The Devil's Touch

The Devil's Touch
#40



Maxime dan Jack berada di ruang kepala sekolah dengan pintu tertutup rapat agar tidak ada yang bisa melihat Maxime duduk santai di sofa.


Maxime menyalakan rokok dengan pemantik api, mengisap dan menghembuskan asap rokok dimeja.


"Tidak ada nama yang bagus selain Muklis sial*n?!" kesal Maxime.


"Itu bagus, satpam pertama nama nya sedikit kampungan, jadi kau harus mengimbangi nama dia. Sangat cocok, Asep dan Muklis." Jack menahan tawa nya lalu mengambil kopi di meja dan meneguk nya sedikit.


Maxime berdecak. "Itu tidak cocok! aku ini pemimpin Yakuza dan Antraxs!"


"Jadi kau mafia?"


Maxime mengangguk.


"Sekarang? Mafia atau satpam?" tanya Jack lagi.


"Satpam," sahut Maxime pelan membuat Jack terkekeh kecil.


"Diam kau!" sentak Maxime merasa di ledek oleh Jack.


Ponsel Maxime di atas meja bergetar, tertera nama Miw-Miw di sana. Ia mengambil ponselnya di atas meja.


"Kakakkkk ..." rengek Miwa.


"Ada apa?" tanya Maxime.


"Boleh tidak aku jadi sekretaris di perusahaan?"


"Sekretaris?"


"Iya. Boleh ya kak?"


"Tidak!"


"Plissss." Miwa merengek di telpon.


"Sudah ada Arsen," sahut Maxime.


"Aku jadi sekretaris Kak Arsen, kasian dia harus mengurus perusahaan sendirian. Kakak kan lebih sering di petshop, huh ..."


"Dia bisa di andalkan walaupun sendirian! lagi pula kau mengerti apa menjadi sekretaris? diam saja di mansion!"


"Aku mengerti kak, aku mengerti menjadi sekretaris harus menuruti apa yang di katakan kak Arsen nanti. Aku pasti bisa, kok."


"Tidak Miwa!"


"Aku sudah minta izin dengan Daddy dan Mommy, mereka bilang boleh!"


"Apa?!" Maxime seakan tak percaya kenapa kedua orang tua nya membiarkan Miwa masuk ke perusahaan padahal Miwa sangat di jaga ketat agar orang-orang tidak tahu kalau perempuan itu anak bungsu Javier.


"Kak, lagi pula nama belakang ku tidak memakai marga De Willson, orang-orang tidak akan tau soal aku."


Maxime berdecak seraya memijit keningnya. "Baiklah, kakak beritahu Arsen dulu."


Walaupun sedikit ragu Miwa menjadi sekretaris kalau kedua orang tua nya sudah turun tangan dan memberikan izin untuk Miwa, mau bagaimana lagi.


"Beneran Kak?" suara Miwa terdengar begitu senang. Dan Maxime menjawab dengan deheman lalu mematikan ponselnya.


Ia mengirim pesan kepada Arsen dan kembali menyimpan ponselnya di meja.


*


Sementara itu di kelas suasana begitu hening, bukan karena kelas kosong tapi karena ada ulangan matematika dadakan yang membuat otak para siswa bekerja lebih keras untuk mencari jawaban.


Selama libur panjang guru matematika mereka meminta agar semua tugas di pahami dengan baik.


Dan ini adalah maksud dari upacan nya, ulangan memusingkan ini di lakukan setelah upacara selesai.


Maxime berjalan cepat di lorong dan ketika hendak melewati kelas Milan ia melambatkan langkah kaki nya seraya menatap Milan dari balik jendela.


Terlihat Milan sedang mengigit ujung pensil, gadis itu terlihat pusing dengan soal ulangan nya.


Memang selalu seperti itu, saat di ajarkan oleh Maxime pun Milan sulit untuk mengerti.


Melihat Milan kebingungan Maxime mengirim pesan kepada Jack. Dan lima menit kemudian dari arah depan Jack berjalan menghampiri Maxime dengan wajah malas sambil menggelengkan kepala.


Tanpa basa-basi Jack mengetuk pintu kelas Milan, semua siswa pun mendongak menoleh ke arah pintu. Kecuali Milan, gadis itu baru sadar kalau ada Maxime yang kini sedang memperhatikan dirinya.


Guru matematika yang duduk pun beranjak menghampiri Jack di ambang pintu.


"Maaf, Pak. Bisa ikut saya sebentar."


"Tapi saya sedang mengawasi mereka ulangan," sahut guru matematika tersebut.


"Ah tidak apa, ada Max-- maksudku Muklis, ada Pak Muklis di sini."


"Pak Muklis bisa bantu kami sebentar." Jack berkata kepada Maxime. Dan pria itu berjalan lebih dekat menghampiri Jack.


"Ya, Tuan?"


"Tolong awasi anak-anak ini ulangan, saya ada urusan dengan beliau sebentar." Jack menunjuk guru matematika yang berdiri di depan nya.


Maxime mengangguk. "Baik."


Jack dan guru matematika itu pun pergi, Maxime masuk dan duduk di kursi guru. Siswi yang lain tampak begitu senang sampai tak sadar terus menatap Maxime dengan senyuman di wajahnya.


"Kerjakan tugas kalian!" ucap Maxime dingin kepada mereka yang terus menatapnya.


"Huhh dasar wanita penggoda!" ledek Alvin kepada Shalma yang terus-menerus curi pandang kepada Maxime.


Shalma menoleh ke belakang, ke tempat duduk Alvin.


"Apaan sih, ikut campur mulu. Cemburu ya!" kesal Shalma seraya memutar bola mata nya.


"Dih-dih, siapa juga yang cemburu!" sahut Alvin.


Maxime menggeplak meja membuat semua orang terlonjak kaget. "Kerjakan!"


Sontak semua siswa pun menunduk karena takut melihat wajah serius Maxime. Mereka pikir Maxime akan membiarkan mereka saling menyontek, nyata nya Maxime lebih galak dari guru matematika nya.


"Astaga ... galak banget. Untung ganteng!" gumam Shalma.


Lima menit waktu berjalan, Maxime masih memperhatikan Milan yang hanya mengubah posisi pensilnya saja. Tadi ujung pensil itu di gigit-gigit, sekarang ia mengetuk-ngetuk kepala nya sendiri dengan ujung pensil seakan meminta otaknya berpikir mencari jawaban.


Maxime mendengus melihat Milan tidak ada perkembangan sama sekali, ia beranjak dari duduknya berjalan mengelilingi para siswa pura-pura mengecek kertas ulangan mereka. Lalu berjalan ke meja paling belakang.


Sampai akhirnya Maxime berdiri di samping Milan dan melihat kertas ulangan milik gadis itu dan ternyata ... kosong.


Belum ada satu jawaban yang Milan tulis, gadis itu hanya menulis nama di atas kertas nya saja.


"Apa itu sulit?" ucap Maxime pelan.


Milan mendongak perlahan lalu mengangguk.


"Kalikan, 12×12."


Milan segera menghitung apa yang di suruh Maxime. Setelah mendapatkan hasilnya Maxime kembali berkata.


"Tinggi luas pakai rumus pythagoras."


Milan mendongak lalu menggeleng dengan wajah memelas meminta di beri tahu jawaban nya langsung.


"Lupa?" tanya Maxime yang di jawab anggukan dari Milan.


Sudah pasti Milan lupa semua rumus matematika yang di ajarkan Maxime.


"Cake," ucap Maxime.


Milan menaikkan satu alisnya. "Cake?"


Tiba-tiba ingatan nya berputar ke waktu dimana beberapa hari lalu saat libur Maxime mengajarkan Milan dengan cara yang unik. Pria itu membuat cake bersama Milan di petshop dan menghias cake tersebut dengan menulis rumus pythagoras menggunakan butter cream.


Milan mengetuk-ngetuk lagi kepala nya dengan pensil, raut wajahnya terlihat serius mencoba mengingat rumus yang ia tulis di atas cake bersama Maxime hari itu.


Maxime bisa saja memberitahu Milan, tapi bukan ini yang Maxime mau. Maxime ingin daya ingat Milan lebih peka.


"Hmmm ..." Milan kembali menatap Maxime. "A kuadrat di tambah B kuadrat?"


Maxime mengangguk.


"Sama dengan C kuadrat?" lanjut Milan.


Maxime mengangguk lagi seraya tersenyum tipis. Mata Milan berbinar senang lalu segera menulis rumus tersebut dan mulai mengerjakan ulangan nya.


Bersambung