The Devil's Touch

The Devil's Touch
#115



Hari ini semua kegiatan berjalan seperti biasa, Milan kembali ke sekolah setelah cuti beberapa hari. Milan yang sering kabur-kaburan dulu membuat Maxime harus menyekap gadis itu di mansion nya beberapa hari.


Maxime yang menyembunyikan identitasnya bertahun-tahun, kini sekarang terang-terangan kembali ke perusahaan. Karena permainan Jack, identitas aslinya terbongkar sudah.


Milan sedang menyisir rambutnya di depan cermin sementara Maxime di belakangnya sedang mengancingkan kemeja nya lalu mengambil jas hitam di lemari.


"Nanti kalau jam istirahat jangan banyak makan yang berminyak ya sayang." Maxime berkata seraya memakai jas hitam nya.


"Tidak akan, paling pisang goreng saja," sahut Milan membuat Maxime berbalik seraya tersenyum lalu memeluk gadis itu dari belakang.


"Itu berminyak kucing nakal," ucapnya memeluk Milan dengan gemas.


Milan terkekeh pelan lalu menyimpan kembali sisirnya di meja dan berbalik menatap Maxime.


"Ini salahmu, aku banyak sekali di kasih tugas tambahan karena tidak masuk sekolah." Milan menekuk wajahnya.


Maxime mencubit gemas pipi Milan. "Siapa yang berusaha kabur terus-menerus hm?!"


"Ya tetap saja aku harus mengerjakan semua tugas sekolahku."


"Oke ... oke ... aku akan membantu semua tugasmu," ucap Maxime.


"Kau mau mengerjakan tugas ku?" mata Milan berbinar senang.


Maxime meraup kedua pipi Milan sampai bibir gadis itu sedikit maju. "Aku bilang membantu ... bukan mengerjakan!"


"Yaahhh ..." Milan terlihat kecewa.


Maxime terkekeh pelan. "Sudah, kita sarapan dulu ya."


Pria itu pun menyisir rambutnya sesaat dan Milan mengambil tas nya di atas sofa, memasukan buku-buka di atas meja sisa semalam ia mengerjakan beberapa tugas sekolah yang di kirimkan teman nya Alvin.


Setelah selesai ia mengenakkan tas gendong nya dan berjalan keluar dari kamar tapi Maxime memanggilnya.


"Sayang ..."


Milan berbalik. "Ya?"


"Tujuh puluh," ucap Maxime menaikkan satu alisnya seraya tersenyum tipis.


Milan hanya mengerutkan dahi nya bingung. "Apa?" tanya nya.


"Dari satu sampai seratus, tujuh puluh nilai perasaanmu untukku hm." Maxime berkata seraya berjalan mendekati Milan.


"Ka-kau ... kau menguping?"


"Tidak sayang, hanya kedengaran," sahut Maxime memegang kedua pundak gadis itu.


Maxime menunduk perlahan agar wajahnya sejajar dengan wajah Milan.


"Tinggal tiga puluh lagi untuk sampai ke angka seratus. Dalam satu minggu aku pasti akan mendapatkan nya," lirih Maxime di depan wajah Milan.


Milan langsung memalingkan wajahnya seraya menggosok hidungnya pelan menyembunyikan rasa malu nya.


Maxime kembali berdiri tegak seraya menggulum senyum di wajahnya, sedetik kemudian pria itu mengecup bibir Milan lalu menarik tangan gadis itu. "Kita sarapan sayang ..."


*


Di meja makan seperti biasa sudah ada Tessa, Miwa, Arsen dan Ara.


"Pagi ..." sapa Maxime kepada mereka.


"Pagi," sahut mereka semua. Mata Tessa langsung mendapati tangan Maxime dan Milan yang saling mengenggam menuju meja makan. Perempuan itu berdehem sejenak lalu mengambil segelas susu dan meminumnya.


Seperti biasa Maxime akan menarik kursi mempersilahkan Milan duduk terlebih dahulu lalu pria itu duduk di sampingnya. Maxime melihat Tessa yang masih saja makan roti.


"Setidaknya jangan hanya satu saja roti yang kau makan, Tessa. Kau bukan diet tapi menyiksa tubuhmu." Maxime berkata seraya mengambil roti baru dan menyimpan nya di piring Tessa.


Tessa mendongak seraya tersenyum. "Makasih kak."


Maxime menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman tipis di wajahnya.


"Kau mau makan apa sayang?"


"Omlet dan dada ayam," sahut Milan dan Maxime mengambilkan nya untuk Milan.


"Salad ya?" Maxime menawari Milan yang jarang makan salad.


"Sedikit saja," sahut Milan.


"Oke." Maxime mengambil semangkuk salad dan menyimpan nya di depan Milan. Tessa hanya bisa menatap perhatian Maxime yang begitu manis kepada Milan.


Sementara Miwa berbisik kepada Arsen yang duduk di sampingnya.


"Kak Ar, mau tambah ayam." Miwa iri dengan Milan yang di perhatikan oleh kakak nya, ia juga ingin mendapatkan perhatian yang sama dari Arsen.


Arsen menghela nafas dan tangan nya mengambil paha ayam di piring, Miwa menggulum senyum senang tapi ternyata paha ayam itu malah di simpan di piring milik Arsen sendiri bukan Miwa.


Miwa menghela nafas kasar. "Jangan begitu kak, nanti aku balas dengan obat perangs*ng baru tau rasa!"


Arsen berdecak menatap Miwa lalu mengambil paha ayam miliknya dan menyimpan nya di piring Miwa.


"Silahkan nona ... makan yang banyak," ucap Arsen yang membuat Miwa tersenyum lebar. Ini kali pertama Miwa di panggil Nona, bukan Miw-Miw lagi.


Miwa akan menganggap panggilan Nona adalah panggilan sayang dari Arsen kalau begitu.


Maxime berdehem kencang membuat Arsen dan Miwa sontak menoleh ke arahnya. Tessa, Milan dan Ara yang tidak tahu apa-apa hanya terlihat bingung seraya menatap bergantian Maxime, Arsen dan Miwa.


#Bersambung