The Devil's Touch

The Devil's Touch
Mengasah kemampuan.



Sinar mentari sudah naik ke atas. Tirai dibuka, sehingga cahayanya mengenai Elena yang masih asik bergelung dengan selimutnya.


Wanita itu menutup wajahnya dikarenakan silau. Bola matanya menyipit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


"Selamat pagi Nona Ele. Segeralah bersiap, Tuan Jhonson sudah menunggu anda dibawah."


Elena mengangguk. Wanita itu segera bangkit dan beranjak dari ranjang untuk pergi ke kamar mandi.


Kran air dibuka, Elena berulang kali membasuh wajahnya di wastafel.


"Apa yang akan terjadi setelah ini? Aku tidak terbiasa melakukan ini semua. Disambut dan dilayani dengan baik oleh seorang pelayan, sedangkan dirumahku sendiri aku tidak pernah diperlakukan seperti ini." napas dihembuskan dengan berat. Elena menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya.


***


Elena melangkahkan kakinya menuju meja makan. Disana sudah ada Maximiliam yang duduk dan menyantap makanannya dengan tenang. Pria itu sama sekali tak terganggu dengan kehadiran Elena.


"Aku tidak menyesal kau menculikku brengsek, makanan dirumahmu jauh lebih enak dibandingkan di rumahku." mulut Elena tak henti-hentinya untuk berdecak kagum melihat banyaknya hidangan yang tersaji di atas meja. Padahal hanya ada mereka berdua, dia yakin makanan itu tak akan habis jika dimakan berdua saja.


Maximilian menghentikan kegiatannya. Di tatapnya Elena dengan tajam, sebilah pisau dia lemparkan ke arah Elena.


Elena terlihat syok, namun dengan secepat kilat ia berusaha untuk menghindar. Apa ini? Kenapa Maximilian melemparnya dengan pisau. Apa ini semacam hukuman karena dia menghinanya.


"Refleks yang bagus Nona Meyer." Maximiliam tiba tiba bangkit, pria itu kembali melempar Elena dengan dua buah pisau.


Elena segera bersalto kebelakang untuk menghindari serangan Maximilian yang berkali kali. Sial sekali, padahal dia hanya ingin makan tapi harus melewati rintangan maut terlebih dahulu.


"Kau gila Max! Aku hanya ingin makan tapi kau malah menghujaniku dengan pisau." Elena berteriak. Dia merasa kesal.


"Aku hanya ingin melihat kemampuanmu Nona Meyer." sebuah pistol diambil, Maximilian dengan tidak ragu menembak ke arah Elena.


Elena segera berlari untuk menghindar dari peluru yang Maximilian tembakan. Wanita itu mengumpat sesekali.


Pisau yang tergeletak di atas lantai di ambil, wanita itu berguling saat Maximilian menembakkan peluru ke arahnya.


"Rasakan pembalasanku brengsek!" Elena segera bangkit, wanita itu melemparkan dua bilah pisau ke arah Maximilian.


Maximilian tersenyum tipis. Tidak buruk, wanita itu cukup mampu untuk membalas serangannya. Dia segera berlari untuk menghindar dari serangan Elena.


Suara tepukan tangan yang saling bersahutan membuat Elena kebingungan. Wanita itu menatap pada sekumpulan pria berpakaian hitam yang tiba tiba datang entah dari mana.


"Katakan padaku apa maksud dari semua ini Maximilian!" Elena menatap Maximilian dengan amarah yang meluap luap.


"Kau tuli? Apa kau tidak mendengar ucapan mereka barusan." Maximilian terlihat santai, tidak ada rasa bersalah sama sekali setelah membuat Elena syok. Pria itu kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapan yang tertunda.


Elena yang masih belum selesai dengan rasa terkejutnya semakin binggung. Wanita itu menatap sekelilingnya dengan ling lung.


Gerakan tangan Maximilian membuat anak buahnya segera pergi dari sana.


"Tutup mulutmu dan cepat habiskan sarapanmu!" suara Maximilian yang terdengar dingin membuat Elena tersadar dari lamunannya.


Wanita itu segera duduk dan meneguk segelas air untuk meredakan rasa hausnya.


"Aku ingin bicara denganmu." ucap Elena serius.


"Katakan!"


"Kembalikan barang-barangku yang kau ambil."


"Tidak. Kau ingin meminta bantuan pada temanmu itu bukan?" Maximilian menolak dengan keras. Dia tidak akan membiarkan Elena pergi, wanita itu adalah miliknya. Dia adalah kelinci percobaannya. Sebelum tujuannya tercapai dia tidak akan melepaskan Elena.


"Aku ingin menghubungi ayahku, dia akan mencariku jika aku tidak pulang." Elena menggeleng. Dia bukan wanita yang tidak tahu diri, dia sadar setelah menanda tangani kontrak raga serta jiwanya adalah milik Maximilian.


"Apa kau menghawatirkannya? Bukankah kau membencinya."


Elena mendelik. Darimana pria itu tahu permasalahannya dengan sang ayah?


"Apa kau mencari semua informasi tentangku?" tanya Elena.


"Aku tidak akan membawa seseorang jika aku tidak tahu apapun tentangnya, Elena."


Ada rasa aneh yang menggelitik ketika pria itu memanggilnya dengan Elena. Tidak biasanya pria itu memangil namanya.


"Aku tidak mau menambah masalah dan aku memaksa untuk menghubungi ayahku." Elena menatap Maximilian dengan serius. Jika pria itu tidak mengizinkannya dia akan melakukan berbagai cara untuk menghubungi sang ayah. Termasuk mencuri ponsel Maximilian sekalipun.


"Dom akan memberimu ponsel baru. Jika kau melakukan apa yang ada dipikiranmu aku akan mematahkan tanganmu."


"Tidak akan." Elena menggeleng dengan cepat. Pria itu benar benar sulit ditebak, dan darimana dia tahu apa yang akan dia lakukan. Apa pria itu bisa membaca pikiran seseorang?