The Devil's Touch

The Devil's Touch
#56



Maxime menyimpan ponsel nya di laci kecil samping ranjang lalu berjalan keluar untuk merokok di depan gudang.


Ia tidak mau Milan terganggu dengan asap rokok yang membuat gadis itu terbangun.


"Om yang sedang menjaga ponakan nya," ledek Jack yang tiba-tiba berdiri di samping Maxime dengan senyuman meledek.


"Kenapa kau di sini?!" tanya Maxime.


"Aku bosan, biasanya di kantor membantu Arsen tapi di sini hanya duduk di ganggu para gadis tujuh belas tahun," sahut Jack seraya duduk di samping Maxime dan mengeluarkan sebatang rokok dari saku lalu menyalakan nya dengan pematik api.


"Bukan kah kau suka perempuan yang menggoda mu lebih dulu," ucap Maxime lalu kembali menghisap rokok nya.


"Mereka bukan tipe ku, mereka hanya gadis yang kalau aku lempar ke ranjang pasti menangis," sahut Jack seraya terkekeh pelan.


Maxime hanya berdecih, teman nya yang satu ini memang suka sekali bermain wanita hanya untuk memuaskan hawa n*fsu nya saja.


Walaupun ada aturan Yakuza tidak boleh mempermainkan wanita, tapi yang di lakukan Jack tidak melanggar aturan tersebut karena pria itu melakukan nya dengan para pelac*r berbayar.


"Bagaimana dengan si penerror itu?" tanya Jack kini.


"Masih jadi pengecut!" sahut Maxime.


"Bagaimana dengan Oris?"


"Dia tidak ada di mansion, aku kurang yakin dia pelaku nya," sahut Maxime.


"Aku bingung, kenapa mereka harus menjadi penerror tersembunyi seperti ini. Pasti bukan karena mereka pengecut."


"Mereka lebih suka melihat musuhnya hidup sengsara dari pada melihat musuh nya mati!! hidup dengan kehancuran membuat mereka lebih puas," sahut Maxime.


"Kau benar, melihat musuh hidup dengan kehancuran lebih puas!" Sambung Jack dan tiba-tiba pintu gudang terbuka.


Maxime dan Jack menoleh ke arah Milan yang berdiri di ambang pintu, Jack membuang puntung rokok nya dan menginjaknya dengan sepatu lalu beranjak dari duduknya.


"Aku pergi dulu."


Jack kembali ke ruangan nya tidak mau ikut campur dengan Maxime dan Milan.


"Kau sudah bangun." Maxime beranjak menghampiri Milan dan mengeluk kepala gadis itu dengan tersenyum.


"Masuk, kita kerjakan dulu tugasmu."


Maxime mendorong gadis itu kembali ke gudang. Milan duduk di ranjang dan Maxime mengambil kertas ulangan Milan di meja lalu duduk di samping gadis itu.


"Siapa Jack sebenarnya?"


"Dia temanku," sahut Maxime.


"Arsen?" tanya Milan penasaran.


"Adikku."


Milan melebarkan matanya. Jadi selama ini Arsen bukan teman dekat Maxime.


"Tapi wajah kalian tidak mirip," ucap Milan.


"Dia anak sekretaris Ayahku dulu, karena kami tumbuh bersama dari kecil jadi kami saling menganggap adik dan kakak."


Maxime mengangguk. "Adik kandungku perempuan, namanya Miwa. Dan aku punya adik perempuan lagi namanya Tessa, dia anak dari sahabat Ayahku."


Milan mengangguk-ngangguk lalu mereka mengerjakan tugas bersama-sama.


*


Karena Miwa yang beralasan kepada Maxime untuk pergi ke luar negeri bertemu rekan bisnis, alhasil Arsen dan Miwa harus benar-benar pergi ke luar negeri.


Arsen tidak mau Maxime curiga kalau dirinya tinggal di kantor untuk menjauhi Miwa dan tidak mau juga dirimu di selidiki oleh Maxime karena Miwa menyukai nya.


Mereka berdua ada di dalam pesawat kini dengan Arsen yang terus memalingkan wajah ke jendela.


Mereka pergi dengan pesawat khusus keluarga De Willson group.


"Kak, kayanya seru kalau kita pergi bersama Kak Maxi dan Tessa. Sudah lama kita tidak liburan bersama, iya kan?"


"Hmmm ..." Arsen hanya menjawab dengan deheman saja.


"Atau bagaimana kalau aku telpon Kak Maxi dan Tessa supaya mereka ikut menyusul kita?"


Arsen menoleh seraya berdecak. "Miwa, tidak bisakah kau diam?"


Miwa menekuk wajahnya. "Kak Arsen kenapa sih, kenapa sekarang menyebalkan sekali! padahal dulu tidak!!"


Tidak niat menjawab Arsen kembali memalingkan wajahnya.


"Apa karena aku jujur dengan perasaanku?" ucap Miwa terus memperhatikan Arsen.


"Stop," sahut Arsen pelan.


"Kak aku ---"


"Stop Miwa!!"


"Tapi kak aku--"


"MIWA STOP!!" teriak Arsen menatap jengkel Miwa, perempuan itu terhentak kaget dengan teriakan Arsen yang baru kali ini pria itu berani berteriak kepada nya.


"Kak apa salahnya aku jujur dengan perasaanku sendiri!!" teriak Miwa.


"Itu salah, Miwa!! salah!! Kakak tidak mau mempunyai masalah dengan Maxime!!" balas Arsen frustasi.


"Kita bisa menghadapi kak Maxime sama-sama kak!!"


Arsen menghela nafas menetralkan emosi nya, menyenderkan punggung nya di kursi. "Kakak tidak mungkin mencintaimu, karena kita tumbuh bersama dan kau sudah kakak anggap sebagai adik, sama seperti Tessa."


Arsen berbicara seakan sebuah peringatan untuk Miwa agar perempuan itu lebih baik mundur saja soal perasaan nya.


Miwa hanya bisa berkaca-kaca, ia seakan tidak punya tempat di hati Arsen. Ia belum memulai mengejar Arsen begitu kuat tapi sudah di paksa mundur.


Tidak, Miwa tidak akan mundur begitu saja. Miwa akan tetap mengejar Arsen.


#Bersambung