
Maxime berjalan bersama Jack untuk pergi ke rumah pria itu. Rumah kayu yang sangat sederhana.
Maxime duduk lesehan di bawah karena tidak ada kursi di ruangan itu. Jack sedang menyiapkan jeruk peras lalu memberikannya kepada Maxime.
"Tidak ada es?" tanya Maxime ketika memegang gelas tersebut.
"Apa kau baru sadar di sini tidak ada kulkas," sahut Jack lalu duduk di dekat Maxime.
Maxime hanya menghela nafas lalu meminum minuman tersebut. Kemudian ia celengak-celingkuk ketika menyadari dari tadi ia tidak melihat Milan.
"Kau mencari Milan?"
"Hm."
"Dia pasti di sawah bersama Aron."
"Apa Milan sudah hamil?" tanya Jack.
"Ya ..."
"Baguslah."
"Apa kau tau aku sudah menikah dengan Milan?"
"Tentu saja, Peter memberitahuku hari itu, hari itu dia datang ke sini dan menceritakan semuanya. Termasuk hubungan Arsen dan Miwa, Tessa dan Daniel."
"Kenapa dia datang ke sini?" tanya Maxime.
"Dia kabur darimu karena gagal menjaga Milan sampai istri dan adikmu di culik," sahut Jack seraya terkekeh pelan.
"Cih, pantas saja dia menghilang setelah Milan di culik!"
Kemudian mereka mendengar suara Milan dan Aron yang sedang mengobrol kursi depan. Maxime dan Jack segera keluar lalu Maxime melebarkan matanya kala melihat kaki Milan penuh lumpur dan wajahnya juga terlihat kotor.
"Sayang kau ..."
Milan menyengir. "Hehe, aku jatuh di sawah tadi."
"Astaga Aron, mau sampai kapan kau seperti ini!! suka sekali main lumpur di sawah."
Jack langsung menggendong Aron.
"Maaf Kak, Milan tadi mau melihat kerbau."
Maxime menoleh ke arah Milan dan gadis itu pun langsung menganggukan kepalanya.
"Yasudah, kita bersihkan dulu."
"Milan bisa mandi setelah Aron," ucap Jack kemudian membawa Aron ke kamar mandi yang ada di belakang rumahnya.
"Ayo kita pulang saja, kau mandi di mansion nanti."
Maxime mengambil tangan Milan tapi Milan segera menghempaskannya.
"Aku mau mandi di sini, tubuhku bau sekali aku tidak nyaman di mobil nanti."
"Sayang, di sini airnya sedikit."
"Aron bilang kalau mau mandi harus menimba airnya dulu. Kalau airnya sedikit, kita kan bisa pergi ke sungai saja."
"Memangnya kau mau mandi di sungai hm?"
"Mau-mau saja, waktu kecil aku pernah mandi di sungai."
Maxime menghela nafas. "Sudah, kita pulang saja."
"Aku tidak mau ... mau di sini." Milan merengek. "Aku juga mau menginap di sini,.malam ini saja ... bolehkan?"
"Hah?" menginap?"
"Tidak, jangan! kau akan kedinginan."
"Aku mau ..."
"Tidak sayang!"
"Anakmu yang mau." Milan langsung mengelus-ngelus perutnya.
Tatapan Maxime langsung melunak melihat Milan mengelus perutnya seperti itu.
"Sayang ..."
"Sepertinya dia bosan tinggal di kota," potong Milan.
Maxime hanya bisa menghela nafas seraya mengelus kepala Milan. Mau bagaimana lagi, istrinya itu tetap meminta menginap di desa ini.
*
Malamnya, tubuh Milan di tutupi selimut tebal. Milan memeluk tubuhnya sendiri di dalam selimut, Sherly sedang membuat teh jahe untuk Milan dan Maxime.
"Aku sudah bilang, di sini sangat dingin." Maxime membenarkan selimut di tubuh Milan.
"Ini tidak dingin, ini sejuk."
"Kalau sejuk kenapa kau sampai menggigil seperti ini hm."
"Ini, minum dulu." Sherly meletakan dua gelas teh jahe untuk Milan dan Maxime.
"Dimana Aron?" tanya Milan.
"Di kamar, sedang mengerjakan tugas sekolahnya," sahut Sherly.
"Memangnya di sini ada sekolah?"
Sherly menggeleng. "Tidak ada, Milan. Tapi ada tempat untuk anak-anak belajar, guru nya adikku sendiri."
"Oh iya? kalau dia sudah selesai sekolah SD dia lanjut dimana?"
Sherly langsung menoleh ke arah Maxime.
"Anak-anak yang lain bisa pergi ke kota untuk menempuh pendidikan mereka dengan seizin suamimu," ucap Jack lalu duduk bergabung bersama mereka.
"Jangan menatapku seperti itu sayang, aku tidak sejahat yang kau pikirkan, aku tidak menghukum anak-anak kecil. Memang mereka yang tidak mau keluar dari sini ..."
"Benar, Milan. Banyak anak kecil yang lebih suka tinggal di sini dari pada di pindahkan ke kota," ucap Sherly.
"Wajar sih, di sini udaranya sangat sejuk, tidak ada polusi sama sekali. Mereka juga lebih suka main di sawah dari pada main hp."
Malam itu Maxime dan Milan hanya tidur di ruang tengah dengan tikar kecil sebagai alas. Ada dua kamar kecil di rumah itu, satu kamar Jack dan Sherly dan satu kamar Aron.
Jack sudah menyuruh Maxime untuk tidur di kamarnya, ia dan Sherly bisa tidur satu kamar dengan Aron. Tapi Milan menolak, ia memilih tidur seadanya saja.
Maxime mendekati Milan, memeluk tubuh istrinya yang di gulung selimut tebal. Sesekali Maxime terkekeh, istrinya mirip bolu gulung. Kemudian ia mencium kening Milan.
"Melihatmu, aku jadi lapar sayang ... tapi aku takut Aron tiba-tiba keluar dari kamar ..."
"Jangan macam-macam!! aku sedang hamil!!" sahut Milan tanpa membuka matanya.
"Kau belum tidur?"
"Aku sudah tidur jangan ganggu aku!!"
"Cih!!!" Maxime terkekeh. "Dasar menyebalkan!" Ia mencubit gemas pipi Milan lalu kembali memeluk istrinya itu dengan erat.
Bersambung