The Devil's Touch

The Devil's Touch
#114



Milan lari ke dapur dengan nafas terengah-engah, gadis itu langsung menyambar segelas air yang ada di atas mini bar.


Miwa hanya mengerutkan dahi nya melihat Milan yang terlihat kelelahan. Miwa sedang mengedit foto di minibar yang ada di dapur, tentu saja itu foto dirinya dan Arsen. Di edit agar lebih lucu.


Terlihat di dapur juga ada Oris yang sedang mencuci piring bekas sarapan mereka tadi.


"Kau kenapa Milan?" tanya Miwa.


"Kembaran mu ... dia mau menyeretku ke kandang singa," sahut Milan lalu duduk di dekat Miwa dan menyenderkan punggungnya di kursi dengan wajah lesu.


"Ohhh Glory ... Glory, Gery dan Rosi baik. Mereka sudah jinak."


"Jinak darimana! aku hampir di makan oleh mereka di hutan waktu itu!" sahut Milan.


Miwa terkekeh. "Mereka hanya ingin bermain tau."


Milan hanya berdecak lalu kembali minum air yang di tinggal setengah di gelasnya.


"Oh iya Milan, kau ..." Miwa menggantung kalimatnya menatap intens Milan.


"Apa?" tanya Milan setelah menyimpan gelasnya kembali di meja.


"Kau sudah menerima kakak ku?" tanya Miwa.


Milan hening beberapa detik sampai akhirnya ia berusaha menjawab. "A-aku ..."


Miwa perlahan tersenyum. "Hahaha benar kan. Kau pasti sudah menerima kakak ku."


"Ini semua karena obat perangs*ng darimu!" kesal Milan.


Oris yang sedang mencuci piring mematung sejenak mendengar kata obat perangs*ng. Ia berdehem lalu melanjutkan kegiatan cuci piring nya dengan berusaha menajamkan pendengaran nya agar bisa mendengar dua perempuan yang sedang bercerita itu.


"Kau pasti tidak bisa meninggalkan kakak ku karena mahkota berharga mu sudah di rebut oleh Kak Maxi, iya kan?" tebak Miwa.


Milan mendengus seraya menggaruk keningnya. Tebakan Miwa benar adanya.


"Itu yang pertama," sahut Milan. "Dan yang kedua, saat aku di culik Jack hanya dia yang bisa menyelamatkanku. Aku pikir, di dekatnya aku aman."


"Acie ... cie ..." Miwa meledek gadis itu dengan sedikit menggoda nya. "Ada yang mau belajar mencintai kak Maxi nih." Miwa menunjuk wajah Milan. Milan yang terlihat malu menurunkan jari telunjuk Miwa.


"Ih apa sih!"


"Oke, aku mau tanya. Dari satu sampai seratus, di angka berapa nilai perasaanmu untuk kak Maxi?"


Milan terlihat berpikir sejenak. "Mungkin ... tujuh puluh."


Mata Miwa sontak melebar. "Tujuh puluh? Tujuh puluh itu besar Milan. Tapi kau terlihat biasa saja dengan kakak ku."


"Aku tidak tau harus bersikap seperti apa."


"Hmmm ... padahal kakak ku belum pernah pacaran juga sih. Tapi kenapa hanya tujuh puluh Milan, kenapa tidak seratus? apa mencintai seseorang itu sangat sulit? kau dan Kak Arsen sama-sama sedang belajar." gumam Miwa.


"Arsen sedang belajar mencintai siapa?" tanya Milan yang membuat tubuh Miwa seakan membeku di tempat. Ia lupa kalau Milan belum tahu soal dirinya dan Arsen.


"Ti-tidak tau ... kak Arsen hanya bilang dia sedang belajar mencintai seseorang hehe."


"Sayang ..." panggil Maxime membuat Milan menoleh dan Miwa menghembuskan nafas. Setidaknya Milan tidak akan bertanya lebih jauh soal Arsen karena kedatangan Maxime.


Maxime memainkan pipi Milan seraya berdiri di belakang gadis itu. "Kau sedang apa hm?"


"Mengobrol saja dengan Miwa," sahut Milan.


Maxime menoleh ke arah Miwa yang sedang minum air. "Miwa apa kegiatanmu setelah tidak lagi menjadi sekretaris?" tanya Maxime.


Miwa mengangkat kedua bahunya. "Tidak tau kak, aku akan lebih banyak di mansion lagi. Ah itu membosankan, lebih baik kakak kasih aku pekerjaan." Mata Miwa seakan memohon dengan sungguh kepada Maxime.


Maxime mengangguk samar. "Nanti kakak carikan pekerjaan untukmu."


Miwa pun berbinar senang. "Beneran kak?"


Maxime mengangguk dan menarik tangan Milan. "Ayo pergi sayang."


Maxime membawa Milan meninggalkan Miwa yang masih terlihat begitu senang.


"Jadi obat perangs*ng itu benar? dan sekarang Tuan Arsen sedang belajar mencintaimu Nona."


Oris tiba-tiba berbisik tepat di telinga Miwa membuat perempuan itu terkejut bukan main.


"ORISSS!!" teriak Miwa tidak suka. "Kau menguping?!"


"Hehe tidak Nona. Hanya tidak sengaja terdengar," sahut Oris seraya tersenyum bak orang bodoh.


"Diam jangan katakan apapun kepada orang lain!" Miwa menunjuk wajah Oris dengan tatapan tajam sebagai bentuk peringatan.


Perempuan itu pun pergi dapur meninggalkan Oris yang hanya bisa menggelengkan kepala.


"Sudah aneh-aneh saja di mansion ini," gumam Oris.


Tessa sedang melukis sosok pria idaman nya di kanvas, pria yang sulit ia lupakan. Sesekali ia tersenyum dengan tangan terus menari-nari di atas kanvas. Banyak ingatan yang berkelebat begitu saja di dalam pikiran nya kala melukis kakak angkatnya ini, Maxime.


Di mulai saat mereka kecil, Tessa sering bertengkar dengan Miwa karena memperebutkan boneka. Dan Maxime datang untuk membela Tessa bukan Miwa, saat di marahi oleh Liana karena Tessa menyimpan banyak coklat di bawah bantal tidurnya Maxime datang dan mengatakan itu coklat miliknya.


Masih banyak kenangan yang lain, saat mereka remaja Maxime selalu mengerjakan tugas milik Tessa, sangat menjaga Tessa kala Maxime tahu Tessa di bully seseorang.


Senyuman di wajah Tessa memudar kala dirinya sadar keberadaan Milan di mansion ini.


Bersambung