
Maxime menarik dirinya dari kepala ranjang, duduk menatap istrinya dari atas sampai bawah lalu menelan saliva nya susah payah.
Milan perlahan mendongak dan mendapati suaminya menatap tubuhnya tanpa berkedip, sontak Milan menghalangi tubuhnya dengan kedua tangannya karena merasa malu.
"Ja-jangan melihatku seperti itu ..."
Maxime tersenyum. "Coba berputar."
"Hah?"
"Berputar sayang ... aku ingin melihat yang belakang."
"Tapi--"
"Milan!!" Ucapan Maxime sebagai bentuk peringatan agar Milan menurut.
Milan mendengus lalu bergumam. "Kenapa aslinya dia mes*m seperti ini!" kemudian dengan terpaksa Milan pun berputar perlahan-lahan.
Maxime menyunggingkan senyumnya, lingerie pink dengan rambut di gerai membuat Milan semakin s*xy.
"Coba menari ..."
Sontak Milan mematung lalu melebarkan matanya menatap Maxime.
"A-apa?"
"Menari sayang, seperti perempuan di klab tadi. Kau pasti melihatnya tadi, bukan?"
Milan mengingat kejadian ia masuk pertama kali ke klab, para perempuan liar menari menggoyangkan pinggulnya dengan wajah seperti sedang menggoda para pria di sana.
"Apa dia memintaku menggoda nya," batin Milan.
Maxime tersenyum menunggu Milan menuruti perintah nya. Perempuan tomboy seperti Milan, sudah mau memakai lingerie pink saja itu seperti keajaiban. Sekarang, menari seperti perempuan liar. Ah, ingin sekali rasanya Milan berlari keluar dari kamar hotel itu, tapi ia juga tidak mau Maxime bersikap dingin lagi.
"Eumm bagaimana kalau--"
"Aku hanya ingin kau menggodaku dengan menari," potong Maxime.
"Sabar Milan sabar Milan ..." Milan membatin seraya mengepalkan tangannya, lalu ia menghela nafas dan terpaksa memberikan suaminya itu senyuman sebelum menari.
"Baiklah ..."
Milan memejamkan matanya sesaat lalu mengingat-ngingat bagaimana para perempuan di klab itu menari. Sungguh, ketika bayangan mereka hadir di otak Milan, sontak Milan bergidik jijik membuat Maxime terkekeh pelan lalu menggosok hidungnya agar Milan tidak melihat dirinya tertawa.
Yang pertama, perempuan liar di klab itu menari menggoyangkan pinggulnya dengan tangan memb*lai pahanya sendiri dan raut wajah mengg*da.
Milan benar-benar melakukan tarian tersebut, tangan nya perlahan m*mbelai pahanya sendiri dari bawah ke atas sampai ke leher dengan mata tertutup.
Tangannya m*mbelai leher dan turun ke d*da nya. Milan membuka matanya sedikit hanya untuk mengintip bagaimana reaksi Maxime.
Dan ternyata pria itu hening seraya terus memandang Milan tanpa berkedip. Kemudian Milan melihat Maxime beranjak dari duduknya mendekati dirinya, sontak Milan menutup rapat matanya tanpa menghentikan tarian nya.
Tapi ketika Maxime menyentuh pinggangnya, Milan terkejut dan langsung membuka mata menatap mata Maxime yang tepat di depan wajahnya.
Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum. "Itu baru istriku," ucapnya pelan lalu memberikan kecupan di bibir gadis itu.
Milan yang masih shock dengan Maxime yang tiba-tiba menc*umnya hanya diam mematung membuat Maxime terkekeh.
Kemudian pria itu meraup kedua pipi Milan, menci*m gadis itu lebih lama. Milan memegang kedua tangan Maxime di pipinya.
Maxime melepas cium*n nya lalu berpindah menc*um leher Milan membuat gadis itu memejamkan mata.
Maxime terus menghujani tubuh Milan dengan cium*n seraya perlahan mendorong tubuh Milan mendekati ranjang.
Milan akhirnya terduduk di atas kasur dengan Maxime berdiri di depannya, Maxime mengusap bibir Milan lembut. Milan hanya diam menatap suaminya dengan jantung berdebar, tapi ia berusaha tetap santai.
Maxime melepas bajunya membuat Milan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aku tidak suka caramu mengalihkan pandangan dari tubuhku ya," ucap Maxime membuat Milan akhirnya terpaksa kembali melihat suaminya itu. Lalu ia menelan saliva nya susah payah, tubuh kotak-kota seperti roti sobek, ini bukan kali pertama Milan melihatnya tapi sedekat ini membuat Milan tak bisa berkedip.
Maxime perlahan membungkukan badannya lalu kembali menci*m gadis itu dengan tangan melepas lingerie yang Milan kenakan.
Milan menahan tangan Maxime. "A-aku bisa membukanya sendiri."
Milan masuk ke dalam selimut, grasak-grusuk sendiri untuk melepas lingerie nya. Setelah berhasil ia mengeluarkan lingerie itu dari dalam selimut dan melemparnya ke lantai membuat Maxime tersenyum dan segera masuk ke dalam selimut dengan tidak sabaran.
Pria itu berada di atas istrinya dengan menc*umi telinga Milan, Milan hanya diam memeluk Maxime.
Tangan Maxime bermain-main dengan tubuh Milan tapi Milan tidak mungkin bisa melarang suaminya itu. Alhasil Milan hanya pasrah.
Beberapa menit kemudian Maxime akhirnya menyatukan tubuh mereka, Milan hampir menjerit kalau saja mulutnya tidak di bungkam oleh tangan Maxime.
"Apa itu sakit?"
Milan mengangguk cepat. Tapi Maxime malah tersenyum, Milan berusaha melepaskan tangan Maxime dari mulutnya. Tapi ia kesulitan karena Maxime lebih kuat dari dirinya.
"Maaf sayang ..."
Maxime tidak perduli dengan Milan yang berusaha memberontak karena lama kelamaan gadis itu akhirnya diam sendiri.
Bersambung