The Devil's Touch

The Devil's Touch
#174



Milan mengerang, mendesis dan perlahan membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar yang buram sampai harus mengerjap beberapa kali. Barulah ia bisa melihat jelas sekeliling kamar lalu pandangannya menoleh ke samping, Maxime sudah tidak ada di sampingnya.


Milan mencoba melihat dirinya di dalam selimut, masih telanj*ng. Kamudian ia mendengar suara air di kamar mandi, sontak Milan melebarkan matanya, ia pikir Maxime kembali meninggalkan nya lagi.


Tidak tahu apa yang harus Milan lakukan jika nanti Maxime keluar dari kamar mandi, ia salah tingkah sekarang.


Milan mengambil ponselnya di nakas, pukul tiga pagi, akhirnya Milan memutuskan untuk pura-pura tidur toh ini masih terlalu pagi.


Maxime keluar dari kamar mandi dengan celana pendek menutupi bagian bawah tubuhnya, ia menatap Milan lalu beralih menatap ponsel di nakas, pria itu terlalu cerdik sampai menyadari posisi ponsel Milan di nakas berbeda dengan sebelumnya. Ponselnya tadi terlentang sekarang telungkup, itu artinya Milan sudah bangun.


Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum lalu berjalan naik ke atas ranjang dan mendekap istri kecilnya.


"Aku tau kau sudah bangun sayang ..."


Milan masih enggan membuka mata walaupun mendengar suara Maxime.


"Apa aku harus membangunkan mu dengan cara seperti tadi hm?"


"Kau tidak menjawab, itu artinya mau."


Maxime hendak naik ke atas tubuh Milan tapi gadis itu langsung menahan tubuh Maxime.


"Jangan!"


Maxime tersenyum. "Aku tau kau sudah bangun ..."


Maxime kembali mendekap gadis itu dari samping. Milan hanya diam menatap langit-langit kamarnya saja dengan selimut menutupi tubuhnya sampai leher.


"Maxime apa aku akan hamil?" tanya Milan memecahkan keheningan diantara mereka.


"Tentu saja sayang."


"Tapi aku masih kecil."


"Anak kecil yang bisa membuat anak kecil," sahut Maxime seraya terkekeh.


"Kakiku ... kenapa kakiku sakit?" tanya Milan pelan.


"Itu hanya pegal saja sayang."


"Tapi yang pertama tidak seperti ini." Milan mengingat dimana mereka melakukan nya untuk pertama kali karena obat per*ngsang dari Miwa.


"Yang pertama aku tidak melakukan apapun kepadamu, aku hanya membuka pakaianmu saja," sahut Maxime menahan senyumnya.


"A-apa?" Milan menoleh ke arah Maxime.


"Aku berbohong supaya kau tidak pergi lagi. Jadi tadi kita melakukannya yang pertama ..."


"Lalu, bagaimana kau melampiaskan yang pertama karena obat itu?"


"Kau tidak perlu tau, itu urusanku," sahut Maxime tersenyum.


"Kau menyebalkan!"


"Kalau tidak seperti itu, kau berniat kabur lagi dulu."


Milan tidak menjawab lagi, ia hanya menarik selimut menutupi wajahnya sampai hidung karena Maxime terus menatapnya dengan tersenyum.


"Jangan menutupi wajahmu!" Maxime menarik selimutnya kembali tapi gadis itu malah kembali menarik selimut menutupi seluruh wajahnya.


"Aku mau pakai baju, bisa kau ambilkan bajuku di kamar mandi."


"Keluar dari selimut dan pergi ke kamar mandi kalau begitu sayang."


"Kau tau aku sedang telanj*ng sekarang. Bagaimana aku bisa keluar dari selimut ini!"


"Tidak ada siapa-siapa, hanya ada aku di sini sayang."


"Justru karena ada kau, aku tidak mau keluar," sahut Milan pelan di dalam selimutnya.


"Sayang ..." Maxime hendak menarik selimut itu tapi Milan menahannya.


Alhasil keduanya saling menarik selimut satu sama lain.


"Kau tidak bisa bernafas di dalam sana."


"Malu dengan siapa?" Maxime terus menarik selimut itu dan Milan terus menahannya.


"Malu denganmu," sahut Milan. "Aku tidak pakai baju."


"Aku sudah melihat semuanya untuk apa malu lagi? keluar dari dalam selimut!!"


"Tidak!!"


"Sayang!!"


"Tidak mau!!"


"Milan!!"


Milan mengalah kalau Maxime sudah memanggil dirinya dengan nama, selimut itu di turunkan sampai dada. Maxime tersenyum dan malah memberikan Milan ci*man.


"Maxime aku mau baju," keukeuh Milan.


"Aku akan mengantarmu ke kamar mandi."


Maxime menyibakkan selimut dengan cepat membuat Milan sontak melotot, selimut itu di tendang Maxime sampai jatuh ke lantai. Tubuh Milan spontan meringkuk.


"Maximeee ..."


Maxime tertawa. "Ayo sayang aku akan mengantarmu ke kamar mandi."


Maxime menggendong tubuh Milan dan membawanya ke kamar mandi lalu menidurkannya di bathup.


Maxime mengambil pakaian Milan yang tergantung di gantungan kamar mandi dekat cermin lalu memberikannya kepada gadis itu.


"Jangan lama ya."


Milan mengangguk dengan memeluk tubuhnya sendiri di dalam bathup. Maxime pun keluar dan membiarkan Milan memakai bajunya.


Setelah selesai, Milan keluar dan kembali menghampiri Maxime di ranjang. Ia duduk menyenderkan punggungnya di kepala ranjang dengan meluruskan kakinya.


Pria itu mendekat dan tidur di paha Milan. Milan diam mengelus kepala Maxime.


"Maxime ..."


"Bisakah kau memanggilku sayang saja, jangan memanggilku nama terus."


"Sayang ..."


Maxime tersenyum lalu menatap istrinya dan mengelus pipi gadis itu dengan lembut.


"Ya sayang?"


"Eummm ... menurutmu apa setelah lulus aku tidak perlu kuliah?"


"Aku sempat memikirkan hal itu, tapi sepertinya tidak perlu."


"Kenapa?"


Maxime menggenggam tangan Milan dan mencium punggung tangannya. "Aku takut kau selingkuh di kampus, karena banyak pria yang lebih muda dariku nanti."


"Tapi aku tidak mungkin diam di mansion saja."


"Kau bisa bekerja sebagai sekretaris ku kalau mau bagaimana?"


"Aku bahkan tidak mengerti tugas sebagai sekretaris."


"Kau hanya mengatur pertemuan ku dengan rekan bisnisku yang lain sayang, aku tidak mungkin membebani pekerjaan yang berat untukmu karena ada Arsen. Dan kau juga bisa ikut kemanapun aku pergi nanti. Bagaimana?"


Milan terlihat berpikir. "Les piano ku?"


"Les piano mu hanya tiga kali dalam seminggu, sisanya kita menghabiskan waktu bersama lebih banyak."


Milan akhirnya mengangguk membuat Maxime tersenyum lalu mencium punggung tangan gadis itu.


Bersambung