The Devil's Touch

The Devil's Touch
#216



Mereka menyebar mencari anak buah Recobra yang tersisa. Tapi di setiap tempat anak buah Yakuza dan Antraxs melaporkan kalau tidak ada lagi Recobra yang berkeliaran.


Mereka sempat berhasil menangkap salah satu anak buah Recobra dan mencoba mengintograsi pria itu untuk menanyakan keberadaan Aberto, tapi pria itu tidak mengatakan apapun dan malah membuat Maxime kesal, alhasil pria itu di tembak.


Kemudian mereka semua berkumpul di mansion Javier, mereka masuk ke sebuah ruangan khusus untuk membahas penyerangan kali ini. Sementara para istri sedang di tenangkan oleh Sky, Kara dan Liana.


"Apa mungkin mereka datang tanpa pemimpin?" tanya Thomas.


"Itu bisa jadi, tapi sikap seperti itu merupakan sikap pecundang," sahut Javier.


"Recobra sudah mati semua?" tanya Xander kini.


"Yang mati yang berada di Negara kita Grandpa, kita tidak tahu berapa yang tersisa di Negara nya," sahut Maxime.


Thomas beranjak dari duduknya untuk mengambil laptop. Sementara Philip celengak-celinguk mencari Keenan.


"Keenan kemana?" tanya nya.


"Aku lihat tadi dia sedang minum teh jahe di dapur," sahut Aiden.


"Siang-siang begini? tidak hujan juga," ucap Sergio.


"Dia mabuk, habis bergelantungan di bawah helicopter," sambung Nicholas dengan terkekeh pelan.


"Si bedeb*h itu, bukannya ikut membantu malah naik ke tangga gantung," sambung Javier.


"Keenan?" tanya Xander.


"Ya, Grandpa. Kita kan sekarang sedang membahas uncle Keenan," ucap Daniel seraya menggelengkan kepala.


Thomas kembali duduk dengan membuka laptopnya. Arsen pun bertanya. "Dad, untuk apa itu?"


"Kita cari tau, berita viral di Negara XX. Siapa tau ada petunjuk," sahut Thomas.


Kemudian jari-jemari Thomas mulai menari-nari di atas keyboard. Semua orang diam memperhatikan, sampai akhirnya mereka melihat Thomas menghela nafas.


"Ada apa?" tanya Athes.


Thomas pun membalikan laptopnya dan membiarkan semua orang melihat berita tersebut. Artikel dengan judul.


Kematian pemimpin Recobra di sambut duka para anak buahnya.


"Tanggal kematiannya kemarin," ucap Samuel.


"Dia mati kenapa?" tanya Sekretaris Han.


"Tidak ada yang tau, Sekretarisnya bungkam."


"Kalau dia sudah mati, kenapa masih mau menyerang kita," kata Jonathan.


"Ini aneh," ucap Javier.


"Bagaimana dengan istrinya?" tanya Nicholas.


"Tidak ada wawancara dengan istrinya sama sekali," ucap Thomas.


"Aku pikir ini balas dendam atas perbuatan istrinya, dia pasti dendam karena Felix mati," ucap Maxime.


"Berita besar seperti itu tidak sampai ke Negara kita, biasanya kematian pemimpin kelompok Mafia selalu menjadi berita besar," ucap Xander kemudian kakek tua itu terbatuk.


Arsen langsung memberikan segelas air kepada Xander. "Sudah Grandpa, grandpa jangan terlalu banyak bicara."


"Iya, ingat umur," sambung Philip. Xander berdecak kesal ke arah Philip.


Kemudian ada sebuah notif masuk, artikel yang barus saja keluar dengan judul.


Rhea, istri pemimpin Recobra terlihat sangat kehilangan suaminya.


Dan di sana ada video Rhea yang sedang menangis dan di tenangkan oleh pelayan perempuannya.


"Itu istrinya kan," ucap Javier.


"Iya."


"Jadi benar Aberto mati?" tanya Maxime.


Mereka semua hening tidak ada yang bisa menjawab nasib kelompok mafia itu.


*


"Smith kau dimana?" tanya Aberto di telpon.


"Aku di mansion mu Tuan. Aku sudah kembali ..."


"Baguslah ... kau sudah buat artikel tentang Rhea kan."


"Sudah Tuan ..."


"Bayar perempuan itu dengan bayaran tinggi," titah Aberto.


"Siap Tuan."


Kemudian ponsel pun mati. Smith berjalan turun menghampiri perempuan yang sedang berdiri di ruang tamu. Perempuan yang di buat mirip dengan Rhea menggunakan make up, lagipula perempuan itu tadi menangis sembari menunduk seraya di video oleh Smith. Smith yakin Maxime tidak akan menyadari kalau itu bukan Rhea, karena Maxime tidak terlalu mengenali wajah Rhea dengan baik.


"Ini untukmu. Sekarang pergilah," ucap Smith setelah memberikan amplop coklat.


"Terimakasih Tuan." Perempuan itu pun pergi meninggalkan mansion Aberto.


Smith duduk di sofa dan membuat Artikel baru lagi menggunakan laptop yang ada di atas meja. Artikel tentang Recobra telah musnah di tangan Yakuza dan Antraxs.


Belum sampai setengah jam, artikel itu pun menyebar kemana-mana. Setiap Negara mengetahui hal tersebut.


Dan malam harinya mansion Aberto seakan di kepung oleh puluhan wartawan yang datang mewakili setiap Negara.


Mereka mempertanyakan tentang artikel itu. Smith pun berdiri di teras depan. Gerbang di buka dan mereka segera lari menghampiri Smith.


"Tuan, apa benar Recobra tidak akan ada lagi?"


"Tuan, apa benar pemimpin Recobra telah mati?"


"Kenapa anda menyembunyikan kematian Tuan Aberto dari Negara lain?"


"Apa anda punya rencana baru Tuan?"


"Bagaimana nasibmu jika Pemimpin Recobra sudah mati?"


"Apa tidak ada penerus untuk Recobra?"


"Dimana Nyonya Rhea?"


Mereka bertanya seraya memotret wajah Smith. Smith terlihat tenang untuk menjawab semua pertanyaan mereka.


"Aku sangat minta maaf karena menyembunyikan kematian Tuan Aberto dari Negara lain ..."


Javier dan yang lain menonton siaran langsung tersebut di ruangan tadi.


"Tuan Aberto sudah meninggal karena penyakit jantungnya. Nyonya Rhea tidak bisa di wawancara karena masih bersedih, mental nya belum stabil. Kemungkinan tidak ada penerus untuk Recobra."


Selama ini Magma di sembunyikan oleh Aberto dan Rhea di mansion nya. Hanya beberapa orang yang tahu jika Magma dan Rhea mempunyai anak, Magma tidak pernah keluar, tidak punya teman, sekolahnya pun hanya homeschooling.


"Dan kenapa Recobra bisa bermasalah dengan Yakuza dan Antraxs, Tuan?"


"Saya tidak bisa memberitahu alasan itu. Saya minta maaf. Saya mewakili kelompok mafia Recobra yang lain mengakui kalau kami kalah melawan Yakuza dan Antraxs. Terimakasih ..."


Smith masuk ke mansion dan pintu pun langsung di tutup oleh pelayan. Para wartawan yang tak puas dengan wawancara Smith pun mengedor-gedor pintu itu.


"Tuan bagaimana nasibmu?" teriak Wartawan itu.


"Tuan kami belum selesai!"


Magma berada di atas balkon mendengarkan teriakan para wartawan tersebut. Ia hanya memasang wajah datar.


"Bukan kah banyak sekali kejanggalan?" ucap Jonathan setelah menonton hasil wawancara Smith.


Maxime menghela nafas. "Aku tidak perduli kejanggalan apa. Yang terpenting mereka tidak menyerang kita lagi dan istriku aman."


Bersambung