The Devil's Touch

The Devil's Touch
#30



Maxime pun masuk ke toko makanan meninggalkan Peter dan Oris di mobil. Libur sekolah Milan cukup panjang membuat Maxime harus menyiapkan banyak cemilan agar gadis itu tidak bosan.


Sementara itu mobil melaju membelah jalanan kota di malam hari, dengan dua orang manusia saling hening di dalam nya.


Peter melajukan mobil normal tidak seperti Maxime yang berniat membawa mereka mati. Oris masih duduk di belakang dengan duduk menyenderkan punggung nya dan melempar pandangan ke luar.


Tiba-tiba ponsel Peter berdering, sebuah video call dari Arsen. Peter mengangkat telpon itu dengan satu tangan mengendalikan setir.


"Ada apa? kau mau membahas Maxime yang Homo dengan pria di belakang ini?" ucap Peter seraya memperlihatkan wajah Oris di belakang.


"Jadi dia?" tanya Arsen.


"Apa?"


"Tahanan yang di keluarkan Maxime."


"Ya, mereka sepertinya Homo, aku melihat Maxime menggendong dia tadi."


"Tidak ... tidak ... itu tidak sengaja," ucap Oris di belakang dengan segera menarik tubuhnya mendekati Peter.


"Berikan ponselnya kepada dia," ucap Arsen.


Dengan malas Peter memberikan ponselnya kepada Oris.


Oris melambaikan tangan seperti orang bodoh kepada Arsen.


"Hallo Tuan ..." sapa nya dengan tersenyum.


Arsen tidak bersuara, ia hanya menatap Oris dengan mata menyelidik lalu menghela nafas.


"Kau pasti manusia yang ceroboh."


Pupil Oris melebar seketika. "Wahhh Tuan ... kau pintar sekali menilai orang. Ah aku semakin senang bekerja dengan Yakuza ... aku berharap bisa hebat sepertimu, Tuan."


"Kau juga cerewet seperti perempuan," lanjut Arsen dengan malas.


Sementara itu Peter hanya sesekali menatap spion di depan melihat Oris berbicara dengan Arsen.


"Dengarkan aku, menurutlah dengan aturan Peter di mansion. Dan jika ada yang bertanya kau bekerja dimana jangan katakan kau bekerja dengan Maxime apalagi sampai menunjukan foto Maxime, mengerti?!"


Oris dengan cepat mengangguk. "Mengerti, Tuan. Aku tidak akan mengatakan siapa Tuan Maxime yang sebenarnya."


*


Sementara itu di sebuah klab malam dua orang perempuan sedang menari mengikuti alunan musik dengan pakaian minim nya, masing-masing dari mereka memegang botol alcohol dan sesekali meneguk minuman tersebut.


Beberapa lelaki ikut berjoged di belakang mereka dengan tangan nakal yang terus bergeria meraba-raba tubuh mereka.


Mereka yang tidak sadar hanya terus menari tak perduli dengan dua lelaki yang sekarang memeluk mereka dari belakang.


Bahkan pipi mereka sampai di hujani ciuman, tapi yang dua perempuan itu lakukan hanya terus menari dan berteriak melampiaskan kesenangan nya malam ini sampai akhirnya.


DOR


DOR


Dua tembakan bersarang tepat di kepala mereka membuat kepala mereka hancur seketika dan jeritan para pengunjung lain pun saling bertautan.


Suasana kacau seketika. Jeritan, suara botol pecah membuat mereka berhamburan keluar klab.


Maxime dan Arsen pun berjalan cepat menghampiri Miwa dan Tessa. Maxime memakai masker, topi dan kacamata untuk berjaga-jaga agar tak ada yang mengenalinya.


Maxime yang tadi hendak membeli cemilan dan Arsen yang sibuk di kantor mendapatkan pesan dari seseorang, entah siapa pria itu mengirim video Tessa dan Miwa yang sedang party di klab.


Kedua pria itu langsung pergi klab, bahkan Maxime yang tidak membawa kendaraan pun sampai harus berdebat dengan supir taxi untuk meminjam mobilnya.


Mereka langsung menyeret dua adik perempuan mereka ke sebuah kamar yang ada di klab, bahkan Miwa sampai harus di gendong Maxime karena mabuk parah.


Dan di petshop Milan sedang menunggu Maxime pulang, ia terus-menerus menatap pintu seakan berharap ada Maxime yang berjalan masuk ke arahnya.


Ia kembali menoleh ke arah pintu lalu menghembuskan nafas, jam di pergelangan tangan nya sudah menunjukan pukul sebelas malam.


Sementara itu Maxime dan Arsen menidurkan Miwa dan Tessa di ranjang, mereka melepas heels yang di kenakan Miwa dan Tessa lalu dengan kompak mereka menyelimuti dua perempuan yang sekarang sudah tak sadarkan diri itu.


Maxime duduk di samping Tessa dan Arsen duduk di samping Miwa.


Maxime melepas masker dan kaca mata nya, lalu menghembuskan nafas kala melihat penampilan Tessa yang sudah acak-acakan, seandainya mereka telat datang entah apa yang akan terjadi dengan dua perempuan ini.


"Apa kita harus melaporkan nya kepada Daddy Javier dan Daddy Thomas?" tanya Arsen.


"Jangan dulu," sahut Maxime. "Aku penasaran siapa yang mengirim video mereka tadi."


"Aku akan melacaknya nanti," sahut Arsen.


Dan Milan, dengan nekatnya gadis itu keluar di malam hari dari petshop. Ini desa kecil yang tak banyak kendaraan umum lewat di tengah malam seperti ini, alhasil gadis itu pun berlari menyusuri kawasan kebun teh yang hanya di terangi lampu remang-remang di jalanan untuk menyusul Maxime.


Kawasan kebun teh cukup panjang, sudah berusaha berlari secepat mungkin dengan nafas terengah-engah Milan belum masuk ke kawasan perkotaan.


Sampai akhirnya Milan merasa ada suara langkah kaki yang mengikutinya dari belakang, ia dengan cepat menoleh ke belakang dan tidak ada siapapun.


Milan kembali berlari dan langkah kaki itu kembali terdengar. Lagi-lagi Milan mencoba menoleh ke belakang dengan mata menerawang mencari-cari pemilik langkah kaki tersebut.


Tapi nihil, Milan tidak menemukan siapapun yang ada di sekitarnya.


Milan berbalik lagi menghela nafas lalu berjalan perlahan. Ia mengigit bibir bawahnya tanpa menghentikan langkah nya.


Milan menunduk dan menemukan bayangan hitam pria yang berada di belakangnya. Lampu remang-remang di sepanjang jalan membuat sosok bayangan itu terlihat besar dengan topi di atas kepala nya.


Nafas Milan memburu seketika ia menghentikan langkahnya, memejamkan mata sesaat dengan berhitung dalam hati.


Satu


Dua


Tiga


Dengan cepat Milan menoleh ke belakang dan lagi, tidak ada siapapun di belakang Milan.


Maxime menerima pesan dari nomor yang tidak di kenal, ia segera membuka pesan tersebut dan seseorang itu mengirimkan foto Milan dari belakang.


Kucing kecilmu lepas, Maxime ...


Sontak Maxime berdiri seraya membulatkan mata, Arsen menatapnya heran. "Ada apa?" tanya Arsen.


"Aku harus pergi, kau jaga mereka."


Maxime segera mengambil masker dan kaca mata di meja meninggalkan Arsen yang menatap kepergian nya penuh tanda tanya.


Pria itu menyalakan mesin mobilnya keluar dari parkiran klab dan melaju dengan kecepatan tinggi, lebih cepat di banding ia membawa Peter dan Oris tadi.


Suara klakson mobil saling bertautan kala mobil Maxime hampir menabrak pengguna jalan yang lain.


Nomor itu nomor berbeda dengan seseorang yang memberitahu Miwa dan Tessa tadi dan apa pria itu mengincar Milan, tapi kenapa.


Seingatnya identitas dirinya belum terbongkar oleh siapapun, kenapa tiba-tiba ia mempunyai musuh setelah bertahun-tahun Maxime hidup tentram.


Dan ponselnya kembali bergetar, pesan kembali masuk dari orang tersebut dan dia mengirimkan foto Milan yang sekarang sudah tertidur di kamarnya, di petshop.


"Jangan terlalu panik, aku belum tertarik untuk bermain denganmu, Maxime."


Maxime mencengkram kuat ponsel itu tanpa memperlambat laju mobil.


Bersambung


NT lagi error apa gimana, dari subuh ini woy belum lulus juga😶