The Devil's Touch

The Devil's Touch
#119



Milan dan Miwa pulang dari sekolah bersama dan Maxime sendiri bersama Arsen baru saja keluar dari perusahaan.


Mobil Miwa lebih dulu sampai di mansion di ikuti mobil Maxime di belakangnya.


Miwa masuk ke kamarnya untuk mandi, begitupula dengan Milan. Maxime masuk ke kamarnya, membuka jas yang ia kenakan beserta kemeja nya lalu membuka pintu kamar mandi.


Milan menjerit kala seseorang membuka pintu kamar mandinya. Ia segera berjongkok menutupi tubuhnya.


"Sayang ... aku juga mau mandi," ucap Maxime yang hanya mengenakkan celana panjang saja.


"Ma-maxime ... aku sedang mandi. Kau bisa mandi setelah aku," sahut Milan lalu mengusap wajahnya yang terkena cipratan air shower.


Maxime tersenyum. "Mau mandi bareng ..."


Ia segera melepas celana nya membuat Milan spontan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Dan tanpa tahu malu Maxime berjalan melewati Milan masuk ke dalam bathup. "Sini sayang ..."


"Maxime aku--"


"Ayolah, aku sudah lihat semua tubuhmu."


Bukan menurut, Milan justru menyambar handuk yang tergantung di kamar mandi dan segera menutupi tubuhnya lalu berlari keluar dari kamar mandi meninggalkan Maxime yang hanya bisa menghembuskan nafas.


"Dia sepertinya harus di nikahi dulu baru mau masuk ke sini," gumam Maxime.


Maxime melanjutkan mandinya sendirian sementara Milan sedang mengeringkan rambutnya di sofa. Untung saja ketika Maxime masuk ia sudah selesai menyabuni tubuhnya.


Maxime keluar dari kamar mandi dengan bersiul santai seraya handuk kecil menutupi bagian bawah tubuhnya.


Ia membuka lemari dan mengambil kaos hitam dan celana pendek saja. Setelah selesai mengenakan nya ia berjalan menghampiri Milan.


"Belum pakai baju sayang?"


Milan menoleh. "Aku masih mengeringkan rambut."


"Oh ... tidak pakai baju juga tidak apa-apa," sahut Maxime lalu mengambil handuk di tangan Milan dan mengeringkan rambut gadis itu.


Sebenarnya ada hairdryer tapi entah kenapa mengeringkan dengan cara seperti ini lebih menyenangkan. Maxime masih duduk di belakang Milan terus menggosok kepala gadis itu dengan handuk di tangan nya.


"Sayang bagaimana dengan Miwa?" tanya Maxime.


"Hebat, banyak lelaki yang nurut dengan nya," sahut Milan.


Maxime terkekeh pelan. "Aku menyuruhnya untuk menjagamu tapi murid lelaki malah mencari kesempatan."


"Kau tidak suka ya dia dekat-dekat dengan lelaki sampai menyuruh Arsen menghubungiku," ucap Milan.


"Hah?" Maxime menaikkan satu alisnya tidak mengerti. "Aku tidak menyuruh Arsen menghubungimu."


Milan berbalik menatap Maxime. "Tapi Arsen menyuruhku menjauhkan Miwa dari murid lelaki di sekolah, katanya kau yang menyuruh."


Maxime terkekeh sinis. "Bisa cemburu juga dia," gumam nya pelan.


"Apa?" tanya Milan.


Maxime segera menggeleng. "Tidak sayang. Duduk di sini."


Maxime menepuk paha nya meminta Milan untuk duduk di pangkuan nya. Milan menurut, ia duduk menghadap Maxime di pangkuan pria tersebut.


Maxime kembali mengeringkan rambut Milan. "Orang tuamu bagaimana, mereka tidak menghubungimu soal video waktu itu?"


"Tak apa sayang, ada keluargaku."


Milan tersenyum. "Eummm Tuan Javier--"


"Daddy sayang ... panggil Daddy," potong Maxime.


"Daddy Javier ..." Maxime mengangguk seraya tersenyum.


"Dia sangat mencintai Mommy mu ..."


"Ya, dia itu ..." Maxime terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Remaja sekarang bilang ... bun ... buc ... apa ya ..."


"Bucin?" celetuk Milan membuat Maxime terkekeh.


"Ya itu sayang. Bucin."


"Makan siang sudah siap!" teriak Ara di balik pintu.


Mereka berdua menoleh ke arah pintu. "Pakai baju dulu sayang," ucap Maxime lalu mengecup pipi Milan dan mengangkat tubuh gadis itu mendekati lemari.


"Mau pakai baju yang mana?"


"Kaos hitam saja," sahut Milan.


"Kau tidak suka warna pink seperti Miwa hmm." Maxime kembali mengecup pipi Milan setelah mengambil kaos hitam di lemari.


"Tidak, itu terlalu feminim," sahut Milan.


Maxime dengan hati-hati mendudukan Milan di ranjang. Lalu tangan nya hendak menarik tali bathrobe yang gadis itu kenakan tapi langsung di tepis oleh Milan.


"Biar aku saja ..."


"Yakin bisa sayang?" tanya Maxime seraya terkekeh.


"Hanya membuka bathrobe masa tidak bisa." Milan memeluk dirinya sendiri agar tidak ada celah Maxime bisa menarik tali bathrobe yang ia kenakan.


"Huhh padahal aku ingin membantu ..." gerutu Maxime lalu berjalan ke sofa.


Maxime duduk membelakangi Milan yang sedang memakai baju. Dengan nakal nya Maxime sesekali menoleh.


"Maxime!!" teriak Milan.


Maxime tertawa. "Hahaha oke-oke aku tidak lihat."


Sekarang Milan sedang mengenakan celana dal*m nya.


"Katanya tidak suka warna pink. Kok celana dal*m nya warna pink sih!" ledek Maxime menahan tawa nya.


"Ini Aunty Ara yang membelikan. Jangan lihat!" teriak Milan.


Maxime malah kembali melihat ke belakang, Milan sedang mengancingi celana nya.


"MAXIMEEE!!" semprot Milan membuat pria itu malah tertawa.


Bersambung


Besok up kaya biasa sehari 3 bab lagi ya. Tapi mampir juga ke cerita Alister dong hehe. Konflik nya ringan banget kaya kerikil kecil ga berat-berat kaya cerita mafia kok karena ini emang bukan cerita mafia hehe 🤗