
Maxime membuka kamarnya dan mendapati Milan yang sudah tertidur. Ia pun berjalan dan menyimpan susu di meja samping ranjang.
Pria itu pun menyelimuti tubuh Milan dan perlahan naik ke ranjang. Tapi Milan terlihat bergerak menjauhi Maxime, ternyata gadis itu belum benar-benar tidur.
Maxime menci*m pundak Milan. "Aku bawakan susu untukmu, mau minum sebelum tidur?" tanya nya.
"Tidak!" sahut Milan.
"Oke, istirahatlah ..."
Milan pun berbalik. "Sampai kapan kau akan menyekap ku seperti ini?" tanya nya.
"Tidur sayang, ini sudah malam ..." Maximer berkata dengan tidur terlentang di samping Milan.
"Maxime aku tau salahku masuk ke hidupmu, aku yang salah karena meminta pekerjaan dan tempat tinggal kepadamu. Tapi bukan berarti kau menyekap ku seperti ini!!" kesal Milan.
Maxime membuka mata nya lalu menoleh ke samping.
"Jangan membuatku marah lagi ... kumohon tidur saja, aku tidak mau bertengkar terus denganmu!!"
Milan pun menarik tubuhnya untuk duduk menghadap Maxime. "Kalau kau lelah bertengkar, lepaskan aku!!"
Maxime mendengus dan menarik tubuhnya untuk duduk. Ia menatap tajam Milan. "Kau selalu membahas hal itu, aku muak Milan!!"
"Kau pikir aku tidak muak dengan sikapmu!!"
Maxime dengan kesal menyibakan selimut dan berjalan keluar dari kamar. Milan dengan cepat turun dari ranjang menyusul Maxime.
"Maxime ... tolong biarkan aku pergi." Milan memohon dengan memegang tangan Maxime dan itu membuat Maxime sangat amat marah.
Kenapa permohonan itu datang untuk pergi dari hidupnya. Maxime pun berbalik menatap gadis yang menatap balik dirinya dengan tatapan penuh permohonan.
"Aku tidak akan melepaskan mu!!" ucapnya dengan penuh penekanan.
"Max aku ... Eerrgghh." Maxime mencengkram pipi Milan dengan kasar.
"Aku bilang aku tidak akan melepaskan mu!!" ulang Maxime berbicara tepat di depan wajah Milan membuat deru nafasnya berhembus di wajah Milan.
Milan meringis karena kedua pipinya di cengkram kuat Maxime. "Le-lepaskan ..."
"Sekali lagi saja, aku melihatmu memohon untuk pergi, aku tidak akan segan-segan untuk mengurungmu di kamar ini!!"
Maxime mendorong Milan sampai gadis itu jatuh ke lantai. Pria itu pun keluar dari kamar, membuka pintu dengan kasar.
Kesabarannya habis dengan Milan yang terus mencoba kabur, dengan Milan yang berani menendang aset berharga miliknya demi pergi dari hidup Maxime dan Milan yang sampai menyemprot kedua mata nya dengan parfum untuk keluar dari petshop.
Milan menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya, usaha untuk perginya selalu gagal.
*
Tengah malam Maxime mencoba kembali ke kamar lagi, perlahan ia membuka pintu kamar. Setelah meredam emosi dengan dua botol alcohol ia memutuskan untuk menemui Milan lagi.
Milan duduk di ranjang membelakangi Maxime. Maxime perlahan naik ke ranjang dengan mata merah setengah mabuk ia menarik pundak Milan perlahan.
"Tidur sayang ini sudah malam ..."
Milan mengangguk pelan lalu menidurkan diri di samping Maxime. Maxime bergeser untuk memeluk gadis itu, Milan sempat mendongak mencium bau alcohol dari tubuh Maxime.
Dua jam berlalu setelah memastikan Maxime benar-benar terlelap. Tangan Milan mencoba meraba-raba saku celana Maxime perlahan, ia mencoba mengambil kunci kamar di saku Maxime.
Jantungnya seakan hendak meloncat saja ketika tangan nya berhasil masuk setengah ke saku Maxime.
Maxime mengerang dalam tidurnya dan itu membuat Milan terlonjak kaget sampai menarik kembali tangan nya.
Milan mengatur nafasnya sesaat dan kembali mencoba mengambil kunci tersebut. Ia melebarkan mata kala tangan nya berhasil menyentuh kunci di dalam saku celana Maxime.
Tapi ketika hendak membawa kunci itu keluar tiba-tiba tangan nya di tahan Maxime.
"Kau benar-benar menguji kesabaranku Milan!!" ucap Maxime tanpa membuka mata nya.
Milan menelan Saliva nya susah payah, apalagi ketika ia mendongak dan melihat Maxime membuka mata nya perlahan.
Dengan mata merah karena mabuk Maxime menoleh tajam ke arah Milan.
"Tidur atau aku akan lebih kasar denganmu!!"
Milan mengangguk samar karena takut lalu menunduk memejamkan matanya. Maxime kembali berkata yang membuat Milan kembali membuka mata nya.
"Aku tidak mengerti, kau diam ketika aku memelukmu tapi kau berpikir untuk pergi. Terkadang kau diam ketika aku menci*m mu tapi di otakmu pun merencanakan sesuatu agar bisa menjauh dariku Milan ..."
Maxime menghela nafas panjang. "Harus kah aku membiarkanmu di perk*sa orang lain agar kau tidak berpikir untuk pergi lagi ..."
"Aku tidak mau berhubungan dengan seorang mafia," sahut Milan.
"Kau yang memaksa masuk ke hidupku dari awal ... padahal aku sudah menyuruhmu pergi jauh sebelum aku mencintaimu ... Sekarang diamlah karena aku tidak bisa menghapus perasaanku untukmu lagi."
Bersambung