The Devil's Touch

The Devil's Touch
#110



Setelah makan bersama selesai, acara di lanjut sampai malam hari. Seperti kebiasaan yang sering di lakukan pemimpin Yakuza dan anak buahnya.


Yaitu acara bakar-bakar di taman, bedanya sekarang taman depan Maxime yang di pakai untuk acara tersebut.


Philip datang dengan membawa dua kresek penuh daging babi yang sudah di racik dengan bumbu.


"Ini tinggal di bakar saja pemirsah ... bumbu nya sudah meresap," teriak Philip berjalan ke taman.


"Siapa yang meracik bumbu nya?" tanya Keenan. "Bukan kau kan? aku yakin pasti rasanya tidak enak kalau kau yang meracik bumbu nya!!"


Philip berdecak. "Cobalah dulu, banyak bicara kau ini!!" sahutnya dengan menuangkan daging babi tersebut ke wadah.


"Ada jagung yang matang tidak?" tanya Miwa menghampiri Aiden.


Aiden menggeleng. "Tidak ada, adanya yang setengah matang."


"Kalau sosis?" tanya Miwa lagi.


"Sosis belum di bakar, Miw!" sahut Aiden kembali.


Miwa mendengus. "Lama sekali!" Perempuan itu pun berjalan ke kursi untuk menunggu saja.


"Hei kalian bantulah yang lain, bukan nya makan saja!!" teriak Aiden kesal kepada Athes, Jonathan, Nicholas, Samuel dan Sergio yang tengah asik memakan cemilan kering.


Ara datang dengan nampan penuh minuman di atasnya, ia menyusun semua minuman itu di meja bulat.


"Aku minta satu yang." Athes suami Ara mengambil segelas minuman berwarna merah. Ara hanya tersenyum.


"Tidak ada yang bakar Ayam?" teriak Xander.


"Ini baru mau di bakar," sahut Nicholas mendekati alat pembakaran.


Xander berdecak. "Dari tadi, baru mau di bakar!! kau mau kita kelaparan!!"


"Hei siapapun tolong bantu aku bersihkan Ikan-Ikan ini!" teriak Liana memegang wadah besar berisi puluhan Ikan.


"Mintalah suamimu yang membersihkan nya," sahut Sekretaris Han yang sedang mengupas jeruk.


Liana berdecak. "Suamiku sedang membujuk Tessa turun ke bawah!"


Maxime terlihat duduk berdua bersama Milan, Javier masih sibuk mengekori Sky untuk meminta maaf perihal dirinya yang hendak menghukum Maxime.


Maxime tersenyum tipis setelah menyeruput segelas wine, ia melihat Ayahnya dengan wajah memelas seraya merapatkan kedua telapak tangan nya mengekori Ibunya dari belakang hanya untuk permintaan maaf.


"Sky ayolah ... jangan begitu ... mau sampai kapan kau marah denganku."


Sky terus berjalan mengelilingi meja di taman atau berjalan mondar-mandiri tidak jelas untuk menjauh dari Javier. Tapi pria itu terus saja mengekor dan memohon.


"Mau makan sesuatu?" tanya Maxime kepada Milan.


DUAR


Sebuah kembang api membuat mereka semua terlonjak kaget. Mereka semua menengadah menatap kembang api yang menghiasi langit malam. Begitu indah dengan banyaknya warna.


Dan yang menyalakan kembang api itu Jonathan dan Aiden.


"Bentar lagi habis, ambil yang baru." titah Jonathan kepada Aiden.


Aiden pun mengambil kembang api baru dan menyalakan lagi lalu mengarahkan ke langit. Kembang api kembali berbunyi membuat yang lain menonton seraya tersenyum.


"WOAHHH ... seperti tahun baru saja." Sergio terlihat kagum menatap langit malam.


Begitupula dengan Milan, gadis itu terlihat tersenyum seraya memegang jus jeruk di tangan nya. Diam-diam Maxime memperhatikan wajah Milan dari samping seraya menggulum senyum di wajahnya.


Lalu setelah itu Milan melihat Keenan dan Philip yang berebut daging babi yang baru di bakar.


"Anj*ng itu b*bi ku!!" teriak Keenan.


"Aku yang membawa nya!!" sahut Philip.


"Lah, tapi yang aku yang membakarnya. Yang matang baru satu, itu punyaku!!"


Keenan hendak mengambil daging babi bakar di piring yang Philip pegang tapi Philip segera menepis.


Padahal masih banyak yang mentah dan belum di bakar, tapi karena Keenan baru membakar satu dengan alasan mencoba bumbu yang di racik oleh Philip alhasil baru satu yang matang.


Dan mereka berdua sedang memperebutkan daging itu sekarang. Keenan mengejar Philip, Philip terus meledek Keenan seraya berlari.


"Hei-hei kalian ini sudah tua, ingat itu!!" Sekretaris Han berbicara melihat Keenan dan Philip saling mengejar satu sama lain.


"PHILIP BERIKAN DAGING KU!!" teriak Keenan.


"INI DAGING KU!!" Sahut Philip ngegas.


Milan tersenyum melihat itu, melihat Maxime membun*h Daffa membuat Milan takut berhubungan dengan seorang mafia. Dulu ia berpikir keluarga besar Maxime pasti kaku dan serius.


Nyatanya ia salah. Keluarga besar Maxime bahkan sampai kedua orang tua nya sangat ramah dan lucu menurutnya. Dan Keenan, yang Milan tahu Keenan itu pendiam tak banyak bicara karena saat menjaga dirinya di petshop Keenan lebih banyak diam.


Tapi sekarang Milan sudah melihat sikap asli Keenan seperti apa.


"Mereka dari dulu memang seperti itu," ucap Maxime membuat Milan mengerjapkan matanya karena terlalu fokus melihat Keenan dan Philip tak henti saling mengejar.


"Mereka lucu," ucap Milan.


"Tidak sayang, mereka menyebalkan!"


#Bersambung