The Devil's Touch

The Devil's Touch
#188



Awalnya Miwa mengajak Milan dan Tessa shopping bertiga saja tetapi setelah dipikir-pikir Miwa membutuhkan asisten untuk membawa barang belanjaannya nanti.


Alhasil Maxime, Arsen dan Daniel kini membuntuti tiga perempuan itu dari belakang sebagai asisten yang membawa barang belanjaan nanti.


Tiga perempuan itu asik berjalan seraya tertawa. Entah apa yang membuat mereka tertawa sampai membuat ketiga pria dibelakangnya hanya bisa menghela nafas.


Mereka masuk ke toko tas, tiga pria itu pun ikut masuk dan duduk di sofa. Kemudian seorang pelayan menghampiri mereka.


"Maaf, Tuan. Di larang merokok," ucapnya ketika melihat Maxime, Arsen dan Daniel hendak mengeluarkan rokoknya.


"Siapa kau berani melarangku?" tanya Maxime datar.


"A-aku ... aku hanya pelayan di toko ini Tuan."


"Kalau begitu bersikap lah seperti seorang pelayan. Layani tiga perempuan itu jangan menganggu kami!" sahut Arsen membuat pelayan perempuan itu akhirnya terpaksa menganggukan kepala karena melihat tatapan tajam dari Maxime.


Sudah dua puluh menit tiga perempuan itu masih belum mendapatkan tas yang mereka inginkan. Itu disebabkan karena Miwa, perempuan itu yang sangat rumit dalam memilih tas, menanyakan bahan yang di buat tas tersebut, menanyakan warna yang sudah jelas-jelas tidak ada di toko, bercerita tipe tas yang dia inginkan dan segala tektek bengek soal tas yang membuat Maxime muak dengan adiknya itu.


Alhasil Maxime membuang puntung rokoknya, menginjaknya dengan sepatu lalu berjalan menghampiri tiga perempuan itu.


Sebelum menghampiri mereka, Maxime asal membawa tas yang ada didekatnya lalu memberikannya kepada Milan.


"Sayang, ini bagus untukmu."


Milan menoleh lalu melihat tas di tangan Maxime kemudian menganggukan kepalanya. Lihat, Milan tidak serumit Miwa dalam memilih barang.


Maxime tersenyum lalu melempar tas itu ke arah pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka. "Bungkus tas itu untuk istriku!"


"Baik, Tuan."


"Hei, kak. Sepertinya itu tidak cocok untuk Mil--"


"Yang tidak cocok mulutmu!" Maxime memotong ucapan Miwa lalu menarik tangan istrinya untuk duduk di sofa.


Kemudian giliran Arsen menghampiri Miwa. "Bee kau---"


"Jangan memilihkan tas untukku!!" Miwa langsung memberikan peringatan dengan mengangkat jari telunjuknya tepat di depan wajah Arsen membuat Arsen menghela nafas panjang.


"Selera pria dan wanita itu berbeda ya!" lanjut Miwa. "Iya kan Tess?"


Tessa mengangguk. Daniel pun ikut menghampiri Tessa.


"Sayang, kau lebih cocok pakai karung sepertinya!"


Miwa menahan tawa nya mendengar Daniel berkata demikian.


"Kau ini!!" kesal Tessa.


"Memilih tas lama sekali, memangnya apa yang kau cari. Tas doraemon?"


"Memilih tas harus lihat dari kualitasnya dan aku mau yang limited edition tau," sahut Tessa sedikit merajuk.


Maxime menggelengkan kepala melihat itu lalu merangkul Milan.


"Beruntung sekali aku tidak menikah dengan perempuan seperti mereka! Iya kan sayang?"


"Kalau aku keseringan bersama mereka sepertinya aku juga akan seperti mereka," sahut Milan dengan tersenyum.


"Terserah kau saja, kau boleh mengikuti gaya mereka tapi jangan menyuruhku menunggu seperti ini. Aku bosan sayang, aku lebih suka kita berduaan di kamar lalu---Aakkhh!!"


Milan spontan mencubit paha Maxime agar pria itu tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kau ini om-om nakal ya!!"


Maxime mengusap-ngusap paha nya. "Padahal aku tidak mengatakan apapun, kau bilang aku nakal. Sepertinya otakmu itu sudah mulai kotor sayang." Maxime tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Hati-hati ya kalau bicara!!" Milan mendorong wajah Maxime membuat pria itu terkekeh.


Setelah dari toko tas mereka masuk ke toko pakaian, hal sama terjadi lagi. Miwa dan Tessa repot sendiri sementara Milan sudah duduk di sofa bersama Maxime seraya memakan cake dan meminum secangkir teh, sudah ada kantung coklat di atas meja dan itu pakaian yang Milan pilih, lima menit setelah mereka masuk toko.


Arsen dan Daniel benar-benar kesulitan menangani Miwa dan Tessa yang sedari tadi mencoba beberapa pakaian tapi tidak ada cocok menurut mereka.


"Bee, sudah itu bagus!" ucap Arsen kepada Miwa.


"Tidak!" sahut Miwa dan Tessa bersamaan lalu kembali masuk ke ruang ganti.


Daniel menghembuskan nafas. "Kalau tidak cocok kenapa mereka mau mencobanya, memang rumit sekali perempuan ini!"


"Yang tidak rumit hanya Milan," sahut Arsen seraya menoleh ke arah sofa tunggu. Terlihat Maxime dan Milan santai makan berdua seraya tertawa membuat Arsen dan Daniel iri karena mereka juga lapar tapi mereka di larang pergi oleh Miwa dan Tessa karena harus menilai pakaian yang mereka kenakan.


Setelah selesai dari toko pakaian Maxime lebih dulu masuk ke toko pakaian dalam wanita di susul Arsen. Milan, Miwa, Tessa dan Daniel sontak mematung di tempat untuk apa mereka masuk ke toko itu.


"Gawat, sepertinya mereka sedang mencarikan baju dinas untuk kita Milan." Miwa menoleh ke arah Milan.


Milan mengangguk dengan memasang wajah datar.


Tessa perlahan menoleh ke arah Daniel yang berada di sampingnya. Beruntung dirinya dan Daniel belum menikah jadi pria itu tidak ikut ke sana.


"Aku juga penasaran ..." Daniel pun berjalan masuk mengacuhkan teriakan Tessa yang melarang dirinya masuk.


"Astaga tiga pria itu kenapa, tadi marah-marah minta cepat pulang sekarang malah semangat masuk ke sana!" Miwa menggelengkan kepala tak habis pikir.


Kemudian di dalam toko itu Daniel mendengarkan diam-diam perbincangan Maxime dan Arsen dengan pelayan toko perempuan. Daniel berdiri di belakang Maxime dan Arsen tanpa sepengetahuan mereka.


"Aku mencari bra untuk istriku," ucap Maxime.


"Ukurannya Tuan?"


"Ukuran?" Maxime menoleh ke arah Arsen.


"Kenapa kau melihatku? memangnya aku tau ukuran Milan?"


Maxime langsung menggeplak kepala Arsen. "Awas saja kalau sampai tau!"


Arsen mendesis kesal kemudian meminta pelayan itu mengeluarkan semua bra yang ada di toko. "Keluarkan semua pakaian dalam wanita aku akan memilihnya sendiri!!"


Pelayan itu pun menganggukan kepalanya dan segera mengeluarkan semua stok pakaian dalam yang ada di toko itu.


Miwa, Milan dan Tessa sekarang giliran duduk menunggu tiga pria tersebut yang sedang memilah-milah baju dinas untuk mereka.


"Kalau Kak Maxi dan Arsen itu wajar masuk ke toko ini, tapi Daniel?" Miwa menatap Tessa.


"Ya, kalian kan belum menikah. Kenapa Daniel ikut penasaran soal pakaian dalam wanita?" tanya Milan.


"I-itu ... dia hanya penasaran. Ya penasaran," sahut Tessa dengan tersenyum samar.


Dua pelayan perempuan itu menundukkan kepalanya dengan sesekali menatap Maxime dan Arsen yang sedang memilih lingerie, celana dal*m dan bra untuk istrinya.


"Nah, ini ukuran Milan sepertinya," gumam Maxime.


"Miwa yang ini atau ini ya," gumam Arsen menatap bergantian dua bra di tangannya.


Daniel pun ikut mengambil salah satu bra di sana dan sontak Maxime dan Arsen menoleh ke arah Daniel.


"Kau mau apa?" tanya Maxime.


"Kau kan belum menikah," sambung Arsen.


"Ya, tapi aku juga tau ukurannya," sahut Daniel. "Nah, yang ini sepertinya." Daniel mengambil salah satu bra di sana.


Kemudian dirinya heran karena Maxime dan Arsen menatap dirinya tajam tanpa berkedip.


"Ke-kenapa?" tanya Daniel gugup.


"Jangan bilang kau sudah---" Arsen menggantung kalimatnya.


"A-aku---"


"Kau sudah tidur dengan Tessa kepar*t?!" Maxime hendak menghampiri Daniel tapi langsung dihadang oleh Arsen, Daniel pun langsung mundur beberapa langkah melihat amarah Maxime.


Tiga perempuan itu sontak langsung berdiri dari duduknya mendengar teriakan Maxime.


Bersambung