The Devil's Touch

The Devil's Touch
#211



Magma langsung berlari ke halaman belakang mansion melewati halaman depan. Para penjaga sempat menghalau Magma dan bertanya anak itu mau pergi kemana malam-malam, tapi Magma hanya meminta mereka untuk tetap diam dan meminta mereka jangan memberitahu Ayahnya.


Mereka pun menurut karena bagaimanapun Magma tetap Tuan mereka yang harus di hormati sama seperti Aberto.


Ia terus berlari dengan menangis, sesekali ia mengusap matanya. Ketika sampai di halaman belakang, Magma menemukan sesuatu yang membuatnya tercengang, sebuah kuburan yang tanahnya terlihat masih basah ada di belakang mansion.


"Mama ..."


Magma berlari kembali lalu jatuh tersungkur di kuburan Ibunya. Ia menangis sejadi-jadinya, memeluk kuburan Ibunya. Magma yakin itu kuburan Ibunya karena ia benar-benar melihat Aberto memasukan mayat Rhea ke dalam koper dan membawanya ke halaman belakang.


"Mama ... ini Magma, Ma ..." Magma terisak.


Ia tidak tahu alasan apa yang membuat Ayahnya tega membunuh Ibunya. Walaupun ia sempat mendengar Ibunya mengatakan kalau dirinya bukan anak kandung Ayahnya, tapi kenapa harus sampai membunuh Rhea.


Magma tidak terima, karena Rhea ibu kandungnya. Di usianya yang baru sepuluh tahun ia harus kehilangan Ibunya, ia tidak terima karena selama ini ia selalu berusaha untuk merebut perhatian Rhea, untuk mendapat kasih sayang dari Rhea.


Tapi sekarang, selamanya ia tidak akan mendapatkan kasih sayang dari Ibunya karena Ibunya telah mati.


Magma bangun dari kuburan Ibunya, ia berdiri menatap kuburan itu dengan mengepalkan tangannya, kemudian Magma kembali berlari masuk ke mansion.


Ia berlari ke salah satu lorong yang menuju ruangan senjata, Magma tahu siapa Ayahnya, Magma pernah melihat Aberto membunuh seseorang, Magma tahu alasan kenapa semua orang di Negara nya begitu takut dengan Ayahnya.


Di pintu itu ada kode yang harus di masukan, kode itu seharusnya hanya Aberto dan Smith yang tahu. Tapi Magma pernah diam-diam mengikuti Aberto dan Smith masuk ke ruangan ini dan melihat kode yang di masukan Ayahnya.


Magma menekan angka 3378, kode untuk membuka pintu. Ketika kode itu benar, maka pintu itu akan mengeluarkan suara sebentar, lalu pintu pun bisa di buka.


Dan tiba-tiba hujan turun di ikuti angin dan petir yang menggelegar.


Aberto membuka matanya seketika ketika ia bermimpi ada seseorang yang masuk ke ruang senjata. Tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan keringat dingin, ia seakan mendengar suara pintu ruang senjata yang terbuka.


Petir terus menyambar, membuat kilatan cahaya masuk ke kamar Aberto. Tirai jendela pun bergerak tertiup angin karena jendelanya sempat terbuka.


Magma mengambil salah satu pistol di sana, ia tahu bagaimana memakai senapan, ia pernah melihat anak buah Recobra yang baru belajar menembak di salah satu ruangan.


Magma memegang erat senapan di tangannya. Haruskah ia? haruskah ia membunuh Aberto dengan alasan Ibunya.


Sejenak Magma memikirkan kasih sayang Aberto yang selalu di berikan kepadanya. Tapi kemudian kenangan itu hilang ketika Magma mengingat Aberto membunuh Ibunya.


Magma keluar dari ruangan itu, berlari di lorong dengan menyembunyikan senapan di balik bajunya. Sesekali ia menoleh ke kanan ke kiri, khawatir ada orang yang melihatnya.


Kemudian Magma menaiki anak tangga menuju kamar Aberto. Di depan kamar Aberto ia diam mematung, haruskah ia masuk atau kembali ke kamarnya dan bersikap seolah-olah ia tidak tahu apa-apa.


Matanya berkaca-kaca, wajahnya memerah. Antara tidak rela membunuh Ayahnya dan dendam memenuhi tubuh anak sepuluh tahun itu.


Tapi langkah yang ia ambil adalah masuk ke kamar Aberto dengan mengendap-ngendap. Tadi kamarnya terang, tapi sekarang kamarnya gelap, hanya ada satu lampu tidur yang menyala di sisi ranjang membuat pencahayaan temaram.


Tapi Magma bisa melihat Aberto sedang tertidur lelap membelakangi dirinya.


Magma perlahan mengeluarkan pistol itu dari balik bajunya, dengan tangan gemetar Magma mengarahkan pistol itu ke arah Aberto.


Nafasnya memburu, matanya berkaca-kaca. Perlahan ia menarik pelatuk. Ia memberi jeda sesaat menatap punggung Aberto, tapi ketika ingatannya kembali saat melihat video cctv dimana Rhea di tembak dengan mudah oleh Aberto sontak tangan kecilnya itu langsung menembak punggung Aberto.


Di saat bersamaan Smith masuk dan membulatkan mata sempurna ketika melihat apa yang di lakukan Tuan muda nya.


Smith datang ke mansion karena penjaga cctv tadi menelponnya dan bertanya kenapa Smith memanggil dirinya padahal Smith tidak memanggil siapapun, dari situ Smith curiga ada yang tidak beres di mansion, ia langsung pergi ke mansion Aberto, tapi ia terlambat.


"Tuan muda ..."


Terdengar suara erangan kesakitan, Smith melihat Aberto hendak membalikkan tubuhnya. Ia buru-buru menggendong Magma keluar dari kamar. Jangan sampai Aberto tahu kalau Magma menembak dirinya, karena itu akan menjadi hal paling menyakitkan untuk Aberto.


Smith membawa Magma keluar dari kamar kemudian menelpon dokter pribadi mereka yang memang dokter tersebut tinggal di mansion Aberto, hanya saja kamarnya jauh dari kamar Aberto.


Magma terlihat mematung dengan pandangan kosong. Smith langsung berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Magma.


Dokter Alvad datang dengan peluh di keningnya, sebenarnya mustahil untuk Aberto selamat karena Smith melihat pistol yang di bawa Magma itu pistol terbaik yang kekuatan pelurunya cukup tajam. Suara erangan tadi Smith yakin, suara erangan Aberto menuju kematiannya.


"Tuan muda ..."


Magma menarik ujung bibirnya tersenyum. "Apa aku bisa menjadi pemimpin sekarang, Smith?"


"Tuan muda ... dia Ayahmu ..."


Magma menggeleng. "Dia bukan Ayahku, dia yang membunuh Ibuku."


"Apa maksud anda Tuan?" tanya Smith, karena saat mengantar Magma ke kamarnya, Smith langsung keluar dari mansion. Ia tidak pernah melerai pertengkaran Aberto dan Rhea. Pertengkaran mereka sudah biasa terjadi.


"Ibuku di kubur di belakang Smith, Papah membunuhnya ..."


Terlihat raut wajah kesedihan juga kemarahan di wajah Magma.


"Papah bukan Ayah kandungku ..."


Smith menghela nafas, jadi Magma sudah mengetahui hal tersebut. Dokter Alvad keluar dari kamar dengan wajah lesu menatap Smith dan Magma.


"Bagaimana?" tanya Smith.


Dokter Alvad menggelengkan kepala sebagai jawaban membuat Smith menghembuskan nafas lalu mengusap wajahnya kasar.


Dokter Alvad menatap Magma, siapa yang membunuh Tuan Aberto sebenarnya. Kenapa Magma tidak terlihat sedih, hanya itu yang di tanyakan di otak Dokter Alvad.


Magma berlari ke kamarnya, mengacuhkan Smith yang memanggilnya. Magma mengunci pintu kamarnya, naik ke atas ranjang dan duduk di sana dengan pandangan kosong menatap luar jendela. Terdengar Smith mengedor-gedor pintu kamar Magma.


Dan hari ini anak sepuluh tahun itu pertama kalinya membunuh seseorang, Ayahnya sendiri. Hidup di lingkungan orang-orang yang saling membunuh membuat Magma memiliki keberanian yang besar, bahkan untuk membunuh Ayahnya sendiri.


Smith meninggalkan kamar Magma untuk mengurus upacara kematian Aberto. Banyak anak buah yang memenuhi lantai bawah ketika Dokter Alvad mengatakan Aberto menghembuskan nafas terakhirnya malam ini.


Mereka menunggu Smith yang menjelaskan, apa benar Aberto mati.


Bersambung