
Seorang pria paruh baya berdiri di atas rooftop mansion nya seraya memegang botol alcohol di tangan nya, angin malam berhembus menerpa wajahnya.
Ia meneguk botol tersebut lalu melemparnya sembarangan hingga pecah, ia mengambil rokok di saku celana dan menyalakan nya dengan pemantik api. Asap rokok menghilang cepat tertiup angin malam.
Di belakangnya seorang pria berusia dua puluh lima tahun hanya berdiri menatap Tuan nya.
"Tuan ... ini bukan masalah kecil. Kita harus menghadapi Yakuza dan Antraxs ..."
Pria tua itu kembali menghisap rokok nya lalu berkata. "Aku tau ..."
"Sebaiknya kita tidak perlu mengundang masalah dengan mereka Tuan ..."
"Aku hanya ingin membantu Felix, teman istriku ... apa itu salah?" tanya nya seraya berbalik menatap bawahan nya.
Aberto Robert pemimpin Recobra di Negara XX dengan lambang ular cobra di pergelangan tangan nya. Aberto juga membuat tatto ular cobra di lengan bagian atas, tatto yang lebih besar tapi tertutup oleh jas hitam yang ia kenakan.
Sementara itu tangan kanan nya bernama Smit. Pria lajang yang baru bekerja selama dua tahun bersama Aberto. Tangan kanan Aberto sebelumnya di hukum mati karena hampir melecehkan istrinya.
"Tuan, kita tidak mempunyai masalah apapun dengan Yakuza. Anda bahkan pernah bertemu dengan pemimpin Yakuza sebelumnya ..."
"Ya, tapi kita bukan teman," sahut Aberto.
Smit menghela nafas panjang dan hanya bisa pasrah dengan keputusan Aberto. Ingin sekali ia baku hantam dengan Felix karena berani meminta bantuan kepada Aberto, padahal Felix sendiri tinggal di negara yang di kuasai oleh Yakuza dan Antraxs. Felix hanya seorang pengusaha yang bermimpi lebih kaya dari Maxime, jadi ia memutuskan mendatangi ke kediaman Recobra untuk meminta bantuan menyingkirkan Maxime.
"Papah ..." panggil anak lelaki berusia sepuluh tahun.
Aberto menoleh. "Magma ..."
Aberto menghampiri putra semata wayangnya, Magma Mahavir Robert, putra semata wayang dari Aberto dan Rhea.
"Mama kemana?" tanya nya.
"Mama mu bukan nya di bawah?" Aberto balik bertanya.
Magma menggeleng. "Tidak ada."
Smit diam-diam menguping pembicaraan mereka dari jauh, tentang Magma yang selalu menanyakan keberadaan Ibunya. Smit berjalan menghampiri Aberto dan Magma lalu meminta izin untuk pergi dari rooftop.
"Tuan, saya izin pergi ada urusan yang harus saya urus ..."
Aberto mengangguk dan Magma hanya menatap Smit. Smit membungkukan badan lalu berjalan meninggalkan Ayah dan anak itu di rooftop.
"Masuklah ke kamarmu, Papah akan menelpon Ibumu dulu ..."
Magma mengangguk dan Aberto pun berjalan sedikit menjauh untuk menelpon istrinya, Rhea.
"Rhea kau dimana?" tanya Aberto setelah panggilan nya di angkat oleh Rhea.
"Aku di rumah teman ku, suaminya kecelakaan. Maaf aku tidak sempat mengabarimu dan Magma ..."
Aberto menghela nafas kasar dengan mengusap wajahnya. "Kenapa kau suka sekali pergi tanpa izin! Magma mencarimu!! cepatlah pulang ..."
"Astaga Aberto ... aku bahkan belum keluar dua jam dari mansion, jangan memaksaku untuk terus pulang! katakan kepada Magma jangan menjadi anak yang manja!!"
"RHEA BERANI SEKALI KAU BILANG MAGMA ANAK MANJA!! DIA ANAKMU ..."
Magma belum pergi dari rooftop, ia menekuk wajahnya mendengar jelas teriakan Aberto di telpon lalu berjalan pergi meninggalkan rooftop. Yang bisa ia simpulkan hanya lah, Ibunya yang mengatakan dirinya manja dan itu cukup membuatnya sakit hati.
*
Pagi hari Milan mandi seperti biasa untuk pergi ke sekolahnya sementara Maxime berjalan menuju kamar Tessa.
Ia meneguk pintu kamar Tessa, tak membutuhkan waktu lama Tessa pun membuka pintu dengan wajah senang melihat kedatangan Maxime.
"Kak ..." ucapnya dengan tersenyum.
"Bisa kita bicara?" tanya Maxime.
"Soal apa?"
"Bicara di dalam saja." Maxime melengos begitu saja masuk ke kamar Tessa.
Tessa hanya mengernyit bingung lalu menutup pintu kamarnya dan mendekati Maxime di sofa.
"Ada apa?" tanya Tessa.
Maxime menghela nafas. "Maaf kakak harus bertanya soal ini, apa kau tidak suka dengan Milan?" tanya Maxime.
"Jawab saja Tessa."
Maxime sudah melihat cctv di mall dan restaurant tentang Tessa berbicara dengan Milan.
"Tunggu kak, maksudnya apa? aku tidak benci dengan Milan ..."
"Begini, usia Milan itu masih terbilang sangat muda. Bahkan dia masih remaja, di usianya yang baru tujuh belas tahun bisa di bilang dia masih mencari jati diri dia yang sebenarnya. Pikiran nya masih labil, mudah tersinggung dan mudah memikirkan hal yang seharusnya tidak dia pikirkan. Kenapa kau membahas masalah bakat dengan nya? itu membebani pikiran dia ..."
"Loh, kak. Aku hanya ingin Milan tahu diri agar tidak mempermalukan kakak ..."
"Ya, kakak tau. Kakak tidak sepenuhnya menyalahkanmu ... tapi kau membahas masalah bakat Milan dan membanding-bandingkan nya dengan kekasih teman-teman Kakak ... Tidak bisa seperti itu Tessa!"
"Tapi Milan memang tidak punya bakat apapun dan tidak bisa apa-apa!" kesal Tessa.
"Punya. Dia punya!!" Kesal Maxime.
"Apa?!!"
"Dia bisa main piano dan dia suka itu!"
Tessa melebarkan matanya, sungguh ia sangat tidak percaya dengan apa yang di katakan Maxime.
Tessa tertawa. "Jangan bercanda kak!"
"Kakak tidak bercanda, saat kecil dia suka main piano tapi sayangnya orang tuanya melarang dia bermain piano lagi karena tuntutan nilai akademik!! Milan masih kecil sampai tidak menyadari rasa suka nya bermain piano adalah bakat yang dia miliki ..."
"Sama sepertimu ... kau suka menggambar dari kecil dan lihatlah kau bisa jadi seorang pelukis. Lihat Miwa, dari kecil suka sekali fashion, menggambar baju dan membuatnya menjadi desainer seperti sekarang. Kalian berdua bisa jadi seperti sekarang ini karena terus konsisten dengan apa yang kalian suka, selalu di arahkan oleh Dad dan Mom. Kakak dan Arsen juga bisa jadi seperti sekarang karena arahan dari Dad dan Mom. Tapi Milan? tidak ada yang mengarahkan dia ..."
Pintu kamar terbuka, Miwa masuk bersama Arsen membuat Maxime dan Tessa menoleh.
"Siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?" tanya Maxime. Tessa duduk melipat kedua tangan nya seraya menekuk wajahnya kesal. Kesal dengan ucapan Maxime.
"Hehehe ... Maaf tadi kita menguping," ujar Miwa lalu berjalan duduk di depan Maxime dan Tessa bersama Arsen di sampingnya.
"Sedang membahas masalah bakat?" tanya Arsen menatap bergantian Maxime dan Tessa.
Maxime menjawab dengan deheman. Arsen menghela nafas. "Hal kecil begini tidak penting di bahas!"
"Ya," sambung Miwa. "Lagi pula tidak semua orang bisa mengetahui bakatnya dengan cepat. Itulah kenapa peran orang tua sangat penting untuk anak yang sedang tumbuh kembang. Iya kan?" Maxime dan Arsen mengangguk setuju.
"Orang tua biasanya membantu anaknya mencari bakat apa yang anaknya miliki. Sama seperti kita berempat, aku dan Tessa lebih dulu tau apa yang kita suka dan kita bisa. Tapi Kak Maxi dan Kak Arsen malah baru keliatan bakatnya saat mereka sekolah SMA. Dan lihat, mereka jauh lebih hebat dari aku dan kau Tessa ... mereka suka sekali bisnis seperti Dad, jadilah pengusaha sekarang."
"Aku juga sebenarnya mendengar pembicaraanmu dan Milan saat di toko jam kemarin. Menurutku wajar Milan tidak tahu bakatnya apa karena orang tuanya terlalu fokus dengan nilai akademik, orang tua Milan menyebalkan seperti Dajjal!!"
Arsen berdecak seraya mendelik mendengar kata Dajjal yang di ucapkan Miwa.
"Memang benar kan kak?" tanya Miwa kepada Maxime. "Orang tua Milan seperti Dajjal, menyebalkan sekali. Ingin anaknya sukses tapi otak Milan di buat hampir gila dengan nilai akademik. Padahal tidak semua yang menjadi peringkat pertama di sekolah itu punya masa depan yang cerah seperti aku ..."
Arsen kembali berdecak. "Kau merasa hidupmu sangat cerah sekarang!"
"Hehe jelaslah. Aku kan anak De Willson, hidupku cerah walaupun tidak peringkat pertama."
"Terus saja membela dia," gumam Tessa yang masih terdengar oleh yang lain.
Maxime menghembuskan nafas. "Bukan membela Milan terus Tessa ..."
"Ya, kita bukan membelanya. Anggap saja kita sedang membahas definisi tentang bakat manusia. Bakat Milan terkubur karena orang tua Dajjal nya itu yang tidak mau membuka mata kalau kesuksesan seseorang itu tidak berdasarkan nilai akademik ... Dan orang tua Milan juga bod*h karena tidak mau membantu Milan mengembangkan bakatnya. Coba saja kalau dari kecil di biarkan bermain piano sambil sekolah dan ikut lomba bermain piano atau merekam dirinya sedang bermain piano dan mengaupload nya di sosial media agar di kenal orang banyak, aku yakin dia bisa jadi seorang pianis terkenal setelah lulus sekolah seperti Franz liszt ..."
Maxime menggelengkan kepala mendengar mulut Miwa yang cerewet tidak berhenti. Arsen malah bertepuk tangan bangga lalu mengelus kepala Miwa.
"Kau kalau masalah adu mulut memang nomor satu ..." ucap Arsen.
Miwa tersenyum. "Iya dong ..."
Tessa yang kesal malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Franz liszt itu siapa?" tanya Maxime.
"Coba saja kakak tanya Milan, kalau dia tau itu artinya dia memang ingin seperti Franz liszt," sahut Miwa.
"Si bod*h, padahal Miwa sudah bilang Franz liszt itu pianis terkenal," gumam Arsen pelan seraya menggosok hidungnya agar tidak terdengar oleh yang lain kalau ia mengatakan Maxime bodoh.
Bersambung