
Mereka makan bersama di mansion Maxime, meja panjang itu di isi lengkap oleh mereka semua, hanya satu yang tidak ikut bergabung. Tessa.
Thomas dan Liana menuruni anak tangga dengan Liana memegang nampan berisi makanan yang harusnya di berikan kepada Tessa. Tapi Tessa menolak dengan alasan tidak lapar.
Miwa menghembuskan nafas melihat Liana membawa kembali nampan tersebut.
"Anak itu ... akhir-akhir ini suka sekali mengurung diri dan menangis tidak jelas hanya karena film."
Thomas dan Liana kembali duduk di kursi nya. "Ya, tadi mata nya juga sembab," sahut Liana. "Aku tidak mengerti dengan anak itu. Kadang ceria, kadang murung."
"Sudahlah, biarkan saja dulu. Mungkin belum lapar," sambung Thomas.
Maxime mengisi piring Milan dengan sayuran. Gadis itu masih terlihat canggung duduk dengan keluarga besar Maxime.
"Oh iya, namamu siapa? kita belum kenalan ya. Aku Kara, Mommy nya Arsen." Kara yang duduk di depan Milan mengulurkan tangan nya.
"Aku Milan Tante." Milan berjabat tangan dengan Kara seraya tersenyum samar.
"Ini Daddy nya Arsen." Kara menoleh ke arah Sekretaris Han.
Milan hanya mengangguk seraya tersenyum kepada Sekretaris Han. Begitupula dengan pria itu.
"Aku Liana ..." Liana mengulurkan tangan nya. "Mommy nya Tessa ... Dan ini suamiku." lanjut Liana seraya menoleh kepada Thomas di sampingnya.
Milan kembali mengangguk seraya berjabat tangan dengan Liana.
"Sekolah dimana?" tanya Liana.
"SMA Ganesha tante," sahut Milan.
Liana mengangguk-ngangguk. "Peringkat ke berapa di sekolah?"
Maxime dan Miwa sontak menoleh kepada Milan. Gadis itu terlihat kikuk jika di tanya hal yang menyangkut nilai sekolahnya. Apalagi sekarang Sky dan Javier juga ikut memandangi nya.
"Pasti tidak masuk peringkat kan?" tebak Jonathan.
"Tenang saja, kami dulu juga tidak terlalu pintar," sambung Samuel.
"Milan pernah bilang, nilai terbesar matematika nya lima puluh. Jangan malu Milan, aku lebih bod*h darimu," ujar Miwa.
Maxime tersenyum. "Nilai masih bisa di perbaiki."
"Ya, kalau ada kemauan. Kalau tidak ada kemauan seperti Miwa mana bisa," ucap Keenan seraya mendelik ke arah Miwa.
"Kau punya masalah apa denganku uncle, melihatku seperti itu!" Miwa menatap balik tidak suka.
Milan hanya mengigit bibir bawahnya, entah kenapa pembahasan nilai membuatnya sedikit malu. Apa mereka yang duduk dengan nya ini dulunya orang-orang pintar di sekolah, kecuali Miwa.
"Dimana orang tua mu?" tanya Rania sang nenek.
"Aku---"
"Orang tuanya sudah memberikan dia kepadaku," potong Maxime.
"Pasti karena uang," tebak Aiden.
"Tak apa, dulu juga Sky menikah denganku karena kesalahan orang tuanya tapi sekarang dia bahagia. Iya kan sayang?" tanya Javier kepada Sky di sampingnya.
Sky menepis tangan Javier di pundaknya. "Aku bilang jangan sentuh aku!!"
Mereka semua menahan tawa melihat Sky yang masih marah dengan Javier. Sementara Javier sendiri hanya bisa menghembuskan nafas.
Xander berdecih. "Seharusnya kau meminta izin kepadaku, Javier! karena sudah pasti aku tidak akan merestuimu menikah dengan putriku, apalagi saat itu di jadikan istri kedua!!"
"Kalau kau tidak merestui, tidak akan ada Maxime dan Miwa di dunia ini Pak tua," ucap Sekretaris Han.
"Sudah-sudah ... jangan membahas hal itu. Ada yang lebih penting yang menganggu otakku." Philip bersuara seraya menoleh kepada Maxime yang sedang minum jus.
"Apa Javier akan mempunyai cucu karena kau sudah memperk*sa Milan?" tanya Philip membuat minuman yang hendak masuk ke kerongkongan Maxime keluar kembali. Ia tersedak.
Bisa-bisanya masalah itu di bahas ketika makan bersama seperti ini. Philip menyebalkan.
Milan tak kalah terkejut dengan ucapan Philip sampai ia harus menunduk untuk menyembunyikan rasa malu nya.
Semua mata kini tertuju ke arah mereka berdua, menunggu jawaban dari salah satu nya.
Maxime berdecak sebal kepada Philip. "Tidak ada hal lain yang bisa di bahas?"
"Aku kan hanya penasaran, kau mencetak gol dengan sempurna tidak?" sahut Philip.
"Tidak," jawab Miwa.
Semua orang kini menoleh kearah Miwa. Kenapa perempuan itu yang menjawab.
"Se-sebenarnya sebelum aku memberikan obat perangs*ng kepada kak Maxi, aku lebih dulu memberikan pil KB kepada Milan."
Milan mendongak, ia merasa Miwa tidak pernah memberikan pil KB untuk nya.
"Kau ingat tidak, Milan. Dua hari sebelum kejadian itu, aku memberikan mu pil yang aku bilang vitamin untukmu."
Milan pun mengangguk pelan setelah mengingat Miwa pernah memberikan obat kepadanya dengan mengatakan itu vitamin untuk imun tubuh agar lebih kuat karena hari itu Milan tidak mau makan sama sekali setelah di tampar Maxime.
Semua orang menghembuskan nafas kecewa. "Yaaahhh ... gajadi dapat cucu aku." Sky terlihat begitu kecewa.
"Tenang Mom, aku akan lebih dulu memberikan cucu untukmu," ucap Miwa seraya tersenyum.
Arsen berdehem lalu mengambil segelas air dan meminumnya. Kenapa ia jadi khawatir Miwa menaruh obat perangs*ng untuknya sekarang.
"Miwa!!" Suara Maxime terdengar seperti sebuah peringatan.
Miwa menekuk wajahnya dan memilih menunduk memainkan sendok dan garpuhnya membuat mereka yang tidak tahu bingung dengan sikap Miwa.
Sekretaris Han yang sudah tahu hubungan Miwa dan Arsen hanya bisa menggeleng.
#Bersambung