
"Tessa!!" Daniel menarik kasar tangan Tessa di saat perempuan itu beranjak dari duduknya pergi keluar dari restaurant.
Tessa menepis kasar tangan Daniel. "Tessa kau tidak bisa seperti ini!!"
"Kalau aku tidak bisa kenapa mereka bisa? kenapa Miwa dan Kak Arsen bisa bersama!!"
"Karena mereka saling mencintai Tessa!! kau hanya menyukai Maxime, tapi Maxime sendiri tidak!!"
Tessa menunjuk dirinya sendiri dengan geram. "Aku ... aku sudah mengikhlaskan Maxime dengan Milan!! aku tidak perduli jika mereka akan menikah besok sekalipun!! tapi kenapa aku baru tau kalau Miwa bersama dengan Kak Arsen!! kenapa tidak ada yang memberitahu ku!!"
"Kak Arsen dan Miwa bisa bersama karena tidak ada orang ketiga di hubungan mereka, seandainya tidak ada Milan, aku bisa berjuang untuk Kak Maxi!!"
"Kau salah, kalau kau bilang tidak ada orang ketiga di antara Arsen dan Miwa. Jika aku tidak mau mengalah, aku akan masuk ke hubungan mereka dan membuat mereka berpisah!! tapi aku sadar, sekuat apapun aku berusaha memisahkan mereka, aku tetap akan gagal karena mereka saling mencintai Tessa!! lupakan perasaanmu tentang Maxime dan mengalahlah seperti yang aku lalukan!!"
"Aku tidak mau menjadi pecundang sepertimu!!" teriak Tessa.
"Ini bukan pecundang!! kau harus belajar menerima keadaan!! hidupmu akan lebih terluka jika merebut milik orang lain!!"
Tesaa menunjuk wajah Daniel dengan kesal.
"Aku tau kau seorang penulis, tidak perlu keluarkan kata-kata bijak untuk berbicara denganku Daniel!!"
Tessa pergi melengos begitu saja mengacuhkan teriakan Daniel. Ia masuk ke mobilnya, mobil pun melaju meninggalkan restaurant.
Daniel berdecak seraya mengacak-ngacak rambutnya frustasi melihat kepergian Tessa. Lalu pria itu mengirim pesan kepada Maxime memberitahu Maxime kalau Tessa sudah tahu semuanya soal Miwa dan Arsen.
*
Dengan langkah kesal Tessa memasuki mansion. Miwa, Arsen dan Maxime sudah berada di ruang tamu, sementara Milan berada di dalam kamarnya.
Mata nya menatap tajam Maxime dan yang lain, ia menghampiri dan duduk di depan Arsen dan Miwa. Tessa melipat kedua tangan nya di dada dengan duduk menyilangkan kaki nya.
Maxime menghela nafas. "Tessa---"
"Kenapa?" potong Tessa. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku!!"
"Kami berniat untuk memberitahu mu," sambung Arsen.
Tessa tertawa ketus. "Kapan? ketika mau menikah baru mau memberitahuku? kalau bukan Daniel yang memberitahu, aku tidak akan tahu apapun soal hubungan kalian!!"
"Tessa tenangkan dirimu ..." potong Maxime.
Tessa menoleh ke arah Maxime. "Bukan kah kita berempat tidak boleh ada yang saling menyukai satu sama lain?!! bahkan aku sudah mengalah untuk Milan, Kak!! tapi kenapa Arsen dan Miwa bisa bersama!!"
Tessa tertawa seraya menggelengkan kepala. "Kenapa baru mengatakan hal itu setelah Kak Arsen dan Miwa bersama? kenapa tidak dari dulu!!"
Miwa hanya memijit pelipisnya. Dari awal menyukai Arsen ia sudah tahu konsekuensi apa yang akan di dapatkan dari Maxime dan Tessa. Maxime sudah setuju, sekarang giliran Tessa agar tidak mempermasalahkan hal ini lagi.
"Tessa di sini aku yang salah," ucap Miwa yang akhirnya mau buka suara.
Tessa menoleh kepada Miwa. "Apa maksudmu?"
"Aku yang mendekati Kak Arsen lebih dulu, aku yang menggoda Kak Arsen, jadi jangan menyalahkan Kak Maxi ataupun Kak Arsen!!'
Arsen dan Maxime menoleh ke arah Miwa. "Hentikan!!" ucap Arsen pelan penuh penekanan kepada Miwa.
"Kalau kau marah, marahlah kepadaku!! dari awal Kak Maxi juga tidak setuju, tapi aku yang memaksa!!" lanjut Miwa.
"Aku benar-benar tidak menyangka kepadamu Miwa!!"
Tessa melempar asbak di meja tapi Arsen lebih dulu menghalangi tubuh Miwa sampai akhirnya asbak tersebut mengenai punggung Arsen kemudian pecah ke lantai.
"TESSA!!" Maxime beranjak memegangi tangan Tessa. Tessa memberontak minta di lepaskan.
"AKU KECEWA DENGANMU MIWA!!"
"TESSA CUKUP!!" teriak Arsen kini mendelik ke arah Tessa.
Terlihat Arsen begitu marah, dada nya naik turun, wajahnya merah dengan tatapan tajam ke arah Tessa. Miwa tak kalah shock dengan Tessa yang hendak melempar asbak kepadanya.
Tessa tersenyum getir menatap Arsen dan Miwa lalu menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi kepada kalian bertiga ... aku benar-benar kecewa ..."
Tessa beranjak dari duduk nya meninggalkan Maxime, Arsen dan Miwa. Dengan langkah kesal ia menaiki anak tangga kemudian masuk ke kamarnya.
Maxime menatap pintu kamar Tessa yang tertutup, kemudian menyenderkan punggungnya di sandaran sofa lalu menghembuskan nafas panjang seraya memijit pelipisnya. Maxime memejamkan matanya sejenak untuk, ia benar-benar frustasi sekarang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arsen kepada Miwa seraya mengusap kepala perempuan itu.
Miwa mengangguk perlahan dengan wajah yang masih terlihat shock.
Mereka tidak marah dengan Daniel karena mengatakan yang sebenarnya kepada Tessa. Karena lambat laun Tessa juga harus tahu mengenai hubungan Arsen dan Miwa.
Bersambung