
Milan dan Miwa mengaduk pop mie yang mereka pesan di malam hari seraya berbincang tentang apa yang mereka rasakan hari ini.
Tentang rahasia yang tidak bisa mereka ceritakan kepada orang terdekat, Miwa yang mencintai Arsen tidak bisa mengatakan hal itu kepada Kakak atau keluarga nya.
Dan Milan yang berhubungan dengan seorang mafia tidak bisa menceritakan hal itu kepada teman-teman nya.
Bahkan kepada Miwa, Milan tidak jujur sepenuhnya.
"Kau bilang tadi kau sedang bimbang tentang seseorang?" tanya Miwa seraya memasukan mie ke mulut setelah meniup nya.
Milan mengangguk. "Aku di dekati oleh seorang ..." Milan mengandung kalimat nya. .
"Seorang apa?" tanya Miwa menoleh ke arah Milan seraya mengunyah mie di mulutnya.
"Seorang kriminal," sahut Milan, ia tidak mungkin jujur tentang Maxime seorang mafia dengan orang asing. Ya, Milan tidak tahu orang asing yang duduk di sebelahnya itu adik seorang kriminal yang ia bilang.
"Kriminal?" ulang Miwa dan Milan mengangguk lalu memakan mie nya.
"Kriminal bagaimana?" tanya Miwa. "Dia pernah di penjara?"
"Eummm ... aku tidak tau, sepertinya belum," sahut Milan.
"Pernah membunuh?" tanya Miwa lagi.
"Aku juga tidak tau," jawab Milan lagi.
"Mencopet?" tanya Miwa lagi.
Milan menggeleng.
Miwa menghembuskan nafas menoleh ke arah Milan. "Lalu kriminal apa yang kau maksud? dia bandar narkoba?"
Milan menggeleng lagi. Yang Milan tahu Maxime seorang mafia dari lambang di pergelangan tangan nya, Milan tidak pernah melihat Maxime macam-macam, membunuh ataupun narkoba. Hanya pernah hampir memperk*sa dirinya saja.
"Coba kau ceritakan, kriminal apa yang kau maksud!" Miwa mulai jengkel, ia kembali memakan mie nya sembari menunggu Milan bercerita.
"Intinya dia jahat."
Miwa memutar bola matanya malas, di suruh cerita malah menjawab tidak jelas. Jahat yang di maksud Milan jahat yang seperti apa.
"Dia seorang kriminal, jahat dan kau tidak mau dengan pria itu. Begitu?" Miwa mencoba untuk mengerti maksud perkataan Milan.
Milan mengangguk.
"Kalau begitu tinggalkan saja pria itu," ucap Miwa.
"Tidak bisa, cantika. Aku tidak bisa pergi dari dia," sahut Milan.
"Aku mengerti, tidak mudah kabur dari seorang kriminal."
"Masalahnya dia sudah banyak membantuku," ucap Milan.
"Membantu apa?" tanya Miwa.
"Dia memberiku tempat tinggal dan membayar tunggakan sekolah."
Milan mengangguk.
Miwa menyimpan garpuh nya lalu menoleh ke arah Milan dengan serius. "Aku akan membantumu ... begini, dia mencintaimu tidak?"
Milan mengangguk.
"Dia kaya?"
"Iya, dia pemilik sekolah ku sekarang," sahut Milan.
"Wihhh hebat ..." Miwa mengacungkan jempol nya ke arah Milan. "Tapi tetap saja tidak ada yang mengalahkan kekayaan kakak ku sepertinya," lanjut Miwa.
"Aku tidak mau tau soal kakakmu Cantika," sahut Milan memutar bola mata nya malas.
"Oke ... oke ... apa kau merasakan seperti dia terobsesi denganmu? seperti melarangmu untuk pergi?"
Milan mengangguk lagi.
"Pernah kasar denganmu?"
"Dia cukup baik kalau aku tidak berusaha kabur," sahut Milan.
"Itu mantap Milan!!" Miwa menunjuk wajah Milan. "Kaya, obsesi dan setia. Apalagi yang kau butuhkan?!"
Milan berdecak. "Dia seorang kriminal!!"
"Hey, seandainya kau tahu pria seperti apa yang sedang aku kejar sekarang, kau pasti akan kaget Milan. Kau tau ... di luar sana masih banyak pria terlihat baik tapi miskin dan kasar terhadap perempuan!"
"Ah aku tidak mendapat solusi darimu!" sahut Milan lalu kembali menyuapkan mie miliknya.
"Di umur mu yang masih remaja kau pasti berpikir mendapatkan pria yang sempurna, bukan? kau ingin yang baik, kau ingin yang tidak kasar dan pasti kau berpikir agar kau tidak berhubungan dengan pria kriminal seperti pria yang kau maksud itu, iya kan?!"
Ucapan Miwa membuat Milan terdiam. Benar, Milan hanya berharap Maxime benar-benar seorang penjaga petshop atau satpam saja, tidak ada hubungan dengan mafia. Ia ingin kembali hidup sederhana bersama Maxime si penjaga petshop bukan Maxime si mafia.
"Aku pernah berpikir sepertimu Milan." Milan menoleh mendengar perkataan Miwa.
Miwa menatap jalanan di depan lalu menghela nafas dan tersenyum getir.
"Aku pernah berpikir lahir dari keluarga sederhana, hidup normal dan bebas seperti orang lain. Tanpa kekangan, tanpa bodyguard dan bisa dekat dengan siapapun ... tapi aku punya kembaran yang sangat mengekang ku, aku tidak boleh ini dan itu. Aku tidak boleh membantah ucapan dia ... terkadang aku kesal dan tidak menganggap kembaranku itu sebagai sosok seorang kakak ... karena dia melarangku berpacaran dengan alasan setiap lelaki yang ingin menjadi pacarku mereka bukan lelaki yang baik."
"Aku awal nya tidak percaya, sampai akhirnya aku memergoki mereka bermain wanita ... berkat dia, aku bisa lebih hati-hati dengan pria dan memutuskan untuk mencintai kakak angkat ku, aku tau kakak angkat ku seperti apa ... aku akan terus mengejar dia, karena aku yakin dia pria yang setia."
Milan masih setia mendengarkan perkataan Miwa seraya terus menatap perempuan yang menatap jalanan dengan sendu.
"Kakak angkat ku juga bukan orang baik, dia kriminal sama seperti pria yang kau maksud. Tapi aku tidak perduli soal itu karena yang aku butuhkan hanya kesetiaan Milan ... aku yakin, setidaknya nanti ada satu hal yang membuatmu beruntung bertemu dengan pria kriminal mu itu Milan, sama seperti aku yang beruntung bertemu dengan kakak angkat ku ..."
Miwa kembali menoleh ke arah Milan seraya tersenyum.
"Apa aku juga harus mengatakan aku beruntung bertemu dengan Maxime ..." batin Milan.
Bersambung