
Mereka makan bersama seraya berbincang-bincang membahas barang-barang branded dan mahal yang Milan tidak mengerti. Milan hanya diam dan fokus dengan makanan nya saja karena tidak bisa ikut bergabung dengan pembahasan yang Miwa dan Tessa bicarakan.
"Cincin itu belum ada yang membeli nya," ucap Tessa.
"Jelas, karena mahal," sahut Miwa yang sedang mengaduk-ngaduk minuman nya.
Tessa mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan cincin berlian di ponselnya kepada Miwa dan Milan.
"Lihat, bagus kan."
Miwa menghembuskan nafas. "Orang beruntung yang mendapatkan cincin itu ..."
"Tapi harganya sangat mahal, siapa yang mampu membelinya," sambung Milan.
Tessa kembali menyimpan ponselnya di meja. "Aku harus menabung berapa tahun untuk membeli itu hufftt ..."
Kemudian Tessa mengambil mangga mousse cup sebagai makanan penutupnya.
"Kalau ada Kak Maxi di sini dia pasti tanya kenapa mangga tidak enak ini bisa di makan," ucap Tessa seraya tersenyum memasukan sesendok mangga ke mulutnya.
"Memangnya Maxime tidak suka mangga?" tanya Milan.
"Loh, memangnya kau tidak tau kalau Kak Maxi tidak suka mangga?" tanya Tessa. Miwa menoleh ke arah Milan.
Milan menggeleng membuat Tessa terkekeh sinis. "Astaga Milan ... Milan ... hal kecil tentang Kak Maxi saja kau tidak tau."
"Tapi hari itu aku pernah membuatkan pancake mangga untuk Maxime. Dan dia memakannya," sahut Milan.
"Jelaslah dia memakan nya, karena dia mencintaimu. Dia pasti menghargai sesuatu yang kau buat, pura-pura menyukainya padahal tidak. Seharusnya kau lebih tau soal itu Milan ..." sahut Tessa seraya menggelengkan kepala dengan senyuman meledek di wajahnya.
Miwa menghela nafas. "Apa yang di katakan Tessa memang benar, bahkan nyawa sekalipun pasti Kak Maxi berikan untuk Milan. Itu artinya Milan memang berharga untuk Kak Maxi ... tidak perlu membahas hal-hal kecil seperti ini dan tidak perlu di besar-besarkan. Lagi pula hubungan Milan dan Kak Maxi belum berjalan lama, wajar kalau Milan tidak tau banyak soal Kak Maxi. Iya kan."
"Milan juga sudah mencintai Kak Maxi kan ... Harusnya dia mulai mencari tau," sahut Tessa.
"Aku akan mencari tau nanti," sahut Milan lalu menunduk menusuk-nusuk makanan nya. Mood nya hancur karena ucapan Tessa.
Miwa menoleh ke arah Milan dan menoleh kepada Tessa lalu menggelengkan kepala seraya menghela nafas tak habis pikir dengan ucapan Tessa.
*
Selesai makan di restaurant X mereka bertiga pergi ke salah satu mall yang tak jauh dari restaurant tersebut.
Dengan langkah gembira Tessa dan Miwa masuk ke salah satu toko tas, Milan hanya berjalan pelan di belakang mereka.
"Tessa ini bagus tidak?" tanya Miwa menunjukan tas hitam yang terlihat elegan.
"Bagus, tapi sepertinya ini lebih cocok untukmu ..."
Tessa memberikan tas berwarna putih kepada Miwa. "Ini lebih cocok untukmu ..."
Milan berdiri di antara mereka hanya diam memperhatikan saja.
"Milan kau tidak beli tas?" tanya Miwa.
Milan menggeleng. "Tidak, aku tidak membutuhkan nya."
"Dia kan masih sekolah, dia lebih butuh tas gendong untuk sekolahnya dari pada tas seperti kita ini," sahut Tessa menahan senyumnya.
"Tapi banyak tas untuk remaja sepertimu Milan, kau pilih saja," ujar Miwa.
"Apa setelah ini kita harus membeli peralatan menulis untuk calon nyonya De Willson ini?" ucap Tessa dengan nada meledek untuk Milan.
"Tidak perlu, buku ku sudah banyak," sahut Milan datar.
Miwa menghela nafas kasar. "Tessa cukup!"
"Maaf, aku hanya bercanda. Lucu saja calon nyonya De Willson ini masih sangat kecil dan harus membeli peralatan belajar dari pada tas-tas seperti kita ..."
"Setidaknya aku tidak memaksakan diri untuk terlihat dewasa dengan barang-barang mahal seperti ini ... aku mengakui, aku masih kecil dan masih belum cukup mengerti soal barang-barang branded yang kau pegang Tessa."
Tessa hendak menjawab tapi Miwa segera menarik tangan Milan dan membawanya ke kasir untuk menghentikan perdebatan mereka berdua. Tessa pun menghela nafas kesal.
Selepas dari toko tas mereka bertiga pergi ke toko jam di mall tersebut, mereka memilah-milah jam tangan yang bagus.
"Mba saya lihat ini," ucap Tessa menunjuk jam tangan yang terlihat klasik dengan bahan kulit berwarna coklat.
Pelayan di toko tersebut memberikan nya kepada Tessa.
"Kak Maxi pasti suka ini," gumam Tessa dengan tersenyum lalu berjalan menghampiri Milan yang sedari tadi hanya duduk saja di kursi. Dan Miwa juga sedang mencari jam tangan untuk Arsen.
Tessa duduk di samping Milan. "Milan, menurutmu ini bagus tidak untuk Kak Maxi?" tanya Tessa.
Milan mengangguk. "Bagus ..."
"Aku mau membelikan ini untuk kakak ku, dia pasti suka. Aku sangat tau model jam tangan seperti apa yang Kak Maxi suka."
Milan menghela nafas seraya memalingkan wajahnya, kenapa ucapan Tessa terasa menyindir dirinya yang tidak tahu apa-apa soal Maxime.
"Milan kau tidak mau membelikan sesuatu untuk Kak Maxi?" tanya Tessa.
Milan kembali menoleh ke arah Tessa. "Aku ... aku tidak tau harus membeli apa. Kau kan sudah membelikan jam tangan untuknya ..."
"Milan aku hanya ingin memberi saran kepadamu, kalau mau membelikan Kak Maxi sesuatu harus memakai uang pribadimu jangan membeli sesuatu dengan blackcard Kak Maxi, itu sama saja bohong. Iya kan?"
Milan lagi-lagi menghela nafas, Tessa terus menyindirnya untuk kesekian kali. Semua kebutuhan Milan selalu terpenuhi oleh Maxime sekalipun uang jajan untuk sekolahnya, ia tidak punya uang pribadi hasil jerit payahnya sendiri.
"Tessa memangnya kau membeli itu dengan uangmu?" tanya Milan.
Tessa mengangguk. "Aku kan melukis Milan, hasil lukisan ku banyak di minati orang. Uangnya aku tabung untuk kebutuhanku atau untuk membelikan Kak Maxi dan Kak Arsen hadiah. Lebih bangga kalau membelikan mereka sesuatu dengan uang hasil kerjaku sendiri ..."
Milan mengangguk-ngangguk malas menanggapi ocehan Tessa.
"Miwa juga, kau tau dia sangat suka fashion dan make up kan?"
"Iya," sahut Milan.
"Dia punya butik besar, dia kebanyakan merancang gaun pengantin. Punya brand make up sendiri juga."
"Benarkah? aku tidak tau soal itu," sahut Milan.
Tessa mengangguk. "Mungkin kau berpikir Miwa sama sepertimu, dalam hal belajar di sekolah dia memang bod*h. Tapi jangan salah, dia pintar menggambar baju pengantin sampai akhirnya membuka butik sendiri khusus merancang gaun pengantin. Kami di didik mengembangkan bakat yang kami bisa saat sekolah dulu. Terus di latih sampai kami ada di titik ini. Aku sebagai pelukis dan Miwa sebagai desainer baju pengantin."
"Seharusnya di umur mu yang sekarang kau harus sudah tau, bakat apa yang kau miliki Milan, karena itu penentu masa depanmu ..."
Milan terdiam. Bakat? apa yang dia bisa. Milan selalu merasa gagal dalam hal apapun. Dari dulu saja ia tidak pernah berpikir untuk bisa kuliah, karena bingung mau mengambil jurusan apa.
Bersambung