
"Kak ... Kak ... jangan bilang kak Maxime, Kak ..." Miwa berusaha menyusul langkah Arsen yang terlalu cepat keluar dari mall, mereka berada di garasi dan Arsen hendak pulang ke mansion.
Miwa terus berteriak agar Arsen tidak mengadukan kejadian tadi kepada Maxime. Mati dia kalau sampai ketahuan bersikap kasar dengan rekan bisnis kakak nya.
Arsen menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa denganmu, kenapa kau menampar dia seenaknya Miwa?!" kesal Arsen.
"Aku tidak tau kalau dia rekan bisnis perusahaan kita," sahut Miwa merasa bersalah.
"Pertanyaan nya, kenapa kau menampar dia?!"
"Aku ... aku kesal melihat dia duduk di samping Kak Arsen," sahut Miwa menekuk wajahnya.
"Kakak bertemu banyak rekan bisnis, Miwa. Apa masalah mu?!"
"Aku hanya tidak suka," sahut Miwa.
Arsen menghela nafas meredam emosi nya terhadap Miwa lalu mengelus puncak kepala Miwa. "Jangan seperti itu lagi Miw-Miw!"
Pria itu berbalik tapi Miwa berteriak. "Aku sudah bilang jangan panggil aku Miw-Miw!! aku bukan adikmu, Kak!"
Arsen kembali menatap Miwa. "Miwa kakak tidak mengerti, ada apa denganmu hari ini!"
Arsen benar-benar mencoba menahan frustasi nya menyikapi sikap Miwa hari ini.
"Sudah kita pulang saja." Arsen menarik tangan tapi Miwa menepisnya.
"Apa lagi sekarang?!" kesal Arsen.
"Aku ..." Miwa menggantung kalimatnya menatap intens Arsen.
"Aku mencintaimu kak, aku tidak mau kau menganggap adik kepadaku, jadi jangan lagi panggil aku Miw-Miw. Karena aku bukan adikmu!!"
*
Satu jam kemudian Maxime kembali masuk ke kamarnya dan ternyata makan malam Milan tidak tersentuh sama sekali.
Gadis itu terlihat tidur membelakangi nya, Maxime memutuskan untuk tidak membangunkan Milan, ia menarik selimut untuk menyelimuti gadis itu lalu Maxime ikut merebahkan diri di samping Milan.
Milan terlihat bergerak menjauhi Maxime yang artinya gadis itu belum sepenuhnya tidur.
Sepanjang malam Milan tidur membelakangi Maxime dan Maxime sendiri hanya bisa memandangi punggung Milan dengan tatapan sendu.
Biasanya sebelum tidur mereka akan bercanda terlebih dahulu atau menghabiskan waktu di dapur membuat sesuatu yang berhubungan dengan rumus-rumus yang Maxime ajarkan.
Membuat cake di hiasi rumus matematika dengan butter cream, mengerjakan tugas Milan bersama sampai memberi makan Blacky.
Ponsel Maxime bergetar di atas nakas, ia berbalik dan membuka pesan masuk di ponselnya. Dan itu dari Jack.
Aku masih belum bisa menemukan penerror itu, tidak biasanya kita kesulitan seperti ini.
Maxime menghela nafas lalu kembali menyimpan ponselnya, Arsen terlalu banyak mengurusi soal perusahaan alhasil Maxime menyuruh Jack mencari tahu soal si penerror yang sampai detik ini belum ada hasil.
Keesokan harinya kegiatan berbeda seperti pagi-pagi biasanya. Mereka yang bangun pagi dan menyiapkan sarapan bersama kini sepi dengan Milan yang selalu menjauhi Maxime. Bahkan gadis itu enggan berbicara dengan Maxime.
Maxime masih sabar, sikap Milan yang lebih banyak diam tidak menyulut emosi nya. Hanya dua hal yang membuat Maxime kesal. Milan berteriak dan Milan yang mencoba kabur.
Maxime sedang menata bakpao di meja yang baru saja ia beli ketika pedagang bakpao itu lewat petshop nya.
Milan keluar dari kamar dengan penampilan berbeda, rambut ikat dan jaket kulit hitam. Itu adalah penampilan Milan yang di benci Maxime.
Gadis itu duduk di meja mengambil bakpao dan menyantapnya, tak perduli dengan Maxime yang terus memperhatikan penampilan nya.
Maxime menghela nafas berjalan untuk menarik ikat rambut Milan tapi tangan nya segera di tepis gadis itu.
"Aku sedang ingin mengikat rambut ku," ucap Milan menyimpan setengah bakpao nya di piring lalu mengambil segelas susu dan meminumnya setengah.
Milan menoleh ke arah Maxime lalu tersenyum sinis. "Lalu apa seragam satpam mu cocok untuk seorang mafia?"
Gadis itu kembali mengambil bakpao dan memakan nya lagi tak perduli dengan Maxime yang sedang kesal terhadapnya.
"Buka ikat rambut dan jaket mu Milan!" titah Maxime. Gadis itu hanya mengangkat kedua bahu nya sebagai penolakan.
"Milan!"
Milan masih mengacuhkan panggilan Maxime. Pria itu mendengus lalu menarik cepat ikat rambut Milan membuat gadis itu berteriak sakit.
"Kau ..." geram Milan menatap tajam Maxime.
"Buka jaketmu!" Maxime berusaha melepaskan jaket Milan, sedikit kesulitan karena gadis itu terus melawan dan memberontak.
"Aku tidak mau!!" sahut Milan.
"Berhenti Maxime!!"
Maxime terus menarik jaket Milan sampai akhirnya jaket itu terlepas dari tubuh Milan.
Keduanya saling menatap tajam dengan nafas terengah-engah, membuka jaket saja seperti bertengkar hebat.
"Kau seharusnya tidak mengatur penampilanku!!"
"Penampilanmu seperti ini jauh lebih baik!" sahut Maxime lalu berjalan ke kursinya dan mengambil bakpao.
Milan dengan kesal kembali menyantap makanan nya tapi matanya tak sengaja menoleh ke arah pintu depan yang terbuka lebar. Maxime lupa tidak mengunci pintu setelah membeli bakpao tadi.
Milan menoleh kembali ke arah Maxime yang kini sedang mengaduk susu. Ia menghela nafas sebentar mengumpulkan nyali pagi ini untuk kabur. Milan berhitung dalam hati nya.
Satu
Dua
Tiga
"MILAN!!" teriak Maxime melihat Milan tiba-tiba berlari cepat keluar dari petshop.
Baru berhasil keluar dari petshop tangan Milan sudah di tarik oleh Maxime. Pria itu memeluk Milan kuat.
"Jangan menyulut emosi ku sepagi ini!!"
"Lepas!! lepaskan aku!!" Milan memukul-mukul dada Maxime dan berakhir dengan.
Krek
Gadis itu mengigit bahu Maxime, Maxime menghela nafas seakan tak habis pikir dengan Milan yang berani mengigitnya. Gigitan nya tidak sakit, seperti gigit semut.
"Bukan di situ jika kau ingin mengigit ku, kucing nakal!!"
Milan mendongak menatap Maxime tanpa melepaskan gigitan nya.
Dan dengan cepat pria itu menarik tengkuk Milan lalu menci*m gadis itu brutal bahkan sampai.
"Akhhh!!" Milan meringis kesakitan karena Maxime mengigit bibirnya sampai berdarah.
Maxime menarik ujung bibirnya tersenyum. "Di situ seharusnya kau mengigit ku!!" Maxime mengusap darah yang keluar dari bibir Milan.
Sementara gadis itu menatap geram Maxime, siapa juga yang mau menc*um pria itu.
Bersambung