
"Ya, Dad?"
"Apa kau sekarang menjadi satpam, Maxi?"
Maxime terdiam sejenak, ia tahu cepat atau lambat hal kecil ini pasti akan di ketahui Ayahnya.
Maxime berdehem sebagai jawaban
"Apa tidak cukup menjaga petshop? kenapa harus menjadi satpam hah! Dad lebih suka kau kembali ke perusahaan!"
"Sabarlah, Dad. Aku nanti akan kembali ke perusahaan," sahut Maxime.
"Kau bekerja menjadi satpam dimana?" tanya Javier.
"Sekolah ..."
"A-apa? sekolah? jangan bercanda!"
Maxime berdecak. "Aku serius, Dad."
Javier hanya bisa bergeming, alasan Maxime menjadi penjaga petshop selain menyembunyikan identitas nya pria itu juga tidak suka keramaian. Bukan kah sekolah cukup ramai untuk Maxime bekerja.
"Apa alasan mu bekerja di sana?"
Maxime tidak langsung menjawab ia mendapati mobil Arsen melaju melewati petshop nya. Arsen sudah melaksanakan tugas dari Maxime untuk mencari tahu soal keluarga Aron.
"Aku hanya ingin suasana baru saja," sahut Maxime.
"Bukan karena gadis yang kau sukai itu masih sekolah kan Maxi?"
Maxime menghela nafas, tebakan Ayahnya benar. Tapi haruskah Maxime jujur sekarang.
"Tidak, Dad."
"Jangan bohong Maxime!"
"Max, gadismu sudah bangun." Aliandra berkata setelah keluar dari kamar Maxime. Dan suara Aliandra terdengar oleh Javier.
"Gadismu?" Javier mempertanyakan perkataan yang ia dengar. "Ada Aliandra juga di sana."
Maxime menoleh kepada Aliandra seraya berdecak sebal lalu kembali berbicara dengan Ayahnya.
Aliandra sendiri hanya menggelengkan kepala lalu berjalan ke meja makan untuk meminum segelas air.
"Sudah dulu, Dad. Nanti aku telpon lagi."
"Gadismu, siapa itu Maxi! apa kau punya kekasih? Maxi ... hallo ..."
Javier mendengus karena Maxime mematikan panggilan nya, ia kembali menghampiri Sky, Liana, Kara dan Aiden.
"Dimana teman-teman mu?" tanya Javier dengah wajah kesal.
Sky dan yang lain hanya saling menoleh bingung kenapa Javier terlihat kesal.
"Aku tidak tau Tuan," sahut Aiden.
"Cari mereka dan bawa ke hadapanku!!" Javier berkata seraya memercak pinggang.
Entah berapa tahun Aiden tidak lagi melihat Javier marah, kecuali marah bercanda. Tapi yang kali ini benar-benar berbeda, Javier tampak begitu kesal.
"Baik Tuan." Aiden menunduk lalu pergi mencari teman-teman nya yang lain.
"Ada apa sayang?" tanya Sky.
"Di bayar berapa si kutu kupret itu sampai tidak mengaku kalau ada gadis di petshop Maxime!!" geram Javier.
"Aku juga tidak tahu, padahal aku sudah menyuruh Keenan dan yang lain untuk memata-matai Maxime! tapi mereka selalu menjawab petshop Maxime aman dan aman!!"
Sky menghembuskan nafas. "Kau juga sudah tau Keenan dan yang lain mata duitan, masih saja percaya dengan dia!!"
"Hei, jangan menjelek-jelekkan kakakku!!" hardik Kara.
"Sudah-sudah, kenapa tidak kita saja ke petshop Maxime?" ucap Liana.
"Dia pasti menyembunyikan gadisnya itu!" sahut Javier.
"Aneh, kenapa Maxime tidak mau jujur dengan kita. Dia juga tidak jujur denganmu, Sky!" ucap Kara.
"Sudah, kita dengar pengakuan dari Keenan dan yang lain saja," potong Javier.
*
Maxime menghampiri Milan yang terduduk di atas ranjang dengan meluruskan kakinya. Ia duduk di samping gadis itu.
"Sayang ... kau baik-baik saja? Maaf aku tidak menjagamu." Maxime berkata seraya mengelus kepala Milan.
Milan mendongak. "Aku baik-baik saja."
Maxime tersenyum samar. "Apa yang kau rasakan? pusing?"
"Sedikit," sahut Milan.
"Tunggu sebentar ..."
Maxime kembali keluar dari kamarnya untuk mengambil segelas air. Aliandra terlihat sedang makan dessert di meja buatan Maxime sebelum berangkat ke sekolah tadi.
"Efek pusing nya dari obat bius. Aku sudah menyimpan obatnya di meja."
"Aku tau!" sahut Maxime jutek.
Aliandra menghela nafas seraya menggeleng. Kenapa Maxime harus mempunyai sikap menyebalkan seperti Javier.
"Apa kakak ku baik-baik saja?" tanya Aliandra membuat Maxime menghentikan langkahnya menuju kamar dengan memegang segelas air.
Maxime berbalik menatap Aliandra. "Apa kau pikir Daddy ku tidak bisa menjaga Mommy dengan baik. Cih, kau kan hanya adik angkat!!"
Aliandra berdecak. "Dia tetap kakak ku!!"
Maxime menghela nafas. "Dokter Al, silahkan anda pulang jika tugas anda sudah selesai, saya akan transfer uangnya. Mengerti!"
Maxime pun melengos meninggalkan Aliandra yang hanya bisa menahan kekesalan nya. Tadi memaksa nya tak sabaran untuk segera datang sekarang malah di usir.
"Sayang minum obatnya dulu."
Maxime memberikan segelas air dan obat di nakas kepada Milan.
Setelah selesai Maxime menyimpan kembali gelasnya di meja.
"A-aku tadi ..." Milan berusaha mengingat-ngingat apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya tadi pagi.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Mereka orang jahat yang mau menculikmu." Maxime mengusap pundak Milan menenangkan.
"Tapi kenapa aku ada di sini?" tanya Milan. "Kenapa kau bisa tau aku di culik?"
"Mudah untuk ku menemukan mu," sahut Maxime seraya tersenyum. Pria itu pun mendekat dan mencium kening Milan lalu ponsel di saku celana nya bergetar. Ada pesan dari salah satu anak buahnya.
Tuan, aku sudah menangkap Daffa.
#Bersambung