The Devil's Touch

The Devil's Touch
#95



Miwa bersenandung pelan dengan menggulum senyum di wajahnya membuntuti Arsen dari belakang. Pria itu sedang berjalan menuju kandang singa.


Arsen berbalik dan berkata. "Miwa jangan membuat Maxime curiga!!"


"Tenang saja, Kak. Kak Maxime sedang di kamarnya bersama Milan," sahut Miwa.


"Sudah pergi ke kamarmu atau kemana saja." Arsen mendorong tubuh Miwa agar pergi tapi Miwa malah memeluk Arsen seraya merengek.


"Tidak mau, aku mau sama Kak Arsen aja. Mau kemana? ngasih makan Glory? aku bantu ya ..." ucapnya seraya mendongak menatap Arsen.


Arsen menghela nafas seraya menoyor kepala Miwa. "Aku adukan kakakmu oke."


"Adukan saja, yang kena bogem pasti bukan aku tapi Kak Arsen."


Arsen berdecak membuat Miwa tersenyum. Perempuan itu pun mempererat pelukan nya dan di saat bersamaan Arsen mencoba melepaskan pelukan Miwa.


"Lepaskan Miwa!!"


Miwa menggeleng. "Tidak!!"


"Miwa!!"


Miwa menggeleng lagi dengan menekuk wajahnya. Sekesal apapun Arsen tidak bisa kasar dengan gadis ini. Walau bagaimanapun Miwa adalah perempuan yang dari dulu di manja oleh Arsen dan Maxime.


"Miwa astaga!!"


Miwa mendongak dan berjinjit dengan cepat menci*m Arsen. Arsen yang terkejut hanya bisa mematung. Kedua bola mata mereka bertemu, menatap intens satu sama lain sampai akhirnya.


"MIWAAA!!"


Keduanya terbelalak, Miwa sontak berbalik dan mendapati Maxime seraya berkacak pinggang di belakang nya dengan tatapan tajam.


"Ka-kakak ..."


Melihat Maxime mendekat sontak Miwa pun menjadikan Arsen tameng dengan bersembunyi di balik tubuh Arsen.


"Kak ... kak ..." panggil Miwa memegang ujung baju Arsen dari belakang.


Arsen menghela nafas dan ketika Maxime hendak melayangkan pukulan kepada Arsen dengan cepat pria itu menangkis nya.


Maxime pun marah dengan sikap Arsen, ia menggerakkan giginya geram. "Arsen kau!!"


"Aku mencintai nya," sahut Arsen.


Miwa membulatkan mata menatap Arsen dari belakang. Arsen sudah berbohong dengan Sekretaris Han mengatakan ia yang lebih dulu mencintai Miwa dan sekarang pria itu harus kembali berbohong di depan Maxime. Hanya karena ia takut Miwa di marahi oleh Maxime.


Miwa pun segera berdiri di depan Arsen. "Tidak kak, Kak Arsen bohong. Dia tidak mencintaiku, aku yang mencintainya ..."


"Jangan dengarkan dia!!" bantah Arsen.


"Miwa masuk ke kamar," titah Maxime dingin.


Miwa menggeleng. "Tidak, aku tidak mau. Kakak mau apakan Kak Arsen?"


"Masuk Miwa!!"


Miwa menggeleng lagi. "Tidak kak!!"


Maxime menghela nafas lalu membentak Miwa dengan begitu kerasnya membuat Miwa terlonjak kaget. "KAKAK BILANG MASUK!!!"


"Masuk ke kamarmu dulu," bisik Arsen di belakang tubuh Miwa.


Melihat Arsen berbisik seperti itu amarah Maxime semakin naik sampai ke ubun-ubun.


Miwa pun menghentakkan kakinya kesal lalu melengos pergi melewati Maxime. Maxime menatap dingin Arsen di depan nya.


"Kau tau dia adikmu, bukan?" tanya Maxime.


"Tetap saja, Ar!! aku tau kau sedang melindungi Miwa. Miwa yang lebih dulu mencintaimu, aku tau itu!! aku minta maaf akan hal itu!!"


"Tidak perlu minta maaf, karena aku akan belajar mencintai dia ..." Arsen berjalan melewati Maxime tapi tangan nya dengan cepat di tahan oleh Maxime.


"Jangan membuat kita bertengkar seperti orang gila, Ar!!"


Arsen menepis tangan Maxime. "Kalau begitu jangan menghalangi aku mencintai adikmu!!"


"Aku tidak mengizinkanmu!!" hardik Maxime.


"Aku tidak perduli!!" pekik Arsen.


"Kau tidak mencintainya, aku akan mengurus Miwa agar menghentikan perasaan nya!!"


Arsen menghela nafas. "Kau bilang Miwa boleh menikah dengan pria yang berani menghadap kepadamu ..."


"Tapi bukan kau juga orangnya Ar!!" pekik Maxime.


"Menjauh lah dari Miwa!!" titah Maxime.


"Tidak!!"


"Ar!!" Maxime menarik kerah baju Arsen dengan geram. Arsen sendiri malah menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Kakak ipar ..." panggil Arsen membuat Maxime melebarkan mata.


Maxime mendorong Arsen. "Aku masih cukup sadar untuk tidak memukulmu!!" ucapnya lalu melengos meninggalkan Arsen.


"Kalau kau memukulku, aku pukul balik lah," gumam Arsen menatap kepergian Maxime.


Maxime kembali menghentikan langkahnya kala ponselnya berdering dan itu panggilan video call dari Javier.


Maxime menghela nafas lalu duduk di salah satu kursi mengangkat panggilan dari Ayahnya.


"Ada apa, Dad?"


"Apa kabar Maxi?" tanya Javier.


"Baik ..."


"Begini ... Dad mau membahas soal Arsen dan Miwa."


"Dad sudah tau?" tanya Maxime.


Javier mengangguk. "Dad setuju kalau Miwa dengan Arsen."


Maxime menghembuskan nafas seraya menggelengkan kepala. "Dad---"


"Max, ayolah ... Arsen pria yang baik, adikmu juga. Apa salahnya mereka menikah? kau selalu ingin pria yang baik untuk adikmu bukan? kau ingin pria yang bisa menjaganya ... kalau Arsen menyakiti Miwa kita bisa sepakat untuk membunuhnya sama-sama ..."


"Itu yang aku takutkan Dad!" ucap Maxime penuh penekanan.


"Aku tidak mau bertengkar dengan Arsen!! dia saja tidak mencintai Miwa!!" lanjut Maxime.


"Dia tidak mencintai adikmu karena kau melarangnya!! coba kau bicara baik-baik dan restui keduanya, Dad yakin Arsen bisa mencintai Miwa dengan baik!!"


Maxime mengusap wajahnya kasar. "Akan ku pikirkan nanti!!"


"Oke sayang," sahut Javier menahan senyum nya membuat Maxime berdecak dan mematikan panggilan nya.


Miwa selalu melaporkan apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar mengenai Maxime kepada sang Ayah. Termasuk mendengar pertama kali Maxime memanggil Milan sayang.


Dan Miwa sendiri langsung mengadu meminta pembelaan kepada Javier kala Maxime bertengkar dengan Arsen di lorong tadi.


Bersambung