The Devil's Touch

The Devil's Touch
#118



Tessa keluar dari mobil dan melangkahkan kaki masuk ke mansion Javier dengan menggulum senyum ia menyapa semua orang di dalam.


"Pagi ..."


Semua orang berbalik dan menoleh lalu menjerit senang melihat kehadiran Tessa. "Tessa ..."


Liana berlari menghampiri dan memeluk putrinya yang akhirnya mau juga keluar kamar.


"Sayang kau baik-baik saja?" tanya Liana.


Tessa mengangguk. "Ya, Mom. Aku baik-baik saja."


"Anak ini baru ke luar dari gua." Kara berkata seraya tersenyum menghampiri Tessa dan memeluk perempuan itu.


"Mommy merindukan mu, Tessa." Kara memeluk Tessa seraya mengelus sayang punggung perempuan itu.


"Tessa juga merindukan Mommy Kara."


Rania menghampiri dengan berjalan pelan di bantu tongkat di tangan nya.


"Grandma ..." Tessa menghampiri Rania. "Grandma duduk saja, jangan banyak berjalan."


"Iya, sudah tua duduk saja," sambung Xander di sofa seraya berteriak. Semua orang terkekeh pelan.


"Aku ini masih bisa jalan," sahut Rania setengah kesal. Kara langsung menghampiri Rania dan kembali membawa nya duduk di sofa.


"Sudah, ayo duduk lagi saja."


Sekretaris Han keluar dari kamar kala mendengar suara tawa dari orang-orang di ruang keluarga.


"Ada tamu ternyata ..." sekretaris Han menghampiri Tessa dan memeluk Tessa dengan penuh kasih sayang.


"Huhh Ayahnya malah pergi entah kemana." Liana mencibikkan bibirnya kesal, bukan nya Thomas yang memeluk Tessa malah Sekretaris Han.


Sekretaris Han melepas pelukan nya lalu menoleh kepada Liana. "Suamimu sedang membantu Philip menyembelih babi."


Tessa dan Liana sontak melebarkan mata. Sejak kapan Thomas mau membantu Philip dalam hal mengurus babi nya.


"Jangan gila kau Han!" ucap Liana.


"Itu benar," sahut Xander di sofa seraya tersenyum miring.


"Aku tidak bohong Liana. Ayo duduk, Tessa." Sekretaris Han mengajak Tessa duduk di sofa meninggalkan Liana yang masih ternganga dengan kabar Thomas membantu Philip.


Mereka berbincang-bincang selama beberapa menit di sofa, menanyakan kabar Tessa karena mereka khawatir Tessa jarang keluar kamar bahkan tidak ikut acara bakar-bakar malam itu. Menanyakan keseharian Tessa, membahas masa kecil Tessa yang membuat mereka tertawa sampai mempertanyakan apakah Tessa punya pacar atau tidak.


"Jadi mau sampai kapan kau melajang? diantara kalian berempat belum ada yang menikah loh. Ya kemungkinan Maxime yang pertama nanti," ucap Kara membuat Tessa tersenyum getir mendengar kemungkinan Maxime menikah. Bukan dengan dirinya.


"Kau mau di jodohkan oleh Ayahmu? sama seperti Miwa dulu?" tanya Liana.


"Mom, sudahlah aku malas membahas itu. Kalau memang bisa menikah aku akan menikah. Kalau tidak, sendiri juga tidak apa-apa."


Liana berdecak. "Tessa ... kau tidak bisa seperti ini. Mom mau melihat putri mommy satu-satu nya ini menikah."


"Tessaa ..." teriak Sky menuruni anak tangga dengan wajah sumringah melihat kehadiran Tessa. Di belakangnya ada Javier yang tersenyum ke arah Tessa.


"Mommy Sky ..." mata Tessa berbinar senang melihat Sky. Ia beranjak dari duduknya menghampiri Sky.


Liana hanya mendengus, ia sedang berbicara serius dengan putrinya harus terganggu dengan kehadiran Sky.


Tessa langsung memeluk Sky seraya merengek manja, padahal kepada Ibunya sendiri Tessa tidak sampai semanja ini. "Mommy Tessa kangen ..."


"Mommy juga kangen denganmu tau ..." Sky melepas pelukan nya dan meraup kedua pipi perempuan itu seraya tersenyum.


Sebenarnya kehadiran Tessa ke mansion Javier hanya untuk bertemu dengan Sky. Ia rindu dengan Maxime, rindu Maxime menanyakan kabar dan perhatian kepadanya walaupun hanya sebatas chatting saja.


Semenjak ada Milan, Tessa merasa Maxime berubah. Jarang sekali mengirimi pesan kepada nya walaupun hanya sebatas menanyakan kabar.


Alhasil untuk melampiaskan rasa rindu nya kepada Maxime, Tessa memilih bertemu dengan Sky, orang yang paling di cintai pria itu.


Bahkan sekarang, Tessa terlihat memeluk Sky lagi dengan erat seakan ingin mengeluarkan rasa rindu yang seharusnya ia keluarkan kepada Maxime.


Tak terasa, air mata jatuh begitu saja membahasi pipi perempuan itu. Javier yang berdiri di belakang Sky mendapati Tessa menangis di pelukan istrinya. Tangisan akan rindu yang tertahan kepada Maxime.


"Tessa, kenapa menangis?" tanya Javier seraya melangkah lebih dekat menghampiri Tessa dan mengelus kepala perempuan itu.


Semua orang di buat terkejut. Apalagi Liana. Kenapa putrinya tiba-tiba menangis.


Sky langsung mendorong tubuh Tessa hanya untuk melihat kedua bola mata perempuan itu.


"A-aku baik-baik saja," ucap Tessa pelan seraya menyeka air mata nya. Yang lain terlihat kebingungan dengan Tessa. Liana langsung mendekati putrinya.


"Kau ada masalah hm?" tanya Sky.


"Kenapa sayang? kenapa menangis?" tanya Liana setengah khawatir.


Tessa tersenyum getir. "Aku baik-baik saja, aku hanya merasa bersalah karena hari itu tidak ikut acara bakar-bakar dan malah bersikap dingin dengan Mommy ..." Tessa menoleh kepada Liana.


"Dan juga bersikap dingin kepada Daddy, padahal tidak seharusnya aku bersikap seperti itu di saat mood ku sedang buruk, bukan. Maafkan aku ..." lanjut Tessa yang tentu saja berbohong.


Sky dan Liana hanya saling menoleh. Mereka yang duduk di sofa juga hanya bisa menoleh satu sama lain seakan heran dengan sikap Tessa sekarang.


Bersambung