The Devil's Touch

The Devil's Touch
#172



Ada sebuah hotel didekat klab, Maxime membawa Milan ke hotel tersebut. Ia membuka pintu, keduanya masuk dan Milan berjalan duduk di ranjang sementara Maxime mengunci pintu kamarnya lalu mematut dirinya di depan cermin kamar mandi hanya untuk melihat seberapa luka yang disebabkan oleh istrinya itu.


Maxime menyalakan kran wastafel hanya untuk membersihkan darah kering di keningnya.


"Maxime biar aku obati." Milan datang dengan membawa kotak p3k yang ia dapatkan di laci dekat ranjang.


Maxime mengangguk lalu keluar dari kamar mandi, ia sempat membuka kulkas yang ada di kamar itu hanya untuk mengambil minuman kaleng dan membawanya ke balkon.


Milan menghampiri Maxime dan duduk disamping suami yang sedang meneguk minuman kaleng tersebut.


Milan menarik pundak Maxime agar duduk menghadap ke arahnya dan Maxime pun menurut. Milan meneteskan obat ke kapas dan mengobati kening Maxime perlahan.


Keduanya hening, Maxime menatap Milan dengan memegang minuman kaleng di tangannya sementara gadis itu sibuk mengobati kening Maxime lalu menempelkan plester di kening Maxime.


Setelah selesai, Maxime kembali menatap pemandangan di depannya dengan sesekali meneguk minumannya. Sementara Milan sedang membereskan kotak p3k.


Lalu Milan masuk menyimpan kotak p3k seraya mengambil minuman kaleng yang sama dengan Maxime dan kembali duduk disamping pria itu.


Maxime menoleh ke arah minuman kaleng tersebut, niatnya untuk membantu membuka minuman itu tapi ternyata Milan bisa membukanya sendiri. Alhasil keduanya kembali hening dan sibuk dengan minuman masing-masing seraya menatap pemandangan malam di depannya.


Milan sesekali menoleh, berharap Maxime mau memecah keheningan diantara mereka. Tapi ternyata tidak sama sekali, alhasil Milan yang memulai lebih dulu.


"Eummm ..."


Maxime menoleh.


"Aku minta maaf, tadi menendangmu." Milan mengigit bibir bawahnya.


"Tidak apa-apa."


"Apa itu sakit?"


"Bok*ng ku yang sakit," sahut Maxime membuat Milan kikuk seketika.


"A-aku minta maaf juga soal itu." Milan mengigit bibir bawahnya kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke depan.


"Kenapa kau masuk klab?" tanya Maxime.


"Aku pikir kau selingkuh," sahut Milan jujur dengan kembali menatap Maxime.


Maxime menaikkan satu alisnya. "Selingkuh? kau berpikir aku selingkuh di klab?"


Milan menganggukan kepalanya.


"Cih, kalau aku mau selingkuh tidak di klab, semua perempuannya sudah di cicipi banyak lelaki, aku akan mencari perempuan baru saja kalau mau selingkuh."


Ucapan Maxime berhasil membuat Milan menggenggam minuman kalengnya dengan sangat erat, emosinya tiba-tiba tersulut mendengar Maxime mengatakan hal demikian.


Sementara Maxime menahan kedutan di bibirnya agar tidak tersenyum ketika sudut matanya mendapati tangan Milan yang merem*s minuman kaleng dengan penuh kekesalan.


Milan menghela nafas seraya memejamkan mata, kemudian tangannya melonggar perlahan tidak lagi memegang minumannya dengan penuh emosi.


Tapi kini, kekesalannya langsung di lampiaskan kepada sumbernya, Maxime.


"Aku tau, aku salah karena malam pertama itu!! tapi tidak seharusnya kau mengatakan itu juga!! kau berniat selingkuh dengan perempuan yang tidak pernah di sentuh pria manapun, begitu?!! kau mau mencari gadis remaja sepertiku? atau mau menculik temanku yang masih virg*n?!!"


Maxime hanya ternganga dengan ucapan Milan yang terlihat begitu marah.


"Dan lagi, aku bukannya menolak. Tapi kau harusnya mengerti, aku ini masih takut. Aku bukan perempuan dewasa yang liar seperti ..." Milan menggantung kalimatnya dengan nafas tersenggal-senggal karena emosi.


"Seperti ..."


"Miwa?" potong Maxime.


"A-aku tidak menyebut namanya ya, kau yang mengatakannya!!" sahut Milan yang sebenarnya merasa tidak enak ketika perempuan liar yang ia maksud adalah Miwa. Ya, walaupun itu memang kenyataan.


Maxime terkekeh, menyimpan minuman kalengnya di meja lalu merangkul Milan. Gadis itu masih saja menekuk wajahnya bahkan ketika Maxime menatap dirinya seraya menyibakkan rambut yang menghalangi wajahnya.


"Aku sudah bilang jangan tegang kau malah pingsan, tapi giliran aku bilang mau mencari perempuan baru kau malah marah ..."


"Tapi setidaknya beri aku waktu," sahut Milan.


"Waktu untuk apa? masih untung selama kita tidur bersama, aku tidak sampai memperk*sa mu. Jadi sekarang tidak ada memberi waktu lagi. Kalau mau, masuk kamar sekarang. Kalau tidak, aku tidak mau berbicara denganmu lagi."


"Maxime kenapa kau mengancam seperti itu!!"


"Aku hanya meminta hak ku sebagai seorang suami ..."


Milan menghela nafas lalu ia beranjak dari duduknya masuk ke kamar dan duduk di ranjang dengan mengigit bibir bawahnya.


Maxime tersenyum, meneguk minuman kalengnya yang terakhir lalu segera menyusil Milan ke kamar.


Maxime membuka lemari dan mengambil lingerie pink dari dalam sana dan berhasil membuat Milan membulatkan matanya sempurna.


"Aku penasaran, istriku yang cantik dan tomboy ini kalau pakai lingerie pink bagaimana ... coba pakai sayang ..."


Maxime memberikannya kepada Milan, tapi Milan tidak langsung mengambilnya. Ia masih diam menatap lingerie pink di tangan Maxime, jika di suruh memilih warna lain selain hitam, Milan akan memilih warna putih. Ia sangat benci dengan warna pink.


"Ada warna putih tidak?" tanya Milan.


Maxime menggeleng. "Tidak, hanya ini."


Dengan terpaksa Milan mengambil lingerie itu dari tangan Maxime, kemudian ia berjalan ke kamar mandi. Maxime menggulum senyum di wajahnya melihat Milan yang ragu-ragu masuk ke kamar mandi.


Maxime tiduran diranjang seraya menunggu Milan ia menelpon Miwa hanya untuk menanyakan kabar perempuan itu.


"Kau dimana?"


"Masih di klab," sahut Miwa dengan lemas karena baru sadar dari mabuk nya.


"Arsen?"


"Sedang membeli minuman diluar."


"Kau sebenarnya kenapa? kenapa masuk ke klab tanpa izin dulu dari kakak dan Arsen!!"


Terdengar helaan nafas panjang dari Miwa.


"Dia sepertinya tidak mencintaiku, kak."


"Apa maksudmu?"


"Aku mengajaknya menikah dan dia selalu bilang nanti dan nanti. Aku sudah lelah."


Arsen berdiri di ambang pintu mendengarkan ucapan Miwa, termasuk ucapan Miwa yang mengatakan dirinya tidak mencintai Miwa.


Arsen menghela nafas. "Dasar si kembar!!" kesalnya dengan segelas minuman di tangannya.


Pasalnya baru kemarin Maxime mengatakan jika Milan tidak mencintainya karena tidak mau di ajak malam pertama, sekarang malah Miwa yang mengatakan dirinya tidak mencintai perempuan itu karena mengulur waktu untuk menikah.


Si kembar itu selain sama-sama mempunyai n*fsu yang besar tapi juga sama-sama berpikir jika pasangan mereka tidak mencintainya. Padahal Arsen mengulur waktu karena menghargai Maxime yang baru saja menikah.


"Biar kakak yang bicara dengannya nanti."


"Tapi kalau dia tetap tidak mau menikah denganku bagaimana kak?"


"Kita bunuh dia sama-sama!!"


Maxime menutup panggilan telponnya membuat Miwa mengerutkan dahinya bingung menatap ponsel di tangannya. Apa ia tidak salah dengar Maxime mengajak nya membunuh Arsen.


Setelah menutup panggilan telponnya, Maxime di buat tercengang melihat Milan keluar dari kamar mandi, Milan berjalan pelan dengan menunduk seraya menarik-narik ujung lingerie nya yang menurutnya sangat amat pendek. Bahkan pahanya terpampang jelas.


Bersambung