
Milan sudah tidak terlalu lemas lagi sekarang, gadis itu sedang membuat dessert yang resep nya ia lihat di internet.
Sementara Maxime duduk di meja makan dengan memegang segelas air. Ia tak henti-henti nya memandangi Milan dari belakang. Gadis itu sedang membuat adonan.
Pertanyaan muncul di benak Maxime. Apa Milan sudah menerima nya sekarang, gadis yang mencoba untuk pergi itu sekarang sepertinya tidak mencoba pergi lagi, kapan Milan akan mengatakan mencintai dirinya.
Atau ini semua hanya alibi agar Milan bisa kembali kabur ketika Maxime sedang lengah. Maxime menghembuskan nafas, ingin sekali menikahi Milan tapi Maxime hanya akan menikah jika Milan sudah mengaku mencintai dirinya.
Maxime tidak mau menikah seperti ayahnya, pernikahan yang tidak di dasari rasa cinta. Ya, walaupun sekarang Javier dan Sky saling mencintai satu sama lain.
Tapi Javier pun melakukan hal yang sama, ia menunggu Sky mengaku perasaan cinta nya lebih dulu barulah Javier bisa berc*nta dengan istrinya itu dan menghasilkan si kembar Maxime dan Miwa.
Maxime tidak akan menanyakan soal perasaan Milan kepada dirinya, Maxime akan menunggu sampai Milan sendiri yang mengatakan.
Beberapa menit kemudian Milan menghampiri Maxime dengan pancake mangga di piring, menurutnya hanya resep ini yang mudah di buat.
Milan menyimpan nya di depan Maxime. "Kau sudah mencoba nya?" tanya Maxime.
"Belum," sahut Milan. "Kau saja dulu."
Maxime tersenyum samar lalu menyendok pancake mangga tersebut dan mengunyah nya perlahan.
"Ini enak, tidak terlalu manis."
"Mangga nya sedikit asam," sahut Milan.
Maxime mendongak lalu tersenyum. "Tidak apa, lebih segar."
Milan hanya mengangguk pelan, gadis itu hanya memperhatikan Maxime makan saja.
Mereka hening tapi sebenarnya ribut dengan pikiran masing-masing. Maxime yang memikirkan Milan sudah mempunyai perasaan lebih dengan nya atau belum.
Dan Milan yang masih bingung antara harus pergi atau tetap tinggal. Milan akhir-akhiri ini memang penurut dan tidak kabur lagi, bahkan mereka sering mengobrol bersama seperti dulu tapi bukan berarti keinginan untuk pergi dari Maxime hilang begitu saja. Milan tetap Milan, gadis SMA yang masih labil dan bimbang dengan keputusan nya sendiri.
"Eummm oh iya ... soal pria yang membekap ku, apa kau sudah melaporkan nya ke polisi?" tanya Milan yang lupa kalau Maxime seorang Mafia, untuk apa melaporkan nya ke polisi.
"Tidak perlu khawatir, aku sudah mengurusnya."
Milan pun mengangguk.
"Mau jalan-jalan tidak?" tanya Maxime.
"Kemana?"
"Air terjun, ada air terjun di desa ini. Kau pasti menyukai nya."
Milan mengangguk dengan semangat, Maxime tersenyum. "Kita pergi setelah menghabiskan ini ya," ucapnya mengelus kepala Milan.
*
Milan memeluk Maxime dari belakang, pria itu meminta anak buahnya untuk mengantarkan motor besar miliknya dari mansion ke petshop.
Di sepanjang jalan Milan hanya menikmati pemandangan indahnya desa ini. Ia tersenyum di balik helm nya, udara sejuk benar-benar membuat pikiran nyaman.
Maxime memarkirkan motor nya, parkiran untuk masuk ke air terjun sangat kosong. Hanya ada motornya saja.
Air terjun ini biasanya di jadikan tempat wisata setiap hari, banyak orang-orang penduduk kota yang sengaja datang untuk menikmati keindahan air terjun dan merasakan udara sejuk tanpa campuran polusi.
Maxime menyewa tempat wisata air terjun ini agar tidak ada orang lain yang bisa masuk selain dirinya Milan.
Milan celengak-celinguk. "Kenapa kosong sekali? padahal di depan tulisan nya buka." tanya nya seraya turun dari motor.
Maxime membuka helm nya dan berkata. "Aku hanya ingin berdua saja denganmu."
Ia tersenyum lalu membantu melepas helm yang Milan kenakan.
Setelah helm nya di buka mata Milan langsung berkeliling melihat banyaknya pohon tinggi yang dapat dipakai ketika meneduh dari panasnya terik matahari. Milan juga bisa mendengar suara air terjun begitu deras.
Maxime sendiri sedang mengecek ponsel nya sebelum masuk dan ia mendapati pesan dari Arsen yang mengirimkan foto seorang wanita. Pesan nya datang dari tadi, tapi karena ia sibuk melihat Milan membuat pancake mangga akhirnya baru kebuka sekarang.
"Siapa Zivania," batin Maxime. "Sepertinya nama itu tidak terdengar asing ..."
Maxime memperbesar layar ponselnya agar bisa melihat wajah Zivania dengan jelas. Tapi Milan menepuk lengan nya.
"Masuk sekarang?"
Spontan Maxime pun mematikan ponsel nya dan kembali memasukan nya ke saku, soal Zivania dan Daffa ia urus nanti saja.
Maxime tersenyum seraya mengangguk lalu turun dari motornya menggenggam tangan Milan untuk menikmati Air terjun yang indah.
*
Sementara itu di mansion Javier, pria yang sudah tidak muda lagi itu sedang duduk di ruang bawah tanah dengan dua anak buah yakuza yang menunduk di depan nya.
"Cari gadis yang bernama Milan di SMA Ganesha. Kalian cukup memotret nya saja dan bawa foto nya ke hadapanku!"
"Baik Tuan," sahut dua pria itu bersamaan lalu keluar meninggalkan Javier.
Semua orang meminta Javier untuk menunggu dan meminta nya jangan menganggu hubungan Maxime. Tapi jujur saja Javier termasuk Ayah yang kepo tentang putra nya ini. Gadis seperti apa yang bisa meluluhkan putra nya yang dulu bilang tidak mau menikah.
Bersambung