The Devil's Touch

The Devil's Touch
#157



Tak di sangka, Maxime yang sedang membuat telur gulung itu di kerumuni beberapa gadis remaja sampai perempuan dewasa.


Mereka tahu siapa Maxime, mereka menguruni Maxime untuk mencoba telur gulung hasil buatan pemimpin Yakuza tersebut. Padahal rasa nya sama saja tidak ada yang spesial karena semua bahan sudah di siapkan oleh Chef Juna dan Chef Bara. Bukan Maxime sendiri yang menyiapkan.


"Tuan aku mau beli ..."


"Hey aku lebih dulu!!"


"Antri dong gadis kecil!!"


Seorang perempuan berusaha mencuri perhatian Maxime dengan memainkan rambutnya, perempuan itu pun terlihat memakai pakaian kekurangan bahan.


Ezar yang berdiri di belakang Maxime menatap perempuan tersebut dari atas sampai bawah dengan melebarkan matanya melihat tubuh aduhai perempuan itu lalu Ezar menggelengkan kepala.


Perempuan itu berbicara manja. "Tuan ... aku mau---Aaaargg!!"


Semua perempuan di dekat Maxime menjauh seketika kala Maxime menyipratkan minyak panas menggunakan sendok kepada mereka.


Perempuan tadi mengusap-ngusap lengan nya karena terkena cipratan minyak panas itu, walaupun hanya sedikit.


"Tuan ih---aarrgghh!!" dan lagi, perempuan itu kembali berteriak karena di jambak rambutnya dari belakang oleh Milan.


Milan berdiri di samping Maxime menatap kesal mereka semua seraya tangan bersedekap dada. Sementara Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum melihat itu seraya menuangkan telur terakhir dari wadah lalu menggulungnya dengan penusuk yang sudah di isi sosis.


"Pergi!!" usir Milan.


"Hei aku mau beli di sini," sahut perempuan itu.


"Ya, kami juga mau beli."


"Kami sudah antri dari tadi!"


"Maxime bukan penjual telur gulung kalian tau itu!" sahut Milan dengan kesal.


"Ya tapi kan--"


"Ayo sayang ..." Maxime merangkul Milan dengan membawa piring berisi telur gulung dan mereka pun pergi meninggalkan yang lain.


Milan tak henti-henti nya memasang wajah tidak suka atau menjulurkan lidah meledek kepada semua perempuan tersebut. Maxime hanya terkekeh pelan.


"Ayo kalian mau beli telur gulung kan?"


"Tidak, tidak jadi!" sahut salah satu gadis yang masih remaja, seumuran dengan Milan.


"Kenapa?" tanya Ezar.


"Ototmu kecil, aku suka otot yang besar seperti milik Tuan Maxime!!" sahut gadis itu.


Perempuan tadi menoyor kepada gadis itu. "Masih kecil sudah memandang fisik lelaki dari otot!"


"Kau juga kan suka dengan tubuh Tuan Maxime!" sahut gadis kecil itu.


"Aku ini perempuan dewasa, jadi wajar. Kau masih bau kencur saja sudah pemilih!"


"Sudah-sudah, jadi beli tidak?" Tanya Ezar.


"Tidak!!" sahut para perempuan itu serempak lalu berjalan pergi meninggalkan Ezar yang hanya ternganga tak habis pikir dengan sikap semua perempuan itu.


Milan sedang makan permen kapas, di atas meja ada sepiring sate ayam dan telur gulung. Dan Maxime duduk di depan Milan.


"Mau beli yang lain sayang?" tanya Maxime.


Milan menggeleng, terlihat wajahnya masih kesal dengan perempuan yang menggoda Maxime tadi.


"Kau kenapa hm?" tanya Maxime seraya mengambil telur gulung di piring lalu menyuapi Milan.


Milan yang kesal tetap memakan telur gulung itu membuat Maxime tersenyum. Pria itu kembali menyimpan telur gulungnya di piring dan mengusap ujung bibir Milan yang belepotan dengan saus.


"Aku tidak suka ya kau di goda seperti tadi!"


Maxime tersenyum miring. "Kau cemburu hm?"


"A-aku ..." Milan keceplosan. Sebenarnya ia tidak mau menunjukan rasa cemburu nya karena takut Maxime berpikir itu lebay.


Milan menggeleng. "Tidak, aku tidak cemburu!"


Maxime berdecak. "Bohong!"


Maxime pun beranjak dari duduknya lalu pindah duduk di samping Milan dan melingkarkan tangan nya di pinggang gadis itu.


Maxime kamudian berbisik. "Kau yang pertama dan terakhir ..."


Milan menatap Maxime dengan menyipitkan matanya penuh intimidasi. "Aku tidak percaya kau tidak punya mantan."


"Aku tidak punya sayang," sahut Maxime.


"Kau pernah dekat dengan perempuan sebelumnya?" tanya Milan yang di jawab gelenggan dari Maxime.


"Dari dulu aku menghabiskan waktu di petshop dan mengawasi perusahaan dari jauh. Tidak berpikir untuk menikah, terkadang mengawasi Miwa dan Tessa agar pergaulan mereka tidak berlebihan. Itu saja."


"Tapi tiba-tiba ada kucing agresif yang meloncat masuk ke hidupku, jadi aku kurung dia agar tidak bisa pergi lagi," lanjut Maxime seraya tersenyum memandang wajah Milan.


Milan menghela nafas dengan senyum yang di paksakan karena sedari tadi tangan Maxime terus bermain-main di dalam hoodie yang ia kenakan, tangan nya sibuk mengelus-ngelus pinggang Milan.


"Maxime diam," ucap Milan dengan tersenyum yang di balas senyuman menggoda dari Maxime.


"Apa sayang?"


Milan menepis pelan tangan Maxime dari pinggang nya tapi tangan Maxime tidak mau keluar dari dalam hoodie nya. Yang berakhir tangan mereka saling menepis satu sama lain di dalam hoodie.


Dan tangan Milan baru diam ketika Maxime menc*um gadis itu.


Bersambung