa memukul lengan Arsen. "Beraninya mengatakan Kak Maxi devil!!"


"Obsesi untuk mengalahkan kekayaan kakakmu sangat tinggi, obsesinya itu yang membuatnya bod*h sampai tidak berpikir dulu sebelum bertindak," sahut Arsen.


Miwa hanya menganggukan kepala setuju dengan apa yang dikatakan Arsen.


Sementara itu di ruangan kerjanya Aliandra menghubungi Javier.


"Apa?" tanya Javier jutek.


Aliandra berdecak malas, sebenarnya ia juga tidak mau menghubungi keluarga besar De Willson. Tapi masalahnya jika ada yang sakit dan di periksa olehnya, entah itu Miwa, Tessa, Maxime atau Arsen. Jika tidak memberitahu Javier maka dirinyalah yang akan di salahkan.


"Apa kau tau putri dan menantu mu ada di Rumah Sakit?"


"Putri dan menantu ku? Di Rumah Sakit mana? kenapa?"


"Mereka baru saja di culik."


"APA?!!" teriak Javier membuat Aliandra sontak menjauhkan ponselnya.


"KENAPA TIDAK ADA YANG MEMBERITAHUKU MEREKA DI CULIK!! KURANG AJAR SEKALI AKU PUNYA DUA ANAK LELAKI YANG TIDAK MEMBERITAHUKU SAMA SEKALI!!


"Bisakah jangan berteriak Pak Tua, anak dan Ayah tidak ada bedanya. Memusingkanku saja!!" Aliandra kemudian mematikan panggilan nya membuat Javier berteriak marah di mansion nya.


Bersambung